TAPSEL (Waspada.id): Gerakan 1.000 Kolam yang menghantarkan Pemkab Tapanuli Selatan menjadi terbaik pertama (Top-1) nasional dalam program pembangunan berkelanjutan (SDGs) sesuai penilaian I-SIM 2025, kini mulai menunjukkan hasil nyata.
Pada Rabu (11/2/2026), Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu bersama sejumlah pejabat dan petani pembudidaya ikan melakukan panen ikan nila di komplek kolam air tenang Pokdakan Berkah Paya Puri, Desa Sitampa Simatoras, Kecamatan Batang Angkola.
Ikan nila dari kolam demplot Pokdakan Berkah Paya Puri ini merupakan bagian dari bantuan kolam air tenang Tahun Anggaran 2025, yang digulirkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG)

10 ribu benih ditebar pada Oktober 2025. Separuhnya diberi perlakuan khusus pada pakan dengan tambahan probiotik M4. Sementara 5 ribu ekor lainnya dibudidaya konvensional. Hasil menunjukkan perbedaan pertumbuhan yang mencolok, 3 banding 5 per kilo gram (Kg).
“Dari segi bobot dan ukuran, memang lebih besar yang menggunakan perlakuan khusus. Pertumbuhannya lebih cepat,” kata Kepala Dinas Perikanan Tapanuli Selatan, Syaiful AP Nasution.
Dari hasil panen, Pokdakan Berkah Payapuri menghasilkan 400 Kg ikan. Sebanyak 350 Kg disalurkan untuk kebutuhan MBG dan 50 Kg dijual ke masyarakat dengan harga Rp35 ribu per kilo. Pada panen lanjutan, produksi ditarget satu kolam lebih dari 2 ton.
Ketua Pokdakan Berkah Payapuri, Ferdiyan Saleh Dalimunthe, mengatakan bantuan 10 ribu benih dan sekitar 1,5 ton pakan dari pemerintah daerah menjadi pendorong peningkatan produksi.
Sepanjang 2025, kelompoknya mengembangkan 48 kolam baru dari total 51 kolam di komplek kolam budidaya ikan air tenang itu. Ia berterimakasih karena Pemkab Tapsel telah melanjutkan pembangunan jalan hotmix hingga ka Paya Puri.
“Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan produksi dan pemasaran. Terima kasih atas bimbingan Ketua Pembina kami pak Syahrul Pasaribu dan perhatian pak Bupati Gus Irawan Pasaribu,” ujarnya.
Ketua Pembina Pokdakan Berkah Paya Puri, Syahrul M. Pasaribu, menyebut komplek ini memiliki 51 kolam yang dikelola 23 anggota. Sebagian kolam menerapkan pola budidaya dengan tambahan vitamin dengan pengelolaan intensif dan budidaya konvensional.
Hasilnya, untuk kolam perlakuan khusus rata-rata tiga ekor per kilogram, sedangkan metode konvensional empat hingga lima ekor per kilogram. Meski demikian, ia mengingatkan agar kelompok tidak lagi bergantung pada subsidi pemerintah.
“Kalau sudah ada hasil, harus ditabung. Ke depan kita harus mandiri dan tanpa subsidi pemerintah,” katanya.
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, menegaskan Program 1.000 Kolam bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan memperkuat ketahanan pangan dan asupan protein masyarakat.
“Program ini sebelumnya meraih SDGs Award dan terbaik pertama atau Top-1 se Indonesia. Penghargaan itu hanya bonus. Paling utama adalah membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Gus Irawan.

Ia mengakui cuaca ekstrem dan banjir yang melanda 14 kecamatan sempat menghambat pertumbuhan ikan akibat terganggunya sumber air. Sekitar 2.000 hektare sawah dilaporkan gagal panen.
Pemerintah daerah telah melaporkan dampak bencana tersebut ke kementerian terkait dan memasukkannya dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Untuk menutup potensi kehilangan produksi pangan, Pemkab Tapsel juga mendorong peningkatan produktivitas padi melalui penggunaan varietas Gamagora, yang dalam uji coba menghasilkan rata-rata 9,75 ton per hektare, di atas rata-rata daerah 5,5 ton per hektare.
Panen demplot di Batang Angkola menjadi model budidaya berbasis teknologi sederhana yang diharapkan dapat direplikasi di desa lain. Pemerintah daerah menargetkan program ini berkembang sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus penopang ketahanan pangan lokal di tengah ancaman inflasi pangan. (Id45)











