Sumut

Hutan Batangtoru Dibarbar, Banjir Dan Longsor Landa Tapanuli

Hutan Batangtoru Dibarbar, Banjir Dan Longsor Landa Tapanuli
Bupati Tapsel tinjau kondisi warga Batangtoru yang terdampak banjir akibat perambahan hutan di hulu sungai. (Waspada.id/Ist)
Kecil Besar
14px

TAPSEL (Waspada.id): Hutan Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, dirambah secara barbar. Selain tambang emas dan pembangkit listrik, juga telah banyak alih fugsi lahan ke kebun pribadi.

Bulan lalu, sebuah media internasional memberitakan sekelompok Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) satwa primata endemik yang dilindungi dan hanya hidup di hutan Batangotoru, telah ditemukan di sawah warga Desa Lumut, Kabupaten Tapteng

Scroll Untuk Lanjut Membaca

IKLAN

“Orangutan masuk kampung, ini pertanda hutan sudah habis karena dibarbar. Kita saja yang mengabaikan tanda-tanda itu. Pemerintah diam dan APH gak peduli,” kata Sukma Wijaya di Batangtoru, Minggu (30/11/2025).

Sukma yang pecinta lingkungan mengatakan, mungkin PTAR, PTNSHE, PTSOL dan perusahaaan lainnnya yang beroperasional di Hutan Batangtoru merasa, tidak terimbas apabila perambahan itu menimbulkan bencana.

“Yakin gak APH tidak mengetahui perambahan itu ? Atau mungkin mereka tau, tapi takut melihat orang di belakang aktivitas itu. Atau ikut sebagi pemain atau penikmat permainan itu sendiri ?” kata Sukma.

Bencana banjir dan longsor sejak Selasa (25/11/2025) telah menghancurkan pemukiman warga dan menelan seratusan korban jiwa di tiga kabupaten. Banjir membawa ribuan kubik kayu yang menandakan banyak perambahan hutan di hulu sungai.

Arus lalulintas darat yang mengubungkan tiga kabupaten telah rusak ditimbun longsor dan dibelah banjir. Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berpangkalan di Kota Sibolga, terhenti suplainya ke wilayah delapan kabupaten dan kota.

SURATI MENTERI

Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, menyebut sebelumnya telah menyurati Menteri Kehutanan terkait penebangan dan alih fungsi ekosistem Batangtoru di wilayahnya. Ia menduga, banjir bandang ini akibat perambahan di hulu sungai.

“Ini ada penebangan hutan kelihatannya di hulu, sehingga menyebabkan banjir bandang dengan intensitas hujan yang amat sangat tinggi,” kata Gus Irawan Pasaribu saat memantau kondisi warga di Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru.

Sebagai Bupati Tapsel, ia sudah menyurati Menteri Kehutanan untuk menyampaikan keberatan sekaligus bermohon penghentian penebangan. “Bulan Juli lalu, Kementerian Kehutanan melalui Dirjen Pengolahan Hutan Lestari, menerbitkan edaran menghentikan penebangan kayu,” sebut Gus Irawan.

Tetapi tiga bulan kemudian Kementerian Kehutanan mengizinkan lagi. Sehingga Bupati Tapsel mengajukan surat keberatan lagi ke Kementerian Kehutanan, sekaligus bermohon untuk dihentikan.

“Tanggal 14 November, saya bersurat lagi ke Kementerian Kehutanan melakukan protes dan keberatan, sekaligus bermohon untuk dihentikan lagi. Karena kami sudah membayangkan di Tapsel ada ekosistem Batangtoru”.

“Di dalam ekositem itu ada satwa yang sangat dilindungi, Pongo Tapanuliensis. Ada juga proyek strategis nasional PLTA 510 MW, yang kemudian itu akan terdampak kalau ada penggundulan hutan di hulu,” jelasnya.

Bupati Tapsel yang siang dan malam hadir di tengah korban berharap, bencana ini menjadi pembelajaran. Segera hentikan izin penebangan kayu di ekosistem Batangtoru. Jangann lagi terjadi penghentian izin, lalu tiga bulan kemudian diberikan izin lagi oleh Menteri Kehutanan. (Id45)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE