BATANG TORU (Waspada.id): Anggota DPRD Sumatera Utara, Abdul Rahim Siregar, melaksanakan Reses II Tahun Persidangan 2025/2026 di Desa Aek Pining, Kecamatan Batang Toru, Sabtu (21/2). Kegiatan yang dihadiri lebih dari 120 warga berlangsung hangat dan partisipatif, dengan dominasi kehadiran kaum ibu serta generasi muda yang aktif menyampaikan aspirasi.
Dialog terbuka yang berlangsung hampir dua jam itu menjadi ruang penyampaian berbagai persoalan mendasar masyarakat, mulai dari layanan kesehatan, krisis air bersih, hingga kebutuhan penciptaan lapangan kerja.
Salah satu keluhan utama masyarakat adalah pengadaan obat di puskesmas yang mengharuskan warga menebus resep ke apotek di Padangsidimpuan. Jarak tempuh yang cukup jauh membuat biaya transportasi menjadi beban tambahan, terutama bagi keluarga kurang mampu dan para lansia.
Warga meminta agar distribusi obat dapat difasilitasi langsung di wilayah Batang Toru sehingga pelayanan kesehatan lebih efektif, efisien, dan tidak membebani masyarakat. Mereka juga berharap adanya evaluasi sistem distribusi obat serta penguatan stok di puskesmas.
Menanggapi hal tersebut, Abdul Rahim menegaskan bahwa pelayanan kesehatan adalah hak dasar masyarakat yang harus dipenuhi tanpa menambah beban biaya.
Krisis Air Bersih
Selain kesehatan, persoalan paling krusial yang disuarakan warga adalah krisis air bersih yang masih terjadi, terutama saat musim kemarau. Ketergantungan pada sumur bor dinilai tidak lagi menjadi solusi jangka panjang karena debit air sering menurun.
Masyarakat berharap adanya pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) serta dukungan jaringan perpipaan agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Abdul Rahim menyatakan persoalan air bersih akan menjadi prioritas utama untuk segera dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan pihak terkait, termasuk mendorong kajian teknis sumber air serta dukungan anggaran.
Generasi muda Batang Toru juga menyampaikan keresahan terkait minimnya lapangan pekerjaan, meski daerah tersebut memiliki potensi sumber daya alam yang besar dari sektor perkebunan dan pertambangan.
Warga meminta adanya pelatihan kewirausahaan, akses permodalan, serta penguatan sektor usaha kecil dan menengah agar potensi lokal dapat memberi dampak langsung bagi ekonomi masyarakat.
Menurut Abdul Rahim, pemberdayaan ekonomi berbasis potensi daerah harus menjadi agenda strategis pemerintah, termasuk melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha desa, dan perluasan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
Komitmen Kawal Aspirasi
Di akhir kegiatan, Abdul Rahim menegaskan bahwa reses bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan politik untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat.
“Aspirasi ini tidak akan berhenti sebagai catatan. Semua akan saya sampaikan dan kawal agar menjadi kebijakan nyata yang berpihak kepada rakyat,” tegasnya.
Reses di Aek Pining menjadi potret kuat harapan masyarakat Batang Toru terhadap perubahan konkret—pelayanan kesehatan yang lebih adil, ketersediaan air bersih yang layak, serta peluang kerja yang semakin terbuka. Kini, aspirasi tersebut berada dalam kawalan wakil rakyat untuk diperjuangkan hingga terealisasi. (id151)











