BINJAI (Waspada.id): Membeli mobil baru seharusnya jadi momen membahagiakan. Namun pengalaman yang dialami Warga Kota Binjai, Anta Kesuma, konsumen Chery Omoda E5 Pure berwarna hitam, berbeda jauh.
Anta membeli mobil baru warna Hitam di Showroom PT. berinisial (MOS), beralamat SM Raja, Medan Kota. Tapi sejak pertama kali diterima, mobilnya sudah bermasalah.
Masalah pertama yang muncul adalah spion yang tidak bisa digerakkan.
“Setelah diperbaiki di showroom dan saya diberi kompensasi, kerusakan itu muncul lagi. Sekarang saya takut melaju kencang, padahal pekerjaan saya sering mengharuskan perjalanan cepat,” kata Anta, Rabu (28/1/2026).
Tidak hanya spion, mobil baru ini juga mengalami masalah pada DMS.
“Ada peringatan ceklis dua aktif, seperti bermasalah. Rasanya bikin was-was setiap kali berkendara,” tambahnya.
Anta juga menyampaikan, pihak showroom sempat menjanjikan wall charger untuk mobilnya. Namun, janji tersebut belum mengurangi kekhawatirannya, bahkan sampai saat ini barang itu belum diterima.
“Sudah dihubungi berkali-kali, tapi pimpinan cabang showroom, si C, via WhatsApp tidak kunjung membalas, padahal ceklis dua sudah dibaca,” jelas Anta.
Ia menegaskan akan menempuh jalur hukum jika tidak ada penyelesaian. “Kalau etika pihak showroom tidak ditegakkan, saya akan lanjutkan sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.
Media mencoba mengonfirmasi kepada C, pimpinan cabang showroom, melalui pesan WhatsApp pada Kamis (29/1/2026). Hingga kini, belum ada jawaban resmi, meski pesan tersebut sudah dibaca ditandai dengan ceklis biru.”
Cerita Anta Kesuma, dari Booking Fee hingga Mobil Dibongkar
Kisah ini bermula ketika Anta tergiur bujukan manis seorang sales Chery bernama Arysah. Dengan rayuan meyakinkan, Anta akhirnya membayar booking fee Rp5 juta untuk Chery Omoda E5 Pure warna putih pada 8–9 September 2025.
Saat itu, Anta diberi informasi bahwa unit warna putih akan diambil dari stok di Pekanbaru.
“Sales Chery, Arysah, memberikan janji manis. Saya pun memutuskan membooking unit Omoda E5 warna putih,” kenang Anta.
Ia diinformasikan bahwa mobil akan tiba kira-kira seminggu. Anta pun menunggu dengan antusias.
Namun, harapannya sedikit pupus ketika sales mengabari bahwa unit putih dari Pekanbaru bermasalah. Sebagai gantinya, Anta ditawarkan unit warna hitam.
“Warna hitam juga bagus, keren, dan yang penting tidak bermasalah alias unitnya oke,” ujar Arysah, menurut Anta. Mendengar janji tersebut, Anta setuju untuk mengambil unit warna hitam, berharap semuanya berjalan lancar.
Masalah Spion Terus Menghantui
Pada 27 September 2025, sekitar pukul 17.30, Anta menyelesaikan seluruh administrasi di showroom. Sebelum membawa mobil pulang, ia melakukan pengecekan terakhir. Di situlah ia menemukan spion hidrolik tidak berfungsi normal.
Menanggapi hal ini, sales dan supervisor terkesan meremehkan. “Gak apa-apa pak bawa aja, spion kita pesan yang baru, nanti kalau sudah sampai kita ganti,” ujar Anta menirukan ucapan mereka.
Janji penggantian spion akhirnya ditepati. Pada 14 Oktober 2025, spion baru tiba di bengkel resmi Chery Jalan Amplas. Namun masalah sebenarnya justru terungkap.
Kepala teknisi, Fika, menyebutkan ada korsleting pada kelistrikan mobil. “Bukan spionnya, tapi rangkaian kelistrikan mobil. Ada korsleting,” jelas Anta.
Untuk memperbaiki korsleting tersebut, bengkel terpaksa membongkar bagian penting mobil baru. Hal ini tentu membuat Anta kecewa.
“Modulnya bermasalah, kurang arus. Mobil sudah dibongkar habis, tak selera lagi melihat mobil baru yang dibongkar,” keluhnya.
Penjelasan Pihak Showroom
Menanggapi keluhan Anta, sales Arysah menjelaskan dari sudut showroom. Ia mengakui spion kiri memang bermasalah saat serah terima.
“Yang tidak bisa diatur otomatis tapi bisa manual, spion kanan normal,” kata Arysah.
Ia menegaskan Anta mengetahui masalah ini dan setuju membawa mobil keluar showroom dengan janji service pada hari Senin. Klaim warranty diajukan pada hari yang sama, namun modul spion termasuk sparepart slow moving dari pusat Jakarta.
“Selama pengajuan klaim kami berusaha perbaiki, tapi modul harus menunggu dari Jakarta,” tambahnya.
Arysah menekankan, pembongkaran yang dilakukan tidak ekstrem.
“Hanya panel pintu depan dan glove box yang dibongkar. Itu hal normal untuk mobil listrik karena elektrikal ada di belakang panel pintu,” jelasnya.
Ia menegaskan, masalah ini tidak fatal karena mobil masih bisa berjalan normal, dan showroom beritikad baik untuk menyelesaikannya. (id91)











