Kades Naman Jahe Dipolisikan Warga

  • Bagikan
Kades Naman Jahe Dipolisikan Warga

Warga mendatangi Polsek Salapian melaporkan Kades Naman Jahe yang diduga mengelola sekolah fiktif. (Waspada/Ria Hamdani)

LANGKAT (Waspada): Kepala Desa (Kades) Naman Jahe, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Nobdi Nanda Ginting Suka, dilaporkan warganya sendiri ke polsek setempat.

Informasi yang diperoleh, Selasa (30/1), sebanyak 120 warga Naman Jahe mendatangi Polsek Salapian. Mereka datang melaporkan Kades yang diduga mengelola sekolah fiktif.

Keterangan yang dihimpun dari warga setempat, bahwa bangunan sekolah yang dikelola Kades merupakan tanah hibah dan didirikan dengan swadaya masyarakat.

Sesuai rencana warga, bangunan itu nantinya dimanfaatkan untuk pendidikan agama bagi anak-anak setempat. Namun oleh Kades, bangunan swadaya tersebut dijadikan yayasan dan dikelola oleh orang lain.

“Katanya buat yayasan untuk pendidikan paket C, tapi tidak ada kegiatan apapun. Kami dengar jumlah pelajar paket C lebih dari 100 orang, padahal tidak ada kegiatannya,” kata warga.

Selain itu, warga juga mendengar adanya bantuan yang diterima oleh Kades bersama pihak yayasan. “Kegiatannya tidak ada, tapi kenapa ada kami dengar terima bantuan. Makanya ini kami laporkan, diduga yayasan itu fiktif,” pungkas warga.

Sementara itu, Kades Naman Jahe, Nobdi, mengaku biasa dengan apa yang disangkakan oleh warga. “Biasalah itu. Semuanya jelas kok. Keterangan lebih lanjut bisa dikonfirmasi kepada pihak yayasan ya bang,” kata Nobdi.

Terpisah, pihak yayasan, Krisna, ketika dikonfirmasi menjelaskan, bahwa yayasan yang dibentuknya atas dasar keinginan Kades mengelola bangunan dimaksud.

“Tiga kali saya konfirmasi kepada Kades, terkait masalah yang bisa terjadi kalau dikelola oleh pihaknya. Namun, Kades mengakui tidak ada masalah dan akhirnya kami kelola,” ucapnya.

Untuk menjelankan yayasan, sebutnya, dibutuhkan izin dan sudah keluar pada Mei atau Juni 2023 lalu. “Yayasan ini bentuknya PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat). Jadi tidak hanya program paket C, tapi ada pendidikan mengaji dan TK,” sebutnya.

Awalnya, lanjut Krisna, pelajar paket C yang dipersoalkan lebih dari 100 atau mencapai 200 orang. “Nah, pertengahan jalan, banyak dari pelajar Paket C mundur dan menjadi 147 orang. Ini pun masih ada yang ingin mundur ditambah keberatan masyarakat. Sehingga yayasan itu sudah kita vakumkan,” terangnya.

Melihat gejolak yang terjadi, sambungnya, yayasan itu akan ditutup. Hanya saja, proses penutupan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Pengusulan untuk tutup sudah kami layangkan ke dinas pendidikan. Tapi menunggu dua tahun lagi sesuai kontrak kami. Soal bantuan yang disangkakan, belum ada kami terima. Rencana tahun ini kami usulkan, tapi sudah ada gejolak, ya tidak jadi kami ajukan,” pungkasnya.

Sedangkan Kanit Reskrim Polsek Salapian, Ipda Heri Nalom, membenarkan adanya warga melaporkan Kades Naman Jahe terkait dugaan sekolah fiktif. “Ya, ada bang. Warga datang pada 23 Januari lalu. Masih dumas, belum kita proses. Rencananya Kamis ini kita undang dari warga untuk mengetahui lebih lanjut laporannya,” tutur Heri. (a34)

  • Bagikan