Sumut

Asa Baru Petani Samosir: Mengalirkan Air Danau Toba Dengan Tenaga Surya

Asa Baru Petani Samosir: Mengalirkan Air Danau Toba Dengan Tenaga Surya
Pembangunan PATS di Desa Sibonor Ompu Ratus, Kec. Nainggolan, Kab. Samosir direncanakan rampung 20 April 2026.Waspada.id/Surya Efendi
Kecil Besar
14px

Wartawan Waspada.id berkesempatan mengunjungi Desa Sibonor Ompu Ratus, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara pada 10-12 Maret 2026, melihat sistem irigasi modern ramah lingkungan yang sedang dibangun.

Di desa yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari hasil pertanian itu, tidak ditemukan sistem irigasi yang cukup dan memadai. Masyarakat petani hanya mengharapkan curah hujan untuk mengairi sawahnya. Jika musim kemarau datang, sudah tentu gagal panen.

Kekeringan lahan persawahan ditemui dan diperlihatkan warga saat kunjungan Waspada tersebut. Namun, harapan masyarakat setempat ke depannya muncul saat mulai dibangunnya pompa air yang memanfaatkan air Danau Toba untuk mengairi sawah-sawah mereka.

Kekeringan lahan persawahan ditemui dan diperlihatkan warga saat kunjungan tim Waspada.id.Waspada.id/Surya Efendi

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir menggandeng Oxford Policy Management Limited (OPML) melalui program Low Carbon Development Indonesia 2 (LCDI-2), Bappenas RI, dan Foreign, Commonwealth & Development Office (UK-FCDO) membangun Pompa Air Tenaga Surya (PATS) untuk mengatasi masalah klasik petani tersebut. Kehadiran PATS nantinya akan membawa harapan baru bagi mereka.

Diketahui, pembangunan PATS di Desa Sibonor Ompu Ratus ini menelan biaya Rp4,7 miliar yang merupakan hibah dari Pemerintah Inggris melalui UK-FCDO.

PATS untuk mengairi sawah tersebut memang sedang dibangun dan direncanakan rampung serta mulai dioperasikan akhir April 2026.

‘’Proyek PATS yang mulai dibangun pertengahan Januari 2026 kemarin, direncanakan rampung pada 20 April 2026. Kita optimis kehadiran PATS nantinya akan membawa harapan baru bagi masyarakat petani di desa ini, hasil padi meningkat dan tidak khawatir akan musim kering,’’ ujar Pelaksana Lapangan Pembangunan PATS, Khairul Amri Harahap dan teknisi Alpon Sirait, ditemui Waspada di lokasi.

Alpon menjelaskan manfaat PATS ini untuk menyediakan akses air yang stabil, menekan biaya operasional, dan mendukung pertanian berkelanjutan di wilayah tersebut. ‘’Ini tentunya akan meningkatkan ketahanan pangan melalui pemanfaatan energi terbarukan,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, Alpon menyebut bahwa kapasistas panel surya di pompa air ini nantinya sebesar 69 kWp dengan debit pompa rata-rata 1.000 m3 per hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian dan kebutuhan domestik warga desa setempat hingga desa tetangga.

Memang, sambung Khairul Amri Harahap, pembangunan satu unit PATS tersebut menelan biaya yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp4,7 miliar. ‘’Tapi yang jelas, operasional hariannya untuk debit air yang sama untuk pompa diesel kita butuh 15 liter per hari per jam. Kalau operasional harian Pompa Air Tenaga Surya ini nol rupiah,’’ ucapnya.

Dia menambahkan PATS dibangun sedemikian rupa dan telah diuji teknisi jika air Danau Toba naik atau surut. ‘’Panel surya dibangun tebih tinggi dari permukaan yang bebas banjir dan pipa di dermaga jettynya telah diatur tidak sampai ke dasar danau karena dikhawatirkan bisa menyedot tanah dasar danau atau merusak ekosistem,’’ jelasnya.

Sementara, Kepala Desa (Kades) Sibonor Ompu Ratus, Binsar Marbun menyebut, pompa ini nantinya akan dioperasikan oleh dua hingga tiga operator yang bertugas mendistribusikan air dari Danau Toba ke lahan sawah-sawah warga yang terbentang di atas lahan seluas 123 hektare.

Ia menyebut panel surya dipasang di area terbuka agar menangkap sinar matahari secara maksimal, sementara air dialirkan dari sumber ke bak penampungan sebelum didistribusikan ke lahan sawah dan pemukiman.

Kapasistas panel surya di pompa air sebesar 69 kWp dengan debit pompa rata-rata 1.000 m3 per hari, nantinya cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian warga.Waspada.id/Surya Efendi

“Memang, ada juga rencana, kalau air untuk sawah terpenuhi, sebagian air nantinya akan digunakan untuk kebutuhan air minum atau masak. Tetapi rencana ini kita lihat dulu. Itu kalau memungkinkan nanti,” ucap Marbun.

Marbun menyebut, hampir 95 persen warga Desa Sibonor Ompu Ratus dari 956 jiwa atau 248 KK sebagai petani sawah tadah hujan. Keberadaan PATS ini sangat membantu masyarakat, terutama para petani yang selama ini sering mengalami kesulitan air saat musim kemarau.

“Selama ini warga sangat bergantung pada sumber air alami yang kadang tidak mencukupi. Dengan adanya Pompa Air Tenaga Surya ini, kami berharap kebutuhan air untuk pertanian maupun kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi dengan lebih baik,” ujarnya.

Marbun menjelaskan, PATS nantinya diharapkan dapat mengairi lahan sawah seluas 123 hektar, milik warga dari empat desa yakni Desa Sibonor Ompu Ratus sendiri, dan Desa Sinaga Uruk Pandiangan, keduanya di Kecamatan Nainggolan, lalu Desa Pasaran Satu dan Desa Pasaran Parsaoran, di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

‘’Pemilik lahan sawah di Desa Sibonor Ompu Ratus ini juga dimiliki warga dari desa-desa tetangga,’’ jelasnya.

Marbun pun optimis dengan adanya PATS nanti, para petani dapat menanam padi jenis IR 64 atau IR 42 lima kali dalam dua tahun, dengan pengairan PATS tanpa harus bergantung pada pola tadah hujan seperti selama ini.

Padi jenis IR adalah varietas padi unggul hasil persilangan yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute (IRRI). Varietas ini populer di Indonesia karena potensi hasil tinggi dengan hasil panen 6-8 ton per hektar, umur panen relatif genjah (pendek), dan rasanya pulen.

Marbun juga menyebutkan, jika PATS rampung, pihak desa memfasilitasi masyarakat untuk segera melakukan rembug mufakat terkait penjadwalan masa pembibitan, masa tanam dan masa panen.

“Kalau air sudah ada, pihak desa akan membangun komitmen bersama dengan para petani untuk menyusun jadwal kapan semai bibit, dan kapan tanam ke lahan. Tujuannya agar serentak,” tambah Marbun.

Marbun menyebutkan, keselarasan masa semai dan tanam padi bermanfaat tidak hanya dalam keadilan memperoleh distribusi air, tetapi juga kemudahan dalam menanggulangi hama tanaman padi.

“Kita harapkan petani serentak tanam padi. Serentak dapat air secara merata. Itu bagus juga untuk menanggulangi hama,” papar Marbun.

Dari Pompa Diesel Beralih Pompa Tenaga Surya

Sedangkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Samosir, Rajoki R. Simarmata menegaskan, tahun 2026 ini, Pemkab Samosir tidak berfokus pada pompa diesel, melainkan membangun pompa air tenaga surya untuk memperluas irigasi.

Hingga saat ini, sebanyak 7 Pompa Air Tenaga Surya (PATS) telah dan akan tersebar di 7 desa di Samosir, dari rencana awal yang diajukan sebanyak 25 PATS.

Desa–desa yang sudah dan akan memiliki PATS di Kabupaten Samosir antara lain:

1. Desa Rianiate, Kecamatan Pangururan

2. Desa Sitinjak, Kecamatan Onan Runggu

3. Desa Panampangan, Kecamatan Pangururan

4. Desa Sinaga Uruk, Kecamatan Nainggolan – PATS telah direalisasi dan difungsikan untuk sawah masyarakat


5. Desa Sibonor Ompu Ratus, Kecamatan Nainggolan – dalam proses perampungan (program LCDI).

6. Desa Pakpahan, Kecamatan Onanrunggu – PATS direncanakan dan ikut program pemerintah untuk perluasan jaringan irigasi tenaga surya.

7. Desa Palipi (Hibrid).

Keberadaan PATS ini, lanjut Rajoki, sebagai komitmen pemerintah dalam memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan air masyarakat sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

Sementara PATS di Desa Sibonor Ompu Ratus yang sebentar lagi mulai beroprasi ini merupakan pilot project energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Rajoki menjelaskan, untuk menghasilkan debit air yang sama, pompa diesel membutuhkan sekitar 15 liter solar per hari selama 8 jam operasional, dengan biaya harian mencapai Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Selain itu, biaya perawatan mesin juga cukup tinggi.

Sementara itu, Pompa Air Tenaga Surya hanya membutuhkan investasi awal yang besar, namun biaya operasionalnya hampir Rp0 per hari, karena energi berasal dari sinar matahari.

“Dengan demikian, masyarakat dapat menghemat biaya bahan bakar sepenuhnya, selain memperoleh manfaat tambahan berupa ramah lingkungan dan perawatan yang lebih mudah. Jika hujan atau mendung dan minim cahaya matahari, debit air hanya berkurang sedikit dan tidak berpengaruh bagi kebutuhan,” jelasnya.

Ia pun sepakat bahwa proyek PATS ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil atau diesel, menekan biaya operasional petani dan menyediakan akses air yang konsisten.

‘’Pembangunan PATS ini menerapkan teknologi ramah lingkungan merupakan solusi cerdas untuk memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus menjaga kelestarian alam Danau Toba,’’ cetusnya.

Rajoki sepakat bahwa PATS ini tidak hanya fokus pada aspek teknis mesin dan panel surya. Kemarin, bersama tim LCDI sebelumnya melakukan assessment khusus terkait Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).

‘’Langkah ini dilakukan untuk menjamin kelompok perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya di Desa Sibonor Ompu Ratus mendapatkan akses dan manfaat yang setara dari keberadaan pompa air tersebut,’’ ujarnya.

Rajoki juga menyebutkan, selain meningkatkan ketersediaan air, proyek ini juga diharapkan dapat mendukung produktivitas pertanian masyarakat Desa Sibonor dan Kabupaten Samosir pada umumnya.

“Pemkab Samosir berharap PATS ini menjadi contoh penerapan energi terbarukan di seluruh desa, mendorong pembangunan berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa membebani anggaran operasional,” ucapnya.

Rajoki juga menyebutkan, Program LCDI 2 di Samosir diharapkan menjadi model percontohan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan adanya PATS, Desa Sibonor Ompuratus kini melangkah menuju kemandirian energi yang murah dan bebas emisi.

“Ini merupakan hasil sinergi antara Pemkab Samosir, Bappenas, dan UK FCDO dan banyak pihak. Dengan adanya Pompa Air Tenaga Surya ini sebagai bukti bahwa pembangunan infrastruktur modern dapat berjalan selaras dengan upaya perlindungan lingkungan dan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Rajoki menambahkan bahwa Kabupaten Samosir memiliki luas lahan sawah sekitar 5.500 hektar, dengan hasil rata-rata Gabah Kering Basah (GKB) sekitar 60,59 kwintal per hektar pada tahun 2025 dengan produksi padi 38.781 ton.

Sementara di tahun sebelumnya (2024), hasil rata-rata GKB sekitar 59,97 kwintal per hektar. Sementara produksi padi tahun 2024 sebesar 42.669 ton, turun dibanding tahun 2025 sebesar 38.781 ton.

Sebelum adanya PATS, pompa air diesel/fosil sudah ada di Samosir. Kementerian Pertanian (Kementan) saja sudah membangun 8 unit Irigasi Pompa (Irpom) dan Kementerian ESDM memberikan pompa solar cell untuk mengatasi kendala pengairan.

Namun, gagal panen akibat kemarau panjang tetap terjadi pada tahun 2025 di Samosir. ‘’Petani di Kabupaten Samosir mengalami kerugian besar dan gagal panen pada tahun 2025 akibat kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena iklim,’’ ujarnya.

Data dari website Kementerian Pertanian, panen padi warga di Samosir pada tahun 2025 ini mengalami tantangan serius dibandingkan 2024 akibat kemarau panjang, menyebabkan gagal panen (puso) dan krisis air bersih, terutama sekitar Agustus 2025.

Kondisi ini mengikuti tren penurunan luas panen dan produksi padi nasional yang sudah diprediksi terjadi sejak awal 2024 akibat fenomena El Nino.

Perbandingan Panen Padi Samosir 2024 vs 2025:

Tahun 2024: Produksi padi cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena dampak lanjutan fenomena iklim dan pergeseran musim tanam.

Tahun 2025 (Prediksi/Situasi Agustus): Petani mengalami krisis air yang signifikan. Laporan menunjukkan adanya gagal panen akibat kemarau yang merusak lahan pertanian warga.

Faktor Penyebab: Penurunan drastis di 2025 didominasi oleh musim kemarau panjang yang mengganggu pasokan air untuk persawahan.

Rajoki pun membenarkan akibat kemarau kemarin menyebabkan krisis air bersih dan kekeringan yang serius di lahan pertanian, terutama di area perbukitan dan dataran tinggi.

“Kehadiran PATS-PATS di Samsoir tentunya diharapkan dapat membantu petani memaksimalkan hasil panen, terutama saat musim kemarau, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga dan ketahanan pangan lokal meningkat,” ucapnya.

Pemkab Samosir, kata Rajoki, juga mendorong petani untuk melakukan perawatan rutin serta pengelolaan dan pemanfaatan teknologi energi terbarukan PATS agar fasilitas ini dapat digunakan dalam jangka panjang.

Rajoki pun menambahkan, untuk anggaran operasional maupun perawatan PATS di Desa Sibonor seperti desa-desa lainnya nantinya akan bersumber dari APBD Samosir dan anggaran desa masing-masing.

“Dengan hadirnya Pompa Air Tenaga Surya ini, Desa Sibonor diharapkan menjadi contoh penerapan energi terbarukan di wilayah pedesaan sekaligus mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Samosir,” demikian Rajoki yang ditemui Waspada.id di kantornya.

Rasa Terima Kasih Petani

Sebelumnya, salah seorang warga Dusun II, Desa Sibonor Ompu Ratus, Marlidar Br Sinaga, menyatakan rasa syukur dan terima kasih atas hadirnya PATS.

Pembangunan PATS di Desa Sibonor Ompu Ratus ini menelan biaya Rp4,7 miliar yang merupakan hibah dari Pemerintah Inggris.Waspada.id/Surya Efendi

“Harapan dengan adanya pompa air tenaga surya nantinya, pekerjaan kami akan jadi lebih ringan. Lahan kami nantinya bisa terairi setiap saat tanpa khawatir kekurangan air, terutama saat musim kemarau. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan semua pihak yang mewujudkan ini,’’ cetusnya.

Br Sinaga optimis, PATS tidak hanya membantu pertanian, tetapi juga memudahkan kebutuhan sehari-hari mereka. Kehadiran fasilitas ini diharapkan terus dirawat dan dimanfaatkan bersama demi kesejahteraan masyarakat desa.

“Kami suka ada pompa air ini. Karena sering disini musim kemarau. Saya senang kali. Air Danau Toba ini bisa untuk sawah. Jika sudah beroprasi nanti, kami akan mencari mata pencaharian tambahan berjualan makanan dan minuman hingga souvenir jika ada tamu datang melihat wisata baru PATS Sibonor,” harapnya.

Penurunan Emisi

Seementara di tempat terpisah, Akademisi dari USU, Oding Affandi kepada Waspada, menyebut pembangunan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) di kawasan Samosir tersebut tidak hanya menjadi solusi teknis penyediaan air, tetapi juga merepresentasikan arah baru pembangunan yang selaras dengan konsep Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI).

Dalam konteks ini, kata dosen Fakultas Kehutanan USU itu, sektor pertanian selama ini identik dengan ketergantungan pada energi fosil mulai diarahkan menuju sistem yang lebih efisien, adaptif, dan ramah lingkungan melalui pemanfaatan energi terbarukan.

Selama ini, lanjutnya, penggunaan pompa diesel dalam kegiatan pertanian dan irigasi menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan di tingkat lokal.

Setiap liter solar yang digunakan menghasilkan sekitar 2,68 kg CO₂, sehingga dalam satu tahun, satu unit pompa diesel dapat menghasilkan emisi antara 2 hingga 4 ton CO₂ untuk skala kecil-menengah, bahkan mencapai lebih dari 15 ton CO₂ pada skala yang lebih besar2,3.

Oding menyebut, emisi ini berkontribusi terhadap perubahan iklim yang pada akhirnya justru berdampak kembali pada sektor pertanian, seperti perubahan pola hujan, kekeringan, hingga penurunan produktivitas lahan.

Dalam kerangka Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI), pendekatan pembangunan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pengurangan emisi (low carbon) dan peningkatan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim (climate resilience).

Oding menyebut PATS ini menjadi contoh konkret implementasi kedua aspek tersebut secara bersamaan. Dari sisi mitigasi, penggunaan energi matahari menggantikan bahan bakar fosil mampu menekan emisi hingga rata-rata 3 ton CO₂ per unit per tahun.

Sementara dari sisi adaptasi, PATS memberikan kemandirian energi bagi petani, terutama di daerah yang rentan terhadap fluktuasi pasokan BBM atau kondisi geografis yang sulit dijangkau.

Lebih jauh, lanjut Oding, integrasi energi terbarukan dalam pembangunan pertanian juga memperkuat sistem produksi pangan yang berkelanjutan. Dengan biaya operasional yang lebih rendah (karena tidak memerlukan pembelian bahan bakar), petani dapat mengalokasikan sumber daya untuk peningkatan produktivitas atau diversifikasi usaha.

Selain itu, sistem ini lebih tahan terhadap gejolak harga energi global, yang selama ini sering menjadi beban tambahan bagi sektor pertanian.

Kebijakan PRKBI yang diarusutamakan dalam perencanaan pembangunan nasional Indonesia juga menempatkan energi terbarukan sebagai salah satu pilar utama, termasuk dalam sektor pertanian.

Transformasi ini, kata Oding, sejalan dengan target penurunan emisi gas rumah kaca nasional serta komitmen menuju net zero emission.

Dalam hal ini, pengembangan PATS di Samosir dapat dilihat sebagai bagian dari praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain, khususnya wilayah yang memiliki potensi energi surya tinggi.

Hal ini juga sesuai dengan Kebijakan Rencana PRKBI Provinsi Sumut 2025-2045 yang sudah disinkronisasi dengan Dokumen RPJMD 2025-2029 Provinsi Sumut maupun Renstra setiap OPD Provinsi di Sumut.

Dengan demikian, tegas Oding, pembangunan PATS tidak hanya memberikan manfaat teknis jangka pendek, tetapi juga berkontribusi strategis terhadap transformasi sistem pertanian menuju model yang rendah karbon, tangguh terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.

Jika diimplementasikan secara luas, inovasi seperti ini dapat menjadi pengungkit penting dalam mewujudkan pembangunan pertanian masa depan yang tidak hanya produktif, tetapi juga selaras dengan keberlanjutan lingkungan, demikian Oding.(id96)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE