Kalapas Tanjungbalai, Sangapta Surbakti Ternyata Loper Koran Waspada

  • Bagikan
Kalapas Tanjungbalai, Sangapta Surbakti Ternyata Loper Koran Waspada

TANJUNGBALAI (Waspada) : Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tanjungbalai Asahan, Sangapta Surbakti S.Pd M.H silaturahmi dan temu ramah dengan insan pers Kota Tanjungbalai di warung Nirwana di Jln Teuku Umar Kota Tanjungbalai, Senin (5/12).

Kalapas Tanjungbalai, Sangapta Surbakti Ternyata Loper Koran Waspada
Kalapas Kelas II B Tanjungbalai, Sangapta Surbakti, SPd MM silaturahmi bersama insan pers Kota Tanjungbalai. Waspada/Ist

Kalapas yang baru beberapa hari menjabat di Tanjungbalai begitu cepat berbaur dan akrab dengan wartawan meski pertama kali bertemu. Bahkan Ia sampai menceritakan masa lalunya yang begitu getir. Saking pahitnya, dari sekian banyak orang yang Dia kenal, belum pernah merasakan kepedihan yang dialaminya dan keluarga.

Sangapta mengawali dari kisah jumlah anggota keluarga terbilang ramai, 10 bersaudara, lima putra dan lima putri. Banyaknya anak dari kedua orang tuanya itu, sulit sekali untuk mencukupi nafkahnya, apalagi sang ayahanda tercinta hanya mengandalkan satu-satunya usaha becak penumpang yang dimilikinya.

Sang ibu juga terpaksa memutar otak agar semua anaknya bisa makan. Salah satunya dengan menanak beras dua kilo dicampur air yang banyak agar menjadi bubur bubur dan bisa dibagikan kepada seluruh anak-anaknya.

Bila tidak cukup, maka ditopang dengan ubi rebus yang ditanam di sekitar rumah. Di tengah kesulitan hidup di salah satu kota terbesar di Indonesia, Medan, keluarga ini memang harus ‘pandai-pandai’ untuk menyambung hidup.

Guna mengurangi beban keluarganya, Sangapta yang saat ini baru berusia 38 tahun tidak mau mengambil jalan pintas yang tak ‘pantas’ dengan menghalalkan berbagai cara. Di kala remaja seumurannya menikmati masa muda yang ‘berbunga-bunga’, pria murah senyum ini lebih memilih mengikuti jejak sang ayah ‘menarik’ becak sembari menjaga parkir.

Kerasnya kehidupan di jalanan tak menyurutkan langkahnya untuk terus melanjutkan pendidikan di Unimed sebagai mahasiswa Pendidikan Olahraga usai tamat SMA. Menarik becak dan parkir rasanya belum mencukupi karena kebutuhan pendidikan semakin bertambah.

Keturunan Si Raja Oloan ini lalu membulatkan tekadnya untuk mencari penghasilan tambahan dengan bangun jam 04.00 lalu berjualan koran alias loper. Ketika mahasiswa lainnya masih bermimpi indah dalam tidurnya, pria berdarah Karo ini telah berada di jalanan menembus dinginnya subuh untuk mengambil koran di Kantor Harian Waspada dan beberapa penerbit lainnya.

Tak tanggung-tanggung, sekali trip, Sangapta mampu membawa 700 eksemplar koran berbagai penerbitan untuk diantarkan ke langganannya di sekitar Kota Medan. Bisa dibayangkan, banyaknya koran itu menjulang ke atas, hanya mata dan helmnya saja yang terlihat dari depan sepeda motor.

Sementara, posisi duduknya harus diatur dengan baik, tidak bisa senyaman mengendarai sepeda motor pada umumnya. Tak mudah untuk mengantarkan itu semua, banyak rintangan dihadapi mulai dari hujan deras, ban kempes, disenggol kendaraan lain, sampai beberapa kali terjerembab ke parit akibat stang tidak bisa diarahkan.

Sampai empat tahun Dia melakoni itu setiap hari tanpa henti hingga usaha, semangat, dan doanya ini mengantarkan dirinya ke arena wisuda. Pria murah senyum ini kemudian melamar jadi ASN di Kemenkumham bagian Lembaga Pemasyarakatan dan syukurnya langsung diterima.

Sangapta lalu bertugas di berbagai daerah dengan jabatan tertentu. Semangat bekerja yang telah terpatri sejak kecil inipula diterapkan di tempat tugasnya sehingga kerja keras dan doanya telah berbuah manis, bisa membawanya menjadi orang nomor satu di Lapas Tanjungbalai Asahan.

Pesan kunci yang disampaikan bahwa siapapun tidak boleh berputus asa, tetap semangat, percaya kepada Tuhan, sayangi keluarga, dan pamungkasnya, muliakan kedua orang tua.

Kepada insan pers, Sangapta berpesan bahwa di darahnya mengalir darah pers, karena selama menjadi loper koran, banyak wartawan yang dikenalnya. Pergaulan dengan wartawan inipula katanya berperan mengantarkan dirinya sampai pada posisi saat ini.

“Dimanapun bertugas, saya selalu bersama kawan-kawan wartawan, ngopi bareng, banyak hal positif yang bisa saya ambil dari pergaulan ini,” ucap Sangapta.

Di akhir pertemuan, Sangapta menyatakan dirinya siap dan butuh kritik membangun dari insan media untuk kebaikan lembaga yang dipimpinnya. Setiap instansi katanya, butuh pihak lain untuk memberikan penilaian baik buruknya kinerja dan pelayanan.

Turut mendampingi Kalapas, KPLP, Monang Saragih, Kasi Kamtib, Gultom, dan Katim Humas, A Razak. Hadir pula, Plt Ketua PWI Tanjungbalai, Saufi Simangungsong, Ketua IJTI Asahan Tanjungbalai, Ulil Amri, dan wartawan berbagai media. (a21/a22)

  • Bagikan