P.SIDIMPUAN (Waspada.id): Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padangsidimpuan ajak umat Islam untuk tidak mendekati atau menjauhi perilaku syirik dan riya maupun berbagai hal dalam tradisi dan budaya yang cenderung dekat dengan syirik.
“Selain menyembah berhala, kuburan, jin dan syetan, meminta pertolongan selain kepada Allah SWT merupakan perbuatan syirik, maka harus dijauhi,” Kata Ketua Komisi Dakwah MUI Padangsidimpuan, ustadz Drs. H. Syahid Muammar Pulungan, SH dalam kajian Ramadhan di aula Kantor MUI Padangsidimpuan, Senin (2/3/2026).
Kajian Ramadhan hari keempat dengan topik “Syirik dan riya perusak ibadah dalam Islam” dihadiri Ketua MUI Padangsidimpuan ustadz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA bersama Bendahara MUI, Rawady Daulay dan pengurus lainnya, petugas Dinas Pemadam Kebakaran Padangsidimpuan, dan berbagai elemen masyarakat.

Ustadz Syahid Muammar Pulungan menjelaskan Syirik ini terbagi dua yakni Syirik Akbar/Zohir seperti menyembah berhala, meminta pertolongan selain kepada Allah dan perilaku yang mengakui kekuatan mutlak selain kepada Allah. Kemudian ada yang disebut dengan Syirik Khofi/kecil
Perbuatan syirik Akbar, ucapnya sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam dan perbuatan yang dibenci oleh Allah sebagaimana tertuang dalam QS. An l-Nisa : 48 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
Bahkan Allah SWT telah mengingatkan umat manusia agar tidak menpersekutukanNya sebagaiman tertuang dalam QS Azzumar : 65 yang artinya “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu.Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi“.
Sedangkan syirik kecil (Khofi), lanjut Syahid Muammar berupa beribadah ingin dipuji, memakai jimat untuk kesuksesan, keberuntungan dan kekuatan, semangat ibadah karena dilihat orang serta bacaan sholat diperindah saat jadi imam untuk dipuji.
Kemudian perilaku kecewa jika tidak dipuji, malas beribadah jika sendiri, suka menceritakan amal ibadah dengan tujuan dipuji serta amal kendor dan bahkan berhenti jika dikritik, juga merupakan bagian dari syirik kecil.
Ia mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga telah mengingatkan agar umatnya tidak berbuat syirik sebagaimana tertuang dalam hadis yang artinya barang siapa meninggal dalam keadaan syirik,maka ia masuk neraka (HR.Muslim).
Terkait dengan upaya mengatasi agar tidak berbuat riya, ustadz Syahid Muammar Pulungan menegaskan luruskan niat, biasakan beramal dan beribadah secara rahasia (tidak harus dilihat orang), tanamkan dalam diri bahwa pujian tidak akan menambah pahala dan celaaan tidak akan mengurangi ridonya Allah.
Kemudian tanamkan rasa takut dan khawatir bahwa amal ditolak atau tidak diterima Allah, perbanyak istighfar, zikir dan muhasabah, tanamkan dalam diri bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui segala perbuatan lahir dan batin.

Kajian Ramadhan tentang Syirik dan Riya yang dimoderatori ustadz Romi Iskandar Rambe, SH, cukup menarik perhatian peserta karena perbuatan syirik erat kaitannya dengan tradisi dan budaya masyarakat seperti yang ditanyakan salah seorang peserta tentang anak baru lahir diberi gelar terbuat dari benang dan ramuan.
Kemudian ada yang yang bertanya tentang pemahaman warga tentang menjaga mayit tidak busuk sebelum dikafani dengan meletakkan benda tajam yang berkarat di bawahnya.
Ustadz Syahid Muammar Pulungan dengan tegas mengatakan bahwa hal-hal seperti itu merupakan ajaran animisme yang masih sering dipercaya oleh masyarakat. “Itu bisa digolongkan kepada perbuatan syirik,” katanya.(id46).












