OlahragaPSMS Medan

Kisah Sukses Kapten Legendaris PSMS Medan, Sunardi B

Kisah Sukses Kapten Legendaris PSMS Medan, Sunardi B
Kapten PSMS Sunardi B mengangkat Piala Presiden setelah PSMS menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 1984/1985 setelah di Final menaklukkan Persib melalui adu penalti.
Kecil Besar
14px

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Sosok legenda PSMS Medan ini tidak bisa dipisahkan jika kita berbicara kejayaan PSMS Medan di belantika persepakbolaan Indonesia dan Internasional pada masa lalu. Seperti halnya sebagian besar legenda PSMS di masa lalu, Sunardi B juga adalah sosok pemain yang lahir dan mengenal sepakbola di daerah perkebunan.

Sunardi B lahir di Simalungun 17 Januari 1952. Dirinya mulai mengenal sepakbola di daerah tempat tinggalnya yang merupakan daerah perkebunan di Simalungun. Sunardi B mengawali karirnya di PSS Simalungun pada 1969 di bawah asuhan kepelatihan Abdul Kholid Siregar.Pada 1971 sempat pindah ke Persesi Pematang Siantar lalu kemudian pindah kembali ke PSS Simalungun.

Kapten PSMS Medan Sunardi B/Sun Srp menerima Piala Presiden dari Menpora Abdul Ghafur seusai membawa PSMS Medan menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 setelah menaklukkan Persib 3-2 dalam drama adu penalti setelah dalam babak normal dan perpanjangan waktu imbang 0-0.

Permainan apiknya sebagai gelandang sayap maupun sebagai gelandang serang membuat PSS Simalungun menjadi salah satu kekuatan sepakbola Sumut selain PSMS Medan tentunya. Permainan menawan yang diperlihatkannya ketika itu membuat dirinya direkrut oleh tokoh sepakbola Sumut dan Indonesia Kamaruddin Panggabean untuk mempekuat PSSI Wilayah I yang akan berlaga di Kejuaraan Antar Wilayah PSSI pada 1974.

Walau PSSI Wilayah I didominasi oleh pemain pemain bintang PSMS dan Timnas seperti Yuswardi, Nobon, Tumsila, Anwar Ujang, Wibisono, Zulkarnaen Pasaribu, Parlin Siagian, Sarman Panggabean dsb tidak membuat Sunardi B minder tapi malah termotivasi untuk bisa mengimbangi dan menyatu dengan permainan mereka. Akhirnya kolaborasi mereka sukses mengantarkan PSSI Wilayah I menjadi Juara Turnamen Antar Wilayah PSSI pada 1974 dan mewakili Indonesia di turnamen President Cup di Seoul dimana akhirnya PSSI Wilayah I menjadi Runner Up usai kalah dari tuan rumah Korea Selatan yang waktu itu diperkuat bintang legendarisnya Cha Bum Keun.

Sunardi B juga turut memperkuat PSSI Wilayah I yang didominasi pemain – pemain PSMS Medan ketika bertanding melawan Ajax Amsterdam pada 7 Juni 1975 di stadion Teladan Medan dan pada saat itu PSSI Wilayah I sukses mengalahkan Ajax 4-2. Seusai pertandingan tersebut akhirnya pengagum Legenda Ajax.Barcelona dan Timnas Belanda Johan Cruyff ini pindah ke PSMS Medan dan bernaung di klub anggota PSMS yaitu Bintang Utara atas rekomendasi dari Ketua Umum PSMS waktu itu Wahab Abdi Simatupang dan tokoh sepakbola Sumut Ompung Kamaruddin Panggabean.

Di PSMS Medan kemampuannya terus berkembang hingga dirinya menjadi sosok kunci di lini tengah PSMS Medan. Dirinya bukan hanya piawai bermain di lini tengah tapi juga mampu mencetak gol untuk timnya.Pada 1978 Sunardi B sukses menghantarkan PSMS menjadi Runner Up Marah Halim Cup dan Sunardi B sendiri terpilih menjadi pemain terbaik.

Ikhwal nama B yang ditambahkan pada namanya bermula ketika di PSMS muncul sosok stopper yang bernama sama dengannya. Oleh karena dalam setiap pertandingan nama pemain belakang lebih dulu disebut maka oleh pengurus PSMS sang stopper disebut Sunardi A dan dirinya sendiri disebut Sunardi B. Dan akhirnya baik Sunardi A maupun Sunardi B menjadi ikon PSMS pada era 1980-an.

Bintang PSMS Medan Sunardi B ketika terpilih sebagai Pemain Terbaik Piala Marah Halim 1978

Pada 1979 Sunardi B sukses membawa PSMS Medan menjadi Runner Up Kejurnas PSSI 1979 dan membawa PSMS menjadi Juara Tugu Muda Cup 1979. Pada 1981 Sunardi B juga sukses membawa Tim PON Sumut meraih Medali Perak usai kalah adu penalti melawan Lampung.
Pada 1983 menjelang Marah Halim Cup Sunardi B sempat sakit dan nyaris tidak bisa tampil. Namun berkat perawatan yang intensif yang dilakukan oleh dr. Marah Ganti Siregar akhirnya Sunardi B kembali sehat dan bisa berlaga.

Kehadirannya di PSMS sebagai Kapten Tim sukses membawa PSMS tampil mantap dan sukses mengalahkan Irak di Semifinal.Sayang di Final PSMS tampil antiklimaks hingga akhirnya hanya menjadi Runner Up setelah takluk 1-3 dari Korea Selatan.

Keberhasilan ini akhirnya menjadi modal positif bagi PSMS untuk berlaga di putaran Final Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983..Di partai akhir putaran Final kondisi sang kapten Zulham Effendi Harahap kurang fit hingga akhirnya PSMS memanggil 2 bintang mudanya yang memperkuat PSSI Garuda yaitu Marzuki Nyakmad dan Azhari Rangkuti.

Marzuki Nyakmad dan Azhari Rangkuti sempat kikuk berbaur dengan para pemain PSMS karena tidak tampil sejak penyisihan. Namun Sunardi B dan beberapa pemain senior mampu mencairkan suasana hingga keduanya tidak kikuk dan berbaur dengan tim. Kondisi ini membuat suasana kondusif di PSMS tetap terjaga.

Pada partai akhir melawan Persebaya Zulham Effendi Harahap hanya tampil 25 menit dan kemudian diganti oleh Marzuki Nyakmad dan ban kapten beralih ke Sunardi B hingga akhirnya PSMS menang 1-0 dan lolos ke Final.

PSMS MEDAN DI FINAL DIVISI UTAMA PERSERIKATAN PSSI 1983
Berdiri ki-ka : Sunardi B (cpt), Sunardi A, Ponirin Meka, Marzuki Nyakmad, Ahmad, M.Nurdin.
Jongkok ki-ka : Musimin, Suherman, Sakum Nugroho, Hadi Sakiman, Hamdardi.

Di Final Zulham Effendi Harahap tidak bisa tampil akibat kondisi fisiknya yang tidak fit. Sunardi B kembali dipercaya menjadi Kapten dan sukses memimpin rekan rekannya mengalahkan Persib 3-2 lewat adu penalti setelah bermain imbang 0-0 dalam waktu normal dan perpanjangan waktu.

Sunardi B sendiri sukses menjebol gawang Sobur bersama Sunardi A dan Suherman dalam drama adu penalti tersebut. PSMS akhirnya sukses meraih gelar ke-5 di Divisi Utama Perserikatan PSSI dan membuat PSMS mewakili Indonesia di Merlion Cup 1983 yang digelar di Singapura.

Sejak itu ban kapten PSMS selalu melekat dalam diri Sunardi B.Pada Divisi Utama Perserikatan PSSI 1984/1985 Parlin Siagian yang menjadi Pelatih Kepala menunjuk Sunardi B sang kapten tim untuk merangkap menjadi asisten pelatih. Dan tugas sebagai kapten tim sekaligus asisten pelatih ini juga mampu dijalankannya dengan baik hingga akhirnya sukses membawa PSMS lolos ke Final dan berlaga kembali dengan Persib.

Dalam Final yang ditonton 150.000 penonton di Stadion Utama Senayan Jakarta waktu itu PSMS sukses menjadi Juara setelah mengalahkan Persib 2-1 dalam adu penalti setelah dalam babak normal dan perpanjangan waktu bermain imbang 2-2 walau dalam adu penalti ini Sunardi B gagal membobol gawang Sobur.

Kesuksesan ini membuat Sunardi B mencatat sejarah sebagai Kapten PSMS pertama yang membawa PSMS Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI secara berturut – turut pada 1983 dan 1985.

PSMS Medan 1985 (Juara Div.Utama Perserikatan PSSI 1985)
Susunan pemain PSMS dr Kiri ke Kanan :
Berdiri : Mamek Sudiono, Musimin, Hadi Sakiman, Ponirin Meka, Hamdardi, Sunardi B (cpt)
Jongkok : Nirwanto, Sunardi A, Suheri, Amrustian, Sakum Nugroho
.

Seusai Final ini Sunardi B memutuskan “gantung sepatu” sebagai pemain sepakbola dan fokus di pekerjaannya di PTP sambil menjadi pelatih. Walau demikian pada kompetisi antarklub PSMS Sunardi B kerap masih berkecimpung membela Bintang Utara hingga 1990 walau tidak seintens sebelumnya.

Pada PON 1989 Sunardi B menjadi asisten pelatih Tim PON Sumut mendampingi sahabatnya Nobon sebagai Pelatih dan ternyata kolaborasi keduanya sukses membawa Tim PON Sumut meraih Medali Emas setelah di Final mengalahkan Jawa Timur 2-1.

Pada putaran kedua Divisi Utama Perserikatan PSSI 1989/1990 Sunardi B ditunjuk menjadi pelatih PSMS berduet dengan Suryanto Herman menggantikan Parlin Siagian yang mundur usai hasil buruk PSMS pada putaran pertama. Tangan dinginnya yang didukung Ompung Kamaruddin Panggabean sebagai penasehat teknis sukses membawa PSMS lolos ke babak 6 Besar.

Sayang akhirnya PSMS tampil anti klimaks hingga akhirnya terhenti di babak 6 Besar. Sunardi B juga ikut mendampingi Nobon ketika melatih Tim Sumut pada PON 1993 yang untuk pertama kali menggunakan format U-23. Namun langkah Sumut di PON 1993 ini terhenti di penyisihan grup usai dinyatakan kalah WO secara kontroversial pada pertandingan ulang melawan Jawa Barat setelah sebelumnya terjadi kerusuhan dan kontroversi ketika melawan Jawa Barat sehari sebelumnya.

Seusai pensiun dari PTP Sunardi B kembali ke kampung halamannya di Simalungun. Walau begitu sesekali Sunardi B masih datang ke Medan berkumpul bersama rekan – rekannya sesama Mantan Pemain PSMS Medan.

Penulis bersama Sunardi B tahun 2019

Dan hari ini 17 Januari 2026 Sunardi B genap berusia 74 tahun. Namanya akan tetap dikenang sebagai Legenda PSMS Medan atas kiprahnya yang penuh prestasi bersama PSMS Medan. Walau demikian dalam beberapa kesempatan Sunardi B kerap mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi PSMS yang hingga saat ini masih berada di luar kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Termasuk yang membuat Sunardi B sedih adalah hilangnya jejak kejayaan PSMS di masa lalu. Banyak trofi, piala dan foto – foto kejayaan PSMS masa lalu yang kini tidak diketahui keberadaannya. Padahal itu adalah bagian penting perjuangan PSMS dalam meraih kejayaannya di sepakbola Indonesia dan Internasional. Begitu juga dengan terhentinya kompetisi antarklub PSMS. Padahal dahulu bintang – bintang PSMS lahir dari ketatnya kompetisi antarklub PSMS tersebut.

Besar harapannya PSMS yang begitu dicintainya ini akan kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia dan kembali mengukir prestasi indah di pentas sepakbola Indonesia. WASPADA.id

Penulis adalah pemerhati olahraga

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE