BERINGIN, (Waspada.id): Shalat di bulan Suci Ramadan tidak boleh hanya menjadi rutinitas musiman. Pesan itu disampaikan Afkarina, siswi kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ummi Lubukpakam, dalam Safari Dakwah Ramadan di Masjid Jami, Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang, Jumat malam (26/2/26).
Di hadapan sekitar seratusan jamaah dari Desa Sidodadi Ramunia dan sekitarnya, Afkarina menegaskan bahwa shalat lima waktu merupakan sarana komunikasi langsung antara manusia dengan Allah SWT, yang tidak boleh terputus.
“Jaringan ini tidak pernah ada gangguan, tidak pernah putus. Ibadah pada bulan ramadan merupakan momentum terbaik untuk memperbaiki kualitas ibadah, serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT,” sebut Afkarina.

Sejak awal, Afkarina sudah menarik perhatian jamaah dengan pantun.
“Ke Selat Malaka menjala ikan, dapat senangin dibawa ke tepian, salam pembuka saya aturkan, buat para hadirin sekalian,”
Dalam tausyah bertema “ Menjaga Sholat pada Bulan Ramadan” Afkarina juga menyelipkan istilah unik seperti “PSDS (Persatuan Shalat Dua Kali Setahun)” . Hal itu menggambarkan mereka yang hanya sholat Idul Fitri dan shalat Idul Adha, serta PSMS (Persatuan Shalat Magrib Saja) bagi yang hanya menunaikan Shalat Magrib. Ungkapan tersebut mengundang senyum dan tawa kecil jamaah, namun tetap menyampaikan pesan mendalam agar umat Islam tidak menjadikan sholat sekadar ibadah musiman.
Menjelang akhir ceramah, suasana kembali hening saat Afkarina menutup dengan pantun penuh harapan:
“Batang jati berduri-duri,
tumbuh dekat pohon meranti,
tegakkan shalat yang lima kali,
agar selamat akhirat nanti.”
Afkarina juga mengingatkan jamaah bahwa konsistensi shalat lima waktu menjadi fondasi utama dalam membentuk pribadi yang beriman dan bertaqwa, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga di sebelas bulan lainnya.(id.28/Sopian)












