EkonomiSumut

Forwakum Sergai Menelisik Tugu Juang Perbaungan Simbol Sejarah, Sentra Kuliner UMKM Rakyat

Forwakum Sergai Menelisik Tugu Juang Perbaungan Simbol Sejarah, Sentra Kuliner UMKM Rakyat
Tugu Juang Sei Ular di Perbaungan, Sergai, yang kini berfungsi sebagai ruang publik dan sentra kuliner UMKM rakyat, menjadi perhatian Forwakum Serdangbedagai saat melakukan peninjauan di kawasan monumen bersejarah tersebut. Selasa (17/2/2026). Waspada.id/Bambang
Kecil Besar
14px

SERGAI (Waspada.id): Tugu Juang Sei Ular di Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) Sumatera Utara, kini tak lagi sekadar monumen bisu di tepi jalan nasional. Kawasan bersejarah yang berdiri di pinggir Jalan Lintas Sumatera Medan–Tebingtinggi itu telah menjelma menjadi ruang publik yang hidup, menyatukan ingatan kolektif tentang perjuangan kemerdekaan dengan denyut ekonomi rakyat melalui geliat UMKM dan aktivitas sosial warga lintas usia.

Transformasi kawasan ini menjadi sorotan Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Serdangbedagai yang melakukan peninjauan langsung pada Senin (16/2/2026) Sore.

Tugu Juang bukan sekadar ornamen kota. Monumen ini saksi heroisme Palagan Medan Area. Di sini tertanam prasasti sejarah yang merekam peresmian tugu pada Jumat, 28 Juli 1995 oleh pimpinan pusat LVRI Letjen TNI (Purn) Achmad Tahir, pada masa Gubernur Sumut Raja Inal Siregar. Sejak awal, tugu ini dimaksudkan sebagai ikon perjuangan.

Tugu yang juga dikenal sebagai Tugu Perjuangan Palagan Medan Area atau Tugu Bintang, karena puncaknya dihiasi simbol bintang berdiri setinggi kurang lebih 20 meter di lapangan segitiga Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan. Lokasinya yang strategis menjadikan monumen ini mudah diakses dan terlihat dari arus lalu lintas utama, sekaligus menjadi simpul pertemuan warga.

Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Kabupaten Sergai melakukan revitalisasi kawasan. Di bawah kepemimpinan Bupati Darma Wijaya dan Wakil Bupati Adlin Tambunan, area sekitar tugu dipoles menjadi sentra kuliner rakyat yang tertata rapi. Seluruh pedagang yang sebelumnya beraktivitas di Sergai Walk direlokasi ke kawasan Tugu Juang, lengkap dengan penataan lapak, pencahayaan, keamanan, dan fasilitas umum.

Setiap sore hingga malam hari, suasana kawasan ini kian ramai. Deretan stan menawarkan menu akrab lidah masyarakat—mulai dari sate Blora, lontong malam, ayam geprek, nasi goreng, aneka sop, hingga jajanan ringan. Minuman segar seperti kelapa hijau muda, kopi, dan jus buah melengkapi pilihan, menciptakan atmosfer santai ketika lampu-lampu kawasan menyala dan arus kendaraan masih padat.

Bagi para pedagang, perubahan ini membawa angin segar. Ibu Mis (68), warga Kampung Tempel Lingkungan V, mengaku telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari berdagang. “Saya sudah jualan 28 tahun. Alhamdulillah, sejak pindah ke sini ada perubahan,” tuturnya disambangi Waspada.id, Senin (16/2/2026), Sore.

Dengan lapak yang rapi, ia menjual kelapa hijau segar, pecal, dan aneka makanan lain. Meski dikenakan retribusi Rp15.000 per hari, ia menilai biaya itu sepadan dengan kenyamanan dan keamanan. “ Biaya tersebut termasuk penggunaan lampu dan aliran listrik. Biasanya saya tutup sekitar jam sebelas malam. Di sini aman,” katanya.

Pedagang lain, Hafizah dan Dela, juga merasakan dampak positif. Menurut mereka, kawasan Tugu Juang kini jauh lebih nyaman dibanding lokasi sebelumnya. “Sekarang rame, enak, dan aman. Malam hari terang karena lampu banyak. Lapaknya bersih dan tersusun,” ujar Hafizah yang membuka lapak pukul 10.00–24.00 WIB. Penataan parkir dengan karcis resmi dan tarif Rp2.000 per sepeda motor turut menambah rasa aman pengunjung.

Dari sisi pengunjung, konsep terbuka di pinggir jalan lintas menjadi daya tarik tersendiri. Lulu (20), mahasiswi semester enam UIN asal Desa Jatimulyo, Kecamatan Pegajahan, mengaku menyukai “vibes” kawasan ini. “Aku suka lalu-lalang kendaraan. Tempatnya relax dan santai,” katanya, saat disapa Waspada.id. dilokasi. Senin (16/2/2026). Sore.

Ia bahkan merekomendasikan menu ayam lada hitam bagi pengunjung yang tidak menyukai pedas. Menurutnya, geliat Tugu Juang mencerminkan kemajuan Sergai. “Dulu beda jauh. Sekarang wisata dan kuliner sudah banyak berubah,” ujarnya sambil menikmati menu ayam lada hitam.

Ibu Mis, 68, pedagang UMKM, menyiapkan kelapa hijau segar di kawasan Tugu Juang Perbaungan, Sergai, yang kini menjadi sentra kuliner rakyat dan sumber penghidupan baru bagi pedagang kecil, Senin (16/2/2026). Waspada.id/Bambang

Namun, Lulu berharap ada penambahan fasilitas pendukung seperti ruang aktivitas anak muda dan wahana sederhana agar pengunjung tidak cepat bosan. Soal keamanan, ia menilai kondisi kini lebih terkendali berkat sistem parkir berkarcis.

Di balik keramaian masa kini, Tugu Juang menyimpan sejarah panjang. Pada 1947, Belanda melakukan invasi melalui Pantai Cermin dan menyusuri Sungai Ular—jalur strategis untuk menyerang Perbaungan dan Lubuk Pakam saat wilayah ini masih tergabung dengan Deli Serdang. Sungai Ular menjadi medan pertempuran sengit; para pejuang dari berbagai daerah berkumpul melakukan perlawanan. Banyak yang gugur demi mempertahankan kemerdekaan. Tugu ini didirikan sebagai penghormatan atas pengorbanan tersebut.

Kini, informasi sejarah itu disajikan di lokasi tugu, menjadi media edukasi bagi generasi muda. Safaruddin, pengawas lokasi food court, menyebut setiap hari ratusan pengunjung datang untuk bersantai dan menikmati jajanan. “Fasilitas umum seperti toilet terpisah laki-laki dan perempuan serta ruang salat tersedia dan gratis,” ujarnya.

Ketua Forwakum Sergai Darmawan menilai kehadiran wartawan di kawasan ini menjadi jembatan informasi sejarah kepada publik. “Sejarah tak bisa dipisahkan dari wartawan yang mendistribusikan informasi melalui media massa,” ujarnya.

Lulu, 20, mahasiswi UIN, menikmati kuliner UMKM di kawasan Tugu Juang Perbaungan, Sergai, yang kini menjadi ruang santai favorit anak muda dan warga, Senin (16/2/2026). Waspada.id/Bambang

Menurutnya, dititik inilah masa lalu dan masa kini bertemu. Tugu Juang Perbaungan tumbuh sebagai ruang hidup—tempat mengenang perjuangan, mencari nafkah, bersosialisasi, hingga melepas penat—membentuk wajah baru Perbaungan yang berakar kuat pada sejarah, namun bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.(bs)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE