Sumut

PNS Ngaku Dikeroyok di Pematangsiantar, Oknum Pejabat Pajak-Dokter Disebut Ikut Terlibat

PNS Ngaku Dikeroyok di Pematangsiantar, Oknum Pejabat Pajak-Dokter Disebut Ikut Terlibat
SZ memperlihatkan luka memar usai insiden yang terjadi. (Waspada.id/Ata)
Kecil Besar
14px

PEMATANGSIANTAR (Waspada.id): Kasus seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial SZ, 33, mengaku dikeroyok di Kota Pematangsiantar menjadi perhatian. Oknum pejabat pajak-dokter disebut-sebut ikut terlibat dalam peristiwa tersebut.

Kepada wartawan, SZ menceritakan tindak pidana pengeroyokan itu terjadi pada, Minggu (5/4/2026) malam, di teras rumahnya. Selain keduanya, beberapa orang lainnya juga mendatangi kediamannya di seputaran Kecamatan Siantar Sitalasari dengan mengendarai dua mobil.

“Rombongan mereka datang (ada empat sampai lima orang) dan teriak memanggil namaku. Kami keluarga sudah beristirahat, digedor rumah kami,” ucap SZ saat didatangi di kediamannya, Selasa (7/4/2026).

Dikatakan, usai pintu dibuka, situasi berubah menjadi ricuh. SZ menyebut, ia menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan secara bersama-sama. Ia berusaha mencoba lari dan berteriak guna meminta pertolongan tetangga.

“Memar di sekujur tubuh, baik dari kepala, badan, tangan dan sebagainya. Inipun masih syok, belum berani ke luar rumah,” ujarnya.

Tidak berselang lama, SZ kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Pematangsiantar tertanggal 6 April 2026. Dalam laporannya, ia mengadukan IAT dan kawan-kawan atas dugaan tindak pidana pengeroyokan UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 262.

Dia merinci, IAT berdinas di Kantor Pajak Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lalu, JS berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit (RS) di Kota Pematangsiantar. Sementara dua orang, SZ mengaku teman JS dan IAT. “Satu lagi kurang kenal aku,” katanya.

SZ bilang, permasalahan pengeroyokan dipicu karena kerja sama warung kopi (warkop) yang dikelola dengan bagi hasil. Warkop mulai dikelola awal Januari tahun ini dengan skema IAT menyewa lahan. Sedangkan keperluan bahan hingga peralatan menjadi tanggung jawab SZ.

“Total keuntungan hanya Rp61 ribu sampai saat ini (masih terbilang merintis). Belum lagi gaji pekerja dan sebagainya,” tuturnya.

Sementara itu, dr JS membantah tudingan namanya ikut terseret dalam peristiwa tersebut. Dia mengaku tidak berbuat apa-apa saat datang ke lokasi kejadian bersama seorang rekannya.

“Agak cukup heran, nama saya kok diikut-ikutkan. Kedatangan saya untuk melerai pertikaian karena yang berseteru masih keluarga (antara IAT dengan SZ, red),” kata dr JS saat ditemui di Kabupaten Simalungun, malam.

“Saya berani bertanggungjawab bila ada terlibat dalam peristiwa yang katanya pengeroyokan. Saya akan kooperatif, mengikuti proses hukum yang berlaku. Saya siap,” katanya mengakhiri. (Ata)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE