OpiniPSMS Medan

Mengenang Legenda PSMS Medan Dan Timnas Indonesia Sarman Panggabean

Mengenang Legenda PSMS Medan Dan Timnas Indonesia Sarman Panggabean
Sarman Panggabean ketika di PSMS
Kecil Besar
14px

Oleh : Indra Efendi Rangkuti

Sarman Panggabean kelahiran Pematang Siantar 7 Maret 1947 adalah bintang Legendaris PSMS dan Timnas Indonesia. Kehebatan Sarman Panggabean yang dikenal dengam gaya bermainnya yang ulet dan keras ini bukan hanya sebagai pemain tetapi juga sebagai pelatih. Karena karakter permainannya yang keras dan tanpa kompromi ini tokoh sepakbola Sumut dan Indonesia Kamaruddin Panggabean menjuluki Sarman Panggabean dengan “Tukang Dogo – Dogo”.

Sarman yang sejak kecil sudah ikut pindah ke Medan bersama orang tuanya merasa beruntung karena tinggal di dekat Stadion Teladan, Medan yang merupakan kandang PSMS Medan dan tempat para pemain PSMS Medan waktu itu menjalani pemusatan latihan.Kerap kali melihat aksi bintang – bintang hebat PSMS masa itu seperti Saari, Azis Tanjung, Saiban, Matseh, Eddy Simon dan lain – lain membuat Sarman memiliki obsesi menjadi pemain sepakbola sejak duduk di bangku SD.

Bermula hanya sebagai penghuni tribun stadion,Sarman ‘naik pangkat’ menjadi bocah pemungut bola setiap klub kebanggaan kota asalnya, PSMS Medan menggelar latihan.Dan tak jarang karena dikenal oleh bintang – bintang PSMS masa itu Sarman juga kerap hadir menonton PSMS kala bertanding di Teladan bersama rombongan pemain PSMS Medan.

Melihat potensi yang ada pada dirinya kemudian Sarman Panggabean diajak bergabung dengan klub anggota PSMS Srinaga. Di klub Srinaga inilah bakatnya ditempa hingga akhirnya dipanggil memperkuat PSMS Junior di Piala Suratin 1967. Kemudian bakatnya kian berkembang ketika bergabung dengan klub anggota PSMS lainnya Medan Putra seusai dirinya tampil membela PSMS Senior di Kejurnas PSSI 1967.

Tercatat pada 1967, Sarman Panggabean mulai bergabung dengan PSMS Junior.Dan bersama tim PSMS Jr yang waktu itu dilatih oleh Legenda PSMS dan Timnas Ramli Yatim Sarman Panggabean bersama rekan – rekan setimnya seperti Ronny Pasla,Tumsila,Nobon,Chaliq Mazlan,Seng Tjong,Alfaris Siwabessy dll sukses membawa PSMS Medan menjadi Juara Piala Suratin 1967.Inilah kali pertama PSMS sukses meraih Juara di Piala Suratin.

PSMS MEDAN DI PUTARAN FINAL KEJURNAS PSSI 1967
Berdiri Kika : Yuswardi, Muslim, Sukiman, Ronny Pasla, Sunarto,Sarman Panggabean.
Jongkok Kika : Azis Siregar,Chaliq Mazlan, Achmadsyah “Ipong” Silalahi, Syamsuddin Panjaitan, A Rahim.

Kesuksesan membawa PSMS Jr menjadi Juara Piala Suratin ini membuat Sarman Panggabean bersama rekan setimnya Ronny Pasla,Chaliq Mazlan dan Tumsila dipromosikan untuk memperkuat PSMS Sr yang akan berlaga di putaran Final Kejurans/Div.Utama Perserikatan 1967.Kebetulan waktu itu PSMS dilatih oleh Legenda PSMS Yusuf Siregar didampingi pelatih PSMS Jr Ramli Yatim.

Pada saat itu sejumlah bintang menghuni PSMS seperti Yuswardi, Zulham Yahya, Sukiman, Ipong Silalahi, Muslim, A.Rahim, Syamsuddin, Sunarto, Azis Siregar, Zulkarnaen Pasaribu dan Djamal.Perpaduan para pemain senior ini dengan pemain muda saat itu Ronny Pasla, Tumsila, Sarman Panggabean, dan Chaliq Mazlan membuat PSMS menjadi skuad yang solid dan tangguh.Ronny Pasla,Sarman Panggabean,Tumsila dan Chaliq Mazlan tidak canggung bermain bersama para senior mereka tersebut.

Dan di tim ini Sarman Panggabean kerap mendapat kepercayaan menjadi pemain inti selain sang kiper Ronny Pasla.Dan dengan skuad yang mumpuni ini PSMS akhirnya sukses menjadi Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI untuk pertama kalinya pada 1967 ini setelah di Final menaklukkan Persib 2-0 lewat gol yang dicetak oleh A.Rahim dan Zulkarnaen Pasaribu.

Kesuksesan Sarman Pangabean bersama PSMS terus berlanjut ketika PSMS yang ditunjuk mewakili Indonesia Di Agha Khan Gold Cup 1967 di Pakistan sukses menjadi Juara setelah di Final menaklukkan Mohammaden 2-0.

Kegemilangan PSMS Medan sepanjang tahun 1967 membuat para pemainnya mulai dilirik oleh Timnas. Sebelumnya dari skuad 1967 hanya Ipong Silalahi yang kerap dipanggil. Namun pada saat Timnas dipersiapkan menghadapi Kings Cup 1968 di Bangkok pilar – pilar utama PSMS Medan dipanggil oleh pelatih Endang Witarsa untuk memperkuat Timnas seperti Ipong Silalahi, Yuswardi, Sunarto, Ronny Pasla, Zulham Yahya, Tumsila dan Sarman Panggabean.Sebelumnya hanya Ipong Silalahi yang kerap dipanggil Timnas. Dan pada akhirnya Timnas sukses menjadi Juara di Kings Cup 1968 setelah di Final mengalahkan Birma (Myanmar) 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Soetjipto Soentoro.

Seusai Kings Cup 1968 para bintang – bintang utama Timnas seperti Soetjipto Soentoro, Anwar Ujang, Iswadi Idris, Yudo Hadianto, Mulyadi, Sinyo Aliandoe, Abdul Kadir, Jacob Sihasale, Max Timisela dan M.Basri bergabung dengan Pardedetex yang pada waktu itu bernaung dalam klub anggota PSMS.Dan pada saat itu Pardedetex juga diperkuat 3  bintang PSMS Medan yaitu Sarman Panggabean, Sunarto dan Azis Siregar.

Bergabungnya para bintang – bintang Timnas ini ke Pardedetex membuat para bintang Timnas ini memperkuat PSMS di Kejurnas PSSI 1969. Skuad Pardedetex ini memperkuat PSMS ditambah dan didukung oleh anak Medan Non Pardedetex antara lain, Ronny Pasla,Yuswardi, Tumsila, Zulham Yahya, Ipong Silalahi dan Syamsuddin. Dan Sarman Panggabean termasuk salah satu anak Medan yang menjadi pilihan utama skuad PSMS yang dilatih oleh Ramli Yatim dan E.A Mangindaan ini. Akhirnya PSMS pun sukses menjadi Juara Kejurnas/Div.Utama Perserikatan PSSI 1969. Pada Kejurnas PSSI 1969 ini PSMS mencatat rekor gol yang mengerikan dalam putaran Final yang diikuti oleh 7 tim yaitu memasukkan 29 gol dan hanya kemasukan 2 gol serta tak terkalahkan.

PSMS MEDAN 1969
Ki-Ka : Iswadi Idris,Abdul Kadir,Achmadsyah “Ipong” Silalahi,Anwar Ujang,Sunarto,Sarman Panggabean,Jacob Sihasale,Yuswardi,M.Basri,Yudo Hadianto dan Soetjipto Soentoro (Cpt)

Pada bulan September 1969 skuad PSMS yang sukses menjadi Juara Kejurnas PSSI ini membela panji Sumatera Utara (Sumut) di PON VII yang berlangsung di Surabaya. Dalam PON ini skuad Sumut yang diasuh Ramli Yatim dan EA Mangindaan ini sukses tampil gemilang dan membawa Sumut Meraih Medali Emas setelah dalam Final yang diwarnai baku hantam antar pemain mengalahkan DKI Jakarta 2-1 lewat gol yang dicetak oleh Iswadi Idris dan Soetjipto Soentoro. Ini merupakan Medali Emas ketiga bagi Sumut di cabang sepakbola PON setelah sebelumnya sukses meraih Emas pada PON 1953 dan 1957.

Pada 1970 PSMS menjadi wakil Indonesia pertama yang tampil di AFC Champions Cup yang berlangsung di Teheran Iran pada 1-10 April 1970. Dari hasil seleksi terpilih skuad dari Pardedetex yaitu Soetjpto Soentoro, Judo Hadianto, M.Basri, Anwar Ujang, Mulyadi, M.Basri, Jacob Sihasale, Abdul Kadir, Max Timisela, Sinyo Aliandoe, Sarman Panggabean, Sunarto dan Azis Siregar. Skuad ini ditambah dengan bintang PSMS non Pardedetex antara lain Ronny Pasla, Yuswardi, Tumsila, Nobon dan Syamsuddin. Inilah skuad yang berangkat ke Iran untuk mewakili PSMS pada ajang tersebut.

Dan pada turnamen ini Sarman Panggabean dipercaya untuk masuk menjadi skuad inti yang diturunkan duet pelatih E.A Mangindaan dan Ramli Yatim. Di AFC Champions Cup 1970 ini PSMS sukses lolos ke Semifinal.

Pada awalnya Sarman Panggabean adalah seorang penyerang Namun di tengah perjalanan, sang pelatih memintanya berganti posisi dan tak tanggung-tanggung, dia harus memainkan peran sebagai stopper atau pemain belakang.Walaupun sempat merasa heran namun Sarman mengikuti perintah tersebut.

Sama halnya seperti di PSMS, Sarman ditempatkan menjadi stopper ketika dipanggil Timnas. Karena keinginan kuat menjadi penyerang, dia dianggap pembangkang oleh pelatih dan akhirnya membuat dirinya sempat dicadangkan selama beberapa waktu lamanya.Kenangan yang diingatnya adalah dia pernah dimarahi oleh pelatih karena mencetak gol saat melawan Australia pada 1972.Pada waktu itu seorang bek atau stopper di Indonesia masih dianggap tabu jika ikut menyerang.

Hasrat Sarman menjadi seorang penyerang perlahan mulai terwujud. Pada 1971, dirinya meminta pada pelatih PSMS untuk menempati posisi gelandang. Alhasil, dengan peran barunya ini Sarman sukses mengantarkan PSMS menjadi Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1971.Dan sejak di penyisihan hingga putaran Final Sarman kerap mencetak gol untuk kemenangan PSMS Medan.Kesuksesan PSMS menjadi Juara Kejurnas PSSI 1971 ini membuat PSMS Medan menjadi tim pertama sesudah Indonesia Merdeka yang menjadi Juara Kejurnas PSSI 3 kali berturut – turut setelah sebelumnya sukses menjadi Juara pada 1967 dan 1969.

Pada tanggal 1 – 9 Agustus 1972 Timnas Indonesia tampil di turnamen Sukan Anniversary Cup di Singapura.Di turnamen ini Indonesia mengirimkan 2 tim yaitu Indonesia A dan Indonesia B.Libero PSMS Anwar Ujang dipercaya oleh pelatih Endang Witarsa menjadi Kapten Indonesia A dan rekan setimnya di PSMS Sarman Panggabean dipercaya oleh pelatih E.A Mangindaan  menjadi Kapten Indonesia B.

Sarman Panggabean sukses memimpin rekan – rekannya waktu itu maju ke Final setelah di penyisihan grup B menaklukkan Malaysia B,Hongkong dan Thailand.Di Final Sarman Panggabean dkk berhadapan dengan Indonesia A.Dan Tim Indonesia B yang dikapteni Sarman Panggabean dan waktu itu dihuni banyak bintang muda seperti Wibisono, Rusdy Bahalwan, Tumsila, Andi Lala, Risnandar dll sukses memberi perlawanan ketat kepada Indonesia A walau akhirnya kalah 1-2.

2 Bintang PSMS Yuswardi dan Sarman Panggabean bersama pelatih PSMS Zulkarnaen Nasution dan Tokoh Sepakbola Sumut Kamaruddin Panggabean

Pada 1974 Sarman Panggabean menjadi bagian dari skuad PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90% pemain PSMS yang bertanding di Kejuaraan Antar Regional/Wilayah PSSI.Di turnamen ini Sarman Panggabean dkk sukses menjadi Juara setelah di Final menaklukkan PSSI Wilayah III yang bermaterikan 90% pemain Persebaya 3-2.

Pada tahun 1975 Sarman Panggabean juga menjadi bagian dari skuad PSMS yang menjadi Juara Bersama di Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1975 bersama Persija. Pertandingan ini terhenti akibat terjadinya perkelahian antara pemain PSMS dan Persija. Sarman Panggabean sendiri turut menjadi pelaku dalam insiden yang berawal dari ketidaktegasan wasit yang memimpin partai final saat itu.Saat itu Sarman Panggabean tidak dapat menahan emosinya melihat Nobon terluka dan terkapar setelah terkena pukulan bintang Persija Iswadi Idris Akhirnya PSMS dan Persija dinobatkan sebagai Juara Bersama di Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1975.

Pada 1975 ini pula Sarman Panggabean turut menjadi bagian dari PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90% pemain PSMS menghadapi pertandingan besar melawan Juara Champions Cup 1971.1972 dan 1973 yang merupakan salah satu klub besar Eropa Ajax Amsterdam di Stadion Teladan Medan pada 7 Juni 1975.Pada pertandingan ini PSSI Wilayah I sukses menaklukkan Ajax 4-2 dan Sarman Panggabean mempersembahkan 2 gol bagi kemenangan PSSI Wilayah I (PSMS Plus).Sungguh ini merupakan momen kebanggaan mengingat skuad Ajax pada waktu itu merupakan skuad inti Timnas Belanda di Piala Dunia 1974 minus Johan Cruyff dan Johan Neeskens yang sudah pindah ke Barcelona.

Pada tahun 1977 Sarman terpaksa sejenak meninggalkan sepakbola dan harus menjalani masa kepegawaian di Bank Bumi Daya dimana waktu itu beberapa pemain Timnas atas instruksi Presiden Soeharto dikaryakan di BUMN.Namun hanya setahun vakum, Sarman kembali ke dunia sepakbola hingga mengakhiri karier sebagai pemain pada 1979.

Selama karirnya sebagai pemain selain gelar di Kejurnas PSSI,Sarman Panggabean juga turut membawa PSMS Medan menjadi Juara Marah Halim Cup 1972 dan 1973,Juara Soeharto Cup 1972 dan Juara Jusuf Cup 1974.

Sarman Panggabean (kiri) ketika menjadi Kapten PSMS Medan di Final Piala Marah Halim 1973 melawan Persija. PSMS menjadi Juara setelah menaklukkan Persija 1-0 lewat gol Sarman Panggabean

Ada hal yang unik tentang perjalanam karir Sarman Panggabean di dunia sepakbola.Semasa menjadi pemain banyak yang salah mengira Sarman Panggabean sebagai sosok yang bukan suku Batak. Di awal karirnya memang namanya kerap ditulis Sarman tanpa embel – embel marga.

Ketika skuad PSMS Jr yang baru saja menjuarai Piala Suratin 1967 dijamu oleh Jenderal (Pol) Hoegeng,Sarman sempat dikira orang Jawa karena saat itu nama Sarman umunya banyak dipakai pria etnis Jawa.Hoegeng yang pernah lama bertugas di Sumut ini nenyapa Sarman dengan bahasa Jawa.Sarman hanya tersipu dan sambil tertawa kecil menjawab dengan “Inggih Pak” yang disambut tawa seluruh tim.

Demikian pula ketika PSMS menjuarai Kejurnas PSSI 1967,skuad PSMS dijamu oleh Kapolri Jenderal (Pol) Soetjipto Joedodihardjo.Sarman kembali dikira bersuku Jawa dan disapa Kapolri dengan bahasa Jawa yang kembali dijawab Sarman dengam senyum tersipu malu.

Begitu juga ketika bertemu dengan warga keturunan Tionghoa dirinya dikira orang Tionghoa karena parasnya sekilas mirip orang Tionghoa.Namun itu membuat Sarman Panggabean merasa bangga karena dirinya dikagumi oleh masyarakat dari berbagai suku bangsa.

Bersama para mantan punggawa Timnas, Sarman menjalani pendidikan kepelatihan pada 1981. Karena menjadi lulusan terbaik, dia diminta Ketua Umum PSSI kala itu, Kardono, untuk menangani timnas sebagai asisten pelatih di Asian Games 1986 dan SEA Games 1987 mendampingi pelatih kepala Bertje Matulapelwa.

Sarman Panggabean membayar lunas kepercayaan ketua umum dengan mempersembahkan Medali Emas pertama di sepakbola untuk Indonesia di SEA Games,saat Indonesia menjadi tuan rumah pada 1987 silam dan membawa timnas Indonesia menduduki posisi IV pada Asian Games 1986 di Seoul. Tim pelatih Bertje Matulapelwa, Sarman Panggabean dan Sutan Harhara ini dianggap sebagai salah satu tim pelatih terbaik di Timnas Indonesia berkat sukses di Asian Games 1986 dan SEA Games 1987 ini.

Sarman Panggabean juga turut mendampingi Bertje Matulapelwa sebagai pelatih ketika Indonesia menjadi Juara Piala Kemerdekaan 1987 dan pada 1987 ini pula di bawah asuhan Bertje dan Sarman Timnas Indonesia menahan imbang Juara Liga Belanda PSV Eindhoeven yang waktu itu diperkuat Ruud Gullit,Ronald Koeman,Eric Gerets dan Hans Van Breukelen dengan skor 3-3 dalam pertandingan ujicoba di Stadion Utama Senayan Jakarta.

Pelatih Bertje Matulapelwa bersama asisten pelatih Sarman Panggabean mengawasi latihan Timnas Asian Games 1986

Setelah meletakkan jabatan pelatih timnas pada 1988, Sarman melanjutkan kiprah menjadi pengurus PSSI sebagai Ketua Bidang Remaja dan Ketua Bidang Evaluasi Pelatih, di masa kepemimpinan Ketua Umum Kardono hingga Azwar Anas. Sayang akibat tidak cocok dengan beberapa pengurus PSSI masa itu,Sarman mundur dari jabatannya.

Namun, kepedulian Sarman pada sepakbola Tanah Air tak berhenti sampai di situ. Bersama eks punggawa timnas, dia mendirikan Perhimpunan Pemain Sepakbola Nasional (PPSN) pada 2009, dan menjabat sebagai ketua.Sarman juga sering diminta oleh beberapa media cetak untuk membuat analisis pertandingan baik itu ketika Timnas bertanding, kompetisi antar klub Eropa dan turnamen bergengsi seperti Piala Dunia dan Piala Eropa.

Dan ketika sudah memasuki masa purna tugas dari Bank Bumi Daya,Sarman Panggabean lebih banyak bermukim di Medan dan kerap berkumpul bersama rekan – rekannya sesama Mantan PSMS Medan.

Dan akhirnya pada 13 Januari 2020 Sang Legenda PSMS dan Timnas ini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul 17.48 WIB di kediamannya Jl.Jati No.103 Medan yang lokasinya tidak jauh dari stadion Teladan Medan.

Para mantan pemain PSMS Medan baik yang seangkatan dengan dirinya maupun para juniornya beserta insan sepakbola Sumut turut hadir melepas melayat ke rumah duka dan melepas keberangkatan jenazahnya menuju pemakaman.

Selamat jalan Bang Sarman Panggabean. Kenangan prestasimu bersama PSMS Medan akan tetap hidup di hati kami para pecinta PSMS Medan. WASPADA.id

Penulis adalah pemerhati olahraga

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE