SAMOSIR (Waspada.id): Betty Agustina Sihombing, 41, ibu dari seorang pelajar yang meninggal dunia di Kabupaten Samosir, mengungkapkan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi anaknya selama ini, terutama terkait kebutuhan pendidikan.
Hal itu disampaikan Betty saat menerima utusan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Utara, Drs Rapidin Simbolon MM, yang mengirimkan tim untuk melayat ke rumah duka di Kecamatan Simanindo, Rabu (1/4).
“Saya tidak pernah menyangka peristiwa ini terjadi pada keluarga kami,” ujar Betty, mengenang anaknya, PJS, pelajar kelas X di SMA Negeri 1 Ambarita.
Di rumah sederhana itu, Betty bersama suaminya, Tunggul Sidabutar, 63, menerima kedatangan tim yang terdiri dari August Sinaga, Nikojoyo Sinaga, Rutam Situmorang, dan Amon Sormin, didampingi Ketua PR PDI Perjuangan setempat, R Sinaga.
Menurut Betty, putranya dikenal sebagai anak yang pendiam. Ia sempat berencana menyekolahkan anaknya di Deliserdang, namun keterbatasan biaya membuat rencana itu urung terlaksana.
“Karena ada sekolah rakyat di sana. Tapi karena tidak mampu, akhirnya masuk ke SMA Negeri 1 Ambarita jalur afirmasi,” katanya.
Dalam keseharian, suaminya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi fisik yang semakin menurun membuat pekerjaan semakin terbatas.
“Untuk makan sehari-hari saja kami sudah kesulitan, apalagi untuk kebutuhan sekolah,” ujar Betty.
Ia berharap anak keduanya, PAS, 14, dapat melanjutkan pendidikan tanpa mengalami kesulitan serupa. Menurutnya, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sempat berkunjung dan menjanjikan bantuan pendidikan, namun belum ada kepastian.
“Tolong kami Pak Rapidin, agar anak kami bisa terbantu untuk melanjutkan sekolah,” katanya.
Warga setempat, R Sinaga, menuturkan bahwa almarhum selama ini juga berusaha membantu dirinya sendiri. Saat masih SMP, PJS kerap bekerja di ladang warga untuk membiayai sekolahnya.
“Saya sering mempekerjakan dia di ladang supaya ada biaya sekolahnya. Tapi belakangan tidak lagi karena ladang kering dan tidak ada pekerjaan,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, PJS setiap hari berjalan kaki sekitar kurang lebih 10 kilometer sepulang sekolah.
Orang tuanya hanya mampu membiayai ongkos sekali jalan pada pagi hari, dan itu pun setengah jalan.
Dari rumahnya dia harus jalan kaki ke Desa Tomok 5 Km, lalu setengah jalan naik bus sekolah dengan ongkos 2000 rupiah.
Sebaliknya, pulang sekolah dari SMAN 1 Simanindo ke Desa Tomok dengan ongkos 2000 rupiah, kemudian melanjutkan perjalanan ke rumahnya sejauh 5 Km dari Desa Tomok.
“Jadi dalam sehari, total ada 10 Km dia jalan kaki,” ujar Sidabutar, tetangganya yang diwawancara.
Berbeda saat masih SMP, ketika ia masih sempat bekerja sepulang sekolah, saat di SMA waktu belajar yang lebih panjang hingga pukul 16.00 WIB membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mencari tambahan biaya.
“Pulang sekolah sudah sore, sampai di rumah hampir malam, jadi tidak ada waktu lagi untuk bekerja,” ujar seorang warga lainnya.
Meski dalam keterbatasan, PJS dikenal sebagai siswa berprestasi. Ia tercatat berada di kelas unggulan dan sempat meraih peringkat lima besar di sekolahnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan keluarga tersebut tinggal di rumah sederhana berukuran sekitar 4 x 6 meter, dalam kondisi terbatas dan tanpa akses air yang memadai dan kumuh.
Sebelum meninggalkan rumah duka, utusan Rapidin memberikan penguatan kepada keluarga serta menyerahkan bantuan sembako
Peristiwa bunuh diri itu terjadi pada Senin (30/3/2026) pagi.
Suasana di desanya masih subuh dan suasana kepanikan pecah dari rumah keluarga Sidabutar. Tunggul Sidabutar menemukan anaknya sudah tidak bernyawa di kamar mandi.
Korban, PJS ditemukan sekitar pukul 05.30 WIB. Warga yang mendengar kabar segera berdatangan setelah keluarga meminta pertolongan.
Kepolisian dari Polsek Simanindo yang menerima laporan langsung turun ke lokasi.
Kapolsek Simanindo, Iptu Ramadan Siregar, menyampaikan bahwa dari hasil olah tempat kejadian perkara tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. “Di lokasi ditemukan satu utas tali rafia berwarna hitam. Tidak ada benda mencurigakan lainnya,” ujarnya.
Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk keluarga dan warga sekitar. Korban dikenal sebagai pribadi tertutup dan jarang mengungkapkan persoalan yang dihadapinya.
Pihak keluarga menerima peristiwa ini sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Namun, di balik peristiwa tersebut, tersimpan persoalan yang lebih luas. Keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan masih menjadi tantangan nyata bagi sebagian masyarakat di daerah.
Dalam keseharian, JPS harus menempuh perjalanan panjang untuk bersekolah, dalam kondisi serba terbatas.
Perhatian terhadap keluarga korban pun datang dari berbagai pihak, termasuk Rapidin Simbolon yang mengutus perwakilan untuk menyampaikan belasungkawa dan dukungan. (id103)










