Sumut

Asap Arang Batok Kepung Permukiman Warga Desa Pon

Asap Arang Batok Kepung Permukiman Warga Desa Pon
Asap tebal dari pembakaran arang batok kelapa menyelimuti Jalinsum Desa Pon, Sergai, hingga mengganggu jarak pandang pengendara dan meresahkan warga sekitar. Sabtu (28/3/2026). Waspada.id/Ist
Kecil Besar
14px

SERGAI (Waspada.id): Warga Dusun I, Desa Pon, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), mendesak pemerintah daerah segera menutup atau memindahkan aktivitas pembakaran batok kelapa menjadi arang yang berada di kawasan padat penduduk.

Pasalnya, asap tebal dari aktivitas tersebut dinilai telah mencemari udara, mengganggu kesehatan, hingga membahayakan pengguna Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum) Medan–Tebing Tinggi.

Keluhan ini disampaikan warga setelah aktivitas pembakaran yang berlangsung dini hari hingga pagi hari kerap menyelimuti permukiman. Asap pekat bahkan masuk ke dalam rumah warga dan menimbulkan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia.

Salah seorang warga, Andry Hasibuan, mengungkapkan bahwa pembakaran batok kelapa tersebut sudah puluhan tahun beraktivitas, kondisi tersebut sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Ia menyebut ada tiga pengusaha pembakaran batok di lokasi tersebut, dan hanya berjarak jarak sekitar 100 meter dari rumah miliknya, sehingga dampak asap sangat dirasakan keluarganya.

“Kalau keluhan asap itu memang langsung kami rasakan karena jarak rumah saya sangat dekat sehingga masuk ke dalam rumah apalagi menjelang subuh, tebal sekali. Anak-anak kami jadi korban, dua anak saya sudah kena gangguan pernapasan, bronkitis. Bahkan bayi saya yang baru satu bulan batuk sampai muntah,” ujarnya kepada Waspada.id, Sabtu (28/3/2026), sore.

Menurut Andry, proses pembakaran biasanya dimulai sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Asap kemudian turun dan menyelimuti lingkungan warga hingga sekitar pukul 07.00 WIB.

“Harusnya pagi hari kita bisa hirup udara segar, tapi yang kami hirup justru asap pembakaran. Kadang sehari sekali, kadang dua sampai tiga hari sekali, tapi tetap saja sangat mengganggu,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa dampak asap tidak hanya dirasakan keluarganya, tetapi juga warga lain, termasuk lansia yang kesulitan bernapas saat asap menyelimuti permukiman. Menurut Andry, selain berdampak pada kesehatan, asap tebal tersebut juga dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan di Jalinsum karena dapat mengurangi jarak pandang.

Andry menyebutkan, di sekitar lokasi terdapat tiga titik usaha pembakaran arang batok kelapa yang beroperasi berdekatan dengan permukiman warga. Upaya mediasi sebelumnya, termasuk kesepakatan jadwal pembakaran, disebut tidak berjalan efektif.

“Sudah pernah dimediasi di kantor desa, dibuat jadwal, tapi tidak terlaksana. Asap tetap saja masuk ke rumah-rumah warga,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, warga kini meminta tindakan tegas dari pemerintah daerah dan instansi terkait agar aktivitas pembakaran tersebut segera dihentikan atau dipindahkan ke lokasi yang jauh dari permukiman.

“Kami minta ditutup atau dipindahkan. Karena ini sudah sangat berbahaya bagi pernapasan, terutama anak-anak dan lansia. Jangan sampai dibiarkan terus,” tegas Andry. (bs)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE