SIBOLGA (Waspada.id): Pemerintah Kota (Pemko) Sibolga bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II terus memperkuat koordinasi dan sinergi dalam upaya normalisasi aliran sungai pascabencana banjir dan longsor yang melanda Kota Sibolga pada 25 November 2025 lalu. Langkah ini dilakukan guna meminimalkan risiko banjir susulan di wilayah terdampak.
Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan koordinasi yang digelar di Aula Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Sibolga, Selasa (6/1/2026) malam.
Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry Penarik, dalam pertemuan itu memaparkan kondisi sejumlah sungai di Kota Sibolga, di antaranya Sungai Aek Doras, Aek Sihopo-hopo, Aek Parombunan, Aek Muara Pinang, Aek Horsik, dan Aek Muara Bayon. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BBWS Sumatera II dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) atas komitmen nyata dalam upaya normalisasi sungai untuk memulihkan fungsi infrastruktur pengendali air.

Menurut Wali Kota, Pemko Sibolga sebelumnya telah melakukan penanganan awal berupa pengerukan Sungai Aek Doras. Namun, curah hujan yang tinggi disertai kondisi cuaca tidak menentu menyebabkan aliran air menjadi deras dan sedimentasi meningkat, sehingga sempat terjadi luapan air ke jalan dan permukiman warga.
“Melalui sinergi dan koordinasi yang baik antara Pemko Sibolga, Kementerian Pekerjaan Umum, BBWS Sumatera II, serta PT WIKA, penanganan normalisasi Sungai Aek Doras kini mulai menunjukkan hasil. Saat hujan deras pada 2 Januari 2026, aliran sungai tidak lagi meluap ke jalan maupun rumah warga,” ujar Wali Kota.
Wali Kota Sibolga didampingi Wakil Wali Kota Pantas Maruba Lumban Tobing berharap agar penanganan normalisasi sungai dapat dilakukan secara serius dan berkelanjutan, termasuk melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) di sepanjang Sungai Aek Doras. Pasalnya, masih terdapat sejumlah tanggul yang mengalami kerusakan akibat derasnya arus air saat bencana 25 November 2025.
Sementara itu, Kepala BBWS Sumatera II, Feriyanto Pawenrusi, menyampaikan bahwa pada 26 November 2025 pihaknya telah berada di Tarutung untuk menangani pembukaan akses Jalan Tarutung–Sibolga yang terdampak longsor. Ia menjelaskan, alat berat BBWS Sumatera II menjadi yang pertama dikerahkan guna membuka akses jalan yang sempat terputus di sejumlah titik.
“Fokus utama saat itu adalah membuka akses logistik menuju Sibolga, mengingat Sibolga merupakan pusat perekonomian dan jalur distribusi utama, termasuk akses menuju Nias. Setelah akses terbuka, barulah penanganan di daerah lain dilakukan secara bertahap,” jelasnya.

Feriyanto menambahkan, terdapat dua sungai yang memiliki pengaruh signifikan terhadap potensi banjir di Kota Sibolga, yakni Sungai Aek Doras dan Sungai Aek Sihopo-hopo. Saat ini, tujuh unit alat berat telah dikerahkan untuk penanganan Sungai Aek Doras, sementara Sungai Aek Sihopo-hopo akan segera ditangani dalam waktu dekat.
“Penanganan tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi akan dilanjutkan dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Sungai Aek Doras dan Sungai Aek Sihopo-hopo menjadi tanggung jawab program kami dan akan segera dilakukan aksi lanjutan,” tambahnya.
Menutup pertemuan, Wali Kota Sibolga menjelaskan bahwa lokasi pembuangan sedimen sungai sementara diarahkan ke kawasan Pantai Ujung Sibolga, yang sebelumnya merupakan area pemecah ombak dan kini telah menjadi daratan. Ia kembali menyampaikan apresiasi kepada BBWS Sumatera II dan PT WIKA atas dukungan dan komitmen dalam penanganan serta normalisasi sungai di Kota Sibolga.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Sibolga Drs. Herman Suwito, M.M., Kepala JFT Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB Gatot Satria Wijaya, Kepala Dinas PUPR Kota Sibolga Arif Rahman, S.T., Kepala Bagian Perekonomian dan Kesra Setda Kota Sibolga Riwansyah, S.ST., M.M., jajaran BBWS Sumatera II, serta perwakilan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (Tnk)











