Sumut

Kades Wonosari Mantapkan Lahan Kosong Jadi Sumber Ekonomi Warga

Kades Wonosari Mantapkan Lahan Kosong Jadi Sumber Ekonomi Warga
Kades Wonosari, Suparman (kanan) dan Kadus 12 Hotman Paris yang ditemui, Rabu (7/1/26).Waspada.id/Sopian
Kecil Besar
14px

TANJUNGMORAWA (Waspada.id): Kepala Desa (Kades) Wonosari, Kecamatan Tanjungorawa, Suparman memantapkan pemanfaatan lahan daratan di samping rumah warga untuk ditanami tanaman program ketahanan pangan (Ketapang).

Program ini bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan lahan kosong di lingkungan permukiman.

“Program ketahanan pangan merupakan bagian dari upaya pemerintah desa dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang saat ini,” kata Suparman kepada Waspada.id, Rabu (7/1/26).

Suparman yang telah menjabat tiga periode sebagai Kepala Desa Wonosari dan dua periode sebagai Ketua DPD APDESI ini menambahkan, pihaknya terus medorong masyarakat agar memanfaatkan sekecil apa pun lahan kosong di sekitar rumah. Baik itu ditanami sayur-sayuran atau palawija. Sehingga dapat membantu ekonomi keluarga dan menjaga ketersediaan pangan.

Suwito, salah seorang pengelola tanaman di pekarangan rumah, di Desa Wonosari, Rabu (7/1/26)Waspada.id/Sopian

Dijelaskannya, saat ini warganya suda ada mengembangkan tanaman cabai, sawi, tomat, brokoli, kangkung, bayam dan kolam ikan. Tanaman tersebut, sebutnya, dinilai mudah dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Selain meningkatkan pendapatan rumah tangga, hasil panen dari program ini juga akan dijual kepada masyarakat sekitar. Harganya pun di bawah pasaran, sehingga dapat membantu kebutuhan pangan warga desa,” paparnya.

Senada disampaikan Kepala Dusun (Kadus) III, Juliadi, yang menyebutkan bahwa seluruh kepala dusun turut dilibatkan dalam penyampaian aspirasi dan pengawasan program.

“Program yang digagas oleh Pak Kades ini juga melibatkan semua kadus. Kita juga sepakat hasil l panen nantinya akan dijual ke masyarakat dengan harga lebih murah dari pasaran,” sebut Juliadi.

Sementara itu, Suwito, salah seorang pengelola tanaman menjelaskan, keberhasilan program ketapang juga ditentukan oleh teknik pengelolaan yang tepat, mulai dari pengolahan tanah hingga perawatan tanaman.

“Pengelolaan tanaman harus memperhatikan unsur hara tanah, menggunakan pupuk organik dan non-organik. Termasuk perawatan harian terutama untuk tanaman cabai agar perkembangannya terpantau,” tutur Suwito.

Suwito menambahkan, biaya produksi dari awal tanam hingga panen mencapai sekitar Rp3 juta per rante, dengan potensi hasil panen mencapai Rp12 juta.

Dengan adanya program ketapang tersebut, Pemerintah Desa Wonosari berharap masyarakat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.(id.28/Sopian)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE