Ratusan siswa SD Negeri 058123 Alur Pakis bersama mahasiswa UISU dan guru di lokasi sekolah darurat pascabanjir, Desa Harapan Makmur, Kabupaten Langkat
LANGKAT (Waspada.id): Bencana banjir bandang yang melanda Desa Harapan Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada 25 November 2025 silam meninggalkan luka mendalam bagi dunia pendidikan. SD Negeri 058123 Alur Pakis, satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut yang melayani 111 siswa hancur akibat terjangan banjir. Enam dari delapan ruang kelas rusak berat, menyisakan keprihatinan mendalam bagi seluruh warga desa.
Lebih dari tujuh minggu pascabencana, kondisi pembelajaran anak-anak di desa itu masih sangat memprihatinkan. Tingkat kehadiran siswa hanya mencapai 58 persen, jam belajar efektif anjlok dari 35 jam menjadi hanya 12 jam per minggu, dan ketersediaan buku pelajaran tinggal 35 persen. Dari delapan guru, empat di antaranya masih mengalami trauma berat pascabanjir.

Di tengah kondisi darurat itulah tim Program Mahasiswa Berdampak (PMB) 2026 dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) hadir membawa harapan. Sebanyak 50 mahasiswa dari Program Studi Manajemen, Pendidikan Sejarah, dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) terjun langsung ke desa tersebut selama satu bulan penuh pada Februari 2026, didampingi tiga dosen pembimbing yang diketuai Dr. Evi Susilawati, S.Pd., M.Pd.

Program bertajuk “Pemberdayaan Ibu PKK dan BKM Masjid untuk Penguatan Manajemen Ekstrakurikuler Kewirausahaan Berbasis Kearifan Lokal pada Sekolah Darurat Pascabanjir di Desa Harapan Makmur, Kabupaten Langkat” ini menyasar dua kelompok masyarakat sekaligus: Ibu-ibu PKK Desa Harapan Makmur dan pengurus BKM Masjid Nurul Ikhwana.
Masjid Jadi Ruang Belajar, PKK Jadi Pengelola Kegiatan
Salah satu terobosan program ini adalah menggunakan Masjid Nurul Ikhwana sebagai ruang belajar alternatif. Masjid yang terletak di dataran lebih tinggi sehingga tidak terdampak banjir ini menjadi pusat kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler kewirausahaan bagi siswa SD Negeri 058123 Alur Pakis. BKM Nurul Ikhwana selaku pengelola masjid didampingi mahasiswa PPKn UISU dalam menyusun pedoman pengelolaan sekolah darurat berbasis masjid, mengatur zonasi ruang dan waktu pembelajaran, serta membangun mekanisme koordinasi sosial antara BKM, orang tua siswa, relawan pendidikan, dan pemerintah desa.
Selanjutnya, Ibu-ibu PKK didampingi mahasiswa Manajemen dan Pendidikan Sejarah dalam menyusun sistem manajemen kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan berbasis pangan lokal. Siswa SD Negeri 058123 Alur Pakis secara langsung mempraktikkan pembuatan Keripik Pisang, Peyek Teri Kacang, dan Jenang yang merupakan tiga produk pangan khas Dusun IV Alur Pakis yang kaya nilai kearifan lokal. Melalui praktik ini, nilai-nilai kemandirian, kreativitas, dan jiwa wirausaha ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.
7 Buku Ajar Inovasi sebagai Warisan Program
Program PMB 2026 UISU menghasilkan 7 Model Inovasi Produk PMB yang diserahkan resmi kepada kedua mitra. Untuk mitra PKK, tim PMB UISU: (1) Model Sistem Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Kewirausahaan, (2) Model Kegiatan Ekstrakurikuler Berbasis Kearifan Lokal, (3) Model Instrumen Evaluasi dan Monitoring Kegiatan, (4) Model Pendampingan Partisipatif PKK–Mahasiswa. Untuk mitra BKM diserahkan 3 Model Inovasi Produk yaitu: (1) Model Pengelolaan Sekolah Darurat Berbasis Masjid, (2) Model Koordinasi Sosial dan Komunikasi Komunitas, (3) Model Pendampingan Kelembagaan BKM–Mahasiswa untuk Sekolah Darurat Berbasis Masjid. Seluruh model inovasi ini dirancang dengan bahasa yang komunikatif agar dapat diterapkan secara mandiri oleh PKK dan BKM bahkan setelah program selesai.
Kontribusi pada SDGs dan Asta Cita
Program ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Harapan Makmur yang dipimpin Kepala Desa Wahono Iskandar, S.E. Program ini berkontribusi pada pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Kelembagaan yang Tangguh), serta selaras dengan Asta Cita pemerintahan dalam hal penguatan sumber daya manusia dan ketahanan sosial masyarakat terdampak bencana.
Tim PMB UISU berharap pedoman dan modul yang telah disusun dapat menjadi rujukan permanen dab tidak hanya untuk kondisi darurat saat ini, tetapi juga sebagai panduan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang. Kabupaten Langkat dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerentanan banjir tertinggi di Sumatera Utara.
Program Mahasiswa Berdampak yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Nomor Kontrak: 040/C3/AL.04.03/PM-PMB PDB/2026) ini diharapkan menjadi model replikasi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas lokal yang dapat diterapkan di daerah terdampak bencana lainnya di Indonesia.(id12)












