TAPSEL (Waspada.id) : PT Agincourt Resources (AR), pengelola Tambang Emas Batang Toru, turun tangan bantu percepatan normalisasi Sungai Garoga, Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pascabanjir bandang pada akhir Desember 2025.
Normalisasi Sungai Garoga yang dikomandoi Pemda Tapsel dan dibantu PTAR dengan mengerahkan sejumlah alat berat telah berjalan sekitar dua minggu. Dari 8 kilo meter alur sungai Garoga yang dinormalisasi, baru sekira 6 kilo meter yang selesai dikerjakan.
Senior Supervisor Operation TSF PTAR, April Nainggolan, ketika ditemui di sekitar aliran Sungai Garoga yang sedang dinormalisasi, Rabu (14/1/2026), mengatakan keterlibatan PTAR dalam kegiatan tersebut bersifat mendukung, khususnya dalam penyediaan alat berat dan pengangkutan material.
“Untuk teknis penentuan stabilitas aliran sungai sepenuhnya berada di bawah kewenangan Dinas PU Tapsel. PTAR bertugas membantu dengan menyiapkan alat berat, melakukan pekerjaan pelebaran sungai, serta mengangkut material bebatuan dari dasar sungai,” katanya.
Ia menyebutkan, ribuan kubik material bebatuan yang terbawa banjir bandang telah dikorek dan disingkirkan dari aliran sungai Garoga.Selain bebatuan bercampur pasir, pihaknya juga menyingkirkan kayu berbagai jenis ukuran dari aliran sungai tersebut.
Kemudian, material galian c yang disingkirkan untuk menormalisasi sungai Garoga itu, sebagain diangkut dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan Rumah Hunian Sementara (Huntara) dan Rumah Hunian Tetap (Huntap) bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Batangtoru.
Ditanya tentang material yang diangkut untuk kebutuhan pembangunan Huntara dan Huntap Di Kecamatan Batang Toru, April Nainggolan menuturkan sekira 200 dump truck berukuran kecil.
Pekerjaan normalisasi Sungai Garoga, ungkapnya telah berlangsung selama kurang lebih dua pekan. Pada tahap awal, PTAR menurunkan lima unit alat berat. Namun dua unit diantaranya dialihkan untuk persiapan lahan pembangunan Huntara dan Huntap.
Selain pengerjaan sungai, PTAR juga berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan daerah dalam pengumpulan kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus banjir dan tersebar di sepanjang alur sungai maupun permukiman warga.
Ditanya tentang kendala yang dihadapi, April Nainggolan menjelaskan, proses normalisasi sungai tidak lepas dari kendala. Hujan di wilayah hulu kerap memicu banjir susulan yang berisiko menenggelamkan alat berat dan mengganggu jalannya pekerjaan, sehingga alat harus dievakuasi demi keselamatan.
Terkait dengan personel yang ditugaskan PTAR untuk membantu normalisasi sungai Garoga yang dikerjakan hingga malam hari, April menegaskan, PTAR mengerahkan 10 personel yang terdiri dari lima operator alat berat, tiga pendamping, dan dua orang pengawas untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai prosedur dan aman.(id46)
















