PEMATANGSIANTAR (Waspada): Masih berlangsungnya panen di sentra produksi cabai merah (Agustus-Oktober 2024) menyebabkan harganya terus mengalami penurunan.
“Juga menyebabkan capaian inflasi yang rendah di Kota Pematangsiantar dan Kab. Labuhanbatu,” sebut Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Muqorobin tentang perkembangan inflasi di wilayah kerja KPw BI Pematangsiantar periode September 2024, Selasa (1/10).
Selain itu, menurut Muqorobin, pemutusan hubungan kerja (PHK) yang cukup tinggi di Sumut juga berdampak pada daya beli masyarakat, hingga menyebabkan capaian inflasi yang rendah dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara, perkembangan inflasi di wilayah kerja KPw BI periode September 2024 untuk Pematangsiantar inflasi 0,09 persen (mtm), 2,45 persen (yoy) dan 1,57 persen (ytd), Labuhanbatu deflasi -0,46 persen (mtm), 1,23 persen (yoy) dan 1,30 persen (ytd).
Sedang Sumut, deflasi -0,21 persen (mtm), 1,40 persen (yoy) dan 0,46 persen (ytd) serta nasional deflasi -0,12 persen (mtm), 1,84 persen (yoy) dan 0,74 persen (ytd).
Komoditas dengan andil inflasi terbesar di Pematangsiantar secara bulanan (mtm) yakni tomat 0,04 persen, sawi manis 0,04 persen, bayam 0,04 persen, andaliman 0,03 persen dan kopi siap saji 0,03 persen.
Sedang komiditas dengan andil deflasi terbesar di Pematangsiantar secara bulanan (mtm) yakni cabai merah -0,17 persen, ikan dencis -0,06 persen, kentang -0,03 persen, bawang merah -0,02 persen dan wortel -0,02 persen.
Sementara, komiditas dengan andil inflasi terbesar di Labuhanbatu secara bulanan (mtm) yakni cabai rawit 0,05 persen, ikan lele 0,04 persen, minyak goreng 0,003 persen, mi 0,03 persen dan shampoo 0,03 persen.
Sedang komoditas dengan andil deflasi terbesar Labuhanbatu secara bulanan (mtm) yakni cabai merah -0,44 persen, ikan kembung -0,08 persen, bawang merah -0,08 persen, kentang -0,05 persen dan cabai hijau -0,05 persen.(a28).












