Sumut

Kamp BNPB Dipasang, Korban Bencana Sudah Tak Tempati Lagi Kamar Mandi Dan Jamban Sebagai Hunian

Kamp BNPB Dipasang, Korban Bencana Sudah Tak Tempati Lagi Kamar Mandi Dan Jamban Sebagai Hunian
LURAH Bukit Kubu, Rahmatsyah, bersama perangkatnya usai mendirikan tenda BNPB untuk hunian sementara buat korban banjir. Waspada.id/Asrirrais
Kecil Besar
14px

BESITANG (Waspada.id): Pemberitaan waspada.id terkait korban banjir di Lingk IX, Kel. Bukit Kubu, Kec Besitang, yang terpaksa menempati kamar mandi merangkap jamban sebagi tempat hunian karena rumah korban hanyut ternyata membawa efek positif.

Camat Besitang, Restra Yudha, bersama Lurah Bukit Kubu, Rahmatsyah, serta tiga Kepling, Senin (5/1), turun menemui korban bencana, M. Ibrahim Lubis, membawa bantuan bahan makanan, berikut tenda dari BNPB buat hunian sementara.

Lurah bersama perangkatnya mendirikan camp dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai tempat berlindung buat M. Ibrahim Lubis bersama sang isteri, Sri Indri Yani, dan seorang putranya yang sudah menanjak remaja.

Camat Besitang, Restra Yudha, pada saat penyerahan tenda untuk hunian sementara buat keluarga prasejahtera itu menyatakan permintaan maafnya secara langsung kepada Ibrahim. “Saya mohon maaf karena baru kali datang,” ujarnya sembari menyalami korban bencana tersebut.

Di sela pemasangan camp dari BNPB, Restra Yudha, ditemui waspada.id mengatakan, total jumlah warga yang mengalami rusak berat akibat bencana banjir di wilayah Besitang mencapai 362 unit rumah dan korban yang terdampak hampir mencapai 20.000 jiwa.

Ditanya kapan rumah hunian tetap (huntap) untuk korban bencana ekologis ini dibangun oleh pemerintah, ia belum dapat memberikan jawaban pasti. “Mungkin dalam watu yang tidak terlalu lama ini sudah dibangun,” ujar Restra.

Korban bencana banjir, Ibrahim Lubis, pada saat itu menyampaikan rasa terimakasihnya kepada wartawan waspada.id yang telah turun langsung memperhatikan kondisinya. “Berkat tulisan, kondisi saya mendapatkan perhatian dari pemerintah,” imbuhnya.

Rumah Ibrahim hanyut terbawa arus air saat terjadi banjir 26 November 2025. Karena tak ada tempat bernaung, ia terpaksa tinggal di ruang kamar mandi yang sekaligus jamban yang hanya berukuran tak lebih 1,5 x 2 meter.

Di rungan yang jauh lebih sempit dari sel tahanan inilah kedua pasangan suami isteri itu bersama sang anak tinggal. Ia tak memiliki pilihan lain, karena setelah sebulan lebih banjir berlalu, tidak ada datang bantuan tenda, baik dari Dinsos, BPBD Langkat, termasuk BNPB.

“Tak usahakan bantuan tenda untuk hunian sementara, bantuan selembar tikar saja untuk sekedar alas tidur kami tidak ada diberi oleh pemerintah,” imbuh pria bertubuh kurus yang selama ini tak memiliki pekerjaan tetap itu.

Kini, keluarga kecil yang hidup pas-pasan itu sedikit lega dengan adanya bantuan tenda dari BNPB yang diserahkan melalui camat dan lurah. Dengan adanya bantuan tenda, Ibrahim dan keluarga sudah tak lagi menempati kamar mandi dan jamban sebagai tempat hunian.(id24)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE