KOTANOPAN (Waspada.id): Tumpukan sampah yang menimbulkan bau busuk menyengat di Jalan Keliling Pasar Kotanopan, Kelurahan Kotanopan, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, membuat warga sekitar maupun yang melintas resah dan mengeluh. Masalah ini bahkan sudah berlangsung lama, hingga mengganggu aktivitas ekonomi dan kesehatan masyarakat, serta kontras dengan slogan Kotanopan sebagai “Kota Pejuang”.
Sekretaris Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Genta Madina, Chandra Siregar, menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Kantor Camat Kotanopan, Kamis siang (12/03/2026). Ia mengatakan warga mendesak Lurah Kotanopan, Kepala Pasar Kotanopan, Camat Kotanopan, dan Wakil Bupati Mandailing Natal untuk bertindak cepat membersihkan sampah yang sudah membusuk itu.
“Seharusnya Lurah, Kepala Pasar Kotanopan, dan Camat Kotanopan kompak membersihkan tumpukan sampah setiap minggunya agar warga tidak protes. Wakil Bupati juga harus memperhatikan masalah ini,” ujar Chandra.
Menurut Chandra, meski sampah tersebut sebagian berasal dari warga, ada dugaan juga berasal dari pedagang yang berjualan setiap hari Sabtu. Ia menegaskan kondisi tumpukan sampah di kawasan itu kian memprihatinkan, tidak hanya merusak estetika tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan kesehatan warga.
Kondisi ini bukan masalah baru. Berdasarkan pengakuan warga dan pedagang, persoalan sampah di titik tersebut belum terselesaikan sejak Oktober 2025. Bahkan, beberapa warga menyebutkan pembiaran ini sudah terjadi secara berangsur-angsur sejak tahun 2023 tanpa solusi konkret dari pihak berwenang.
Seorang pedagang marga Lubis yang rutin berjualan di lokasi tersebut mengungkapkan kekesalannya. Ia merasa dirugikan karena harus berdagang berdampingan dengan tumpukan sampah yang sudah berbulan-bulan tidak diangkat, padahal ia dan pedagang lain rutin membayar uang kebersihan.
“Kami bayar iuran, tapi fasilitas bobrok. Jalan Keliling ini punya nilai sejarah sejak zaman Belanda, tapi sekarang kondisinya buruk. Jangan karena letaknya agak tertutup dari keramaian utama, lalu instansi terkait jadi buta mata,” tegasnya.
Warga juga menyoroti ketiadaan fasilitas bak sampah yang memadai di lokasi strategis, sehingga pembuangan sampah menjadi tidak terkontrol dan menumpuk di badan jalan, mengganggu pandangan serta sirkulasi pembeli.

Ironisnya, tumpukan sampah ini masih terpantau menggunung hingga Kamis pagi (12/03/2026), padahal momen Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata. Masyarakat menyesalkan sikap abai oknum yang dinilai hanya mementingkan pencitraan estetika di jalur utama, namun mengabaikan kondisi riil di pasar yang menyentuh hajat hidup orang banyak.
“Sangat memprihatinkan, seorang pemangku kebijakan yang merupakan warga asli sini seolah tak peduli dengan tanah kelahirannya sendiri. Jalan Keliling ini bagian dari sejarah, jangan dibiarkan menjadi tempat sampah abadi,” tambah warga lainnya.
Masyarakat kini menuding instansi terkait yang membidangi kebersihan dan pasar bertanggung jawab. Mereka mendesak Dinas Lingkungan Hidup maupun pengelola pasar segera turun tangan mengangkut sampah dan menyediakan bak sampah besar agar masalah ini tidak terus berulang.
Sementara itu, Kepala Pasar Kotanopan, Arfan, saat dikonfirmasi via selular pada hari yang sama, mengutarakan bahwa pengangkutan sampah di Kotanopan kini menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup setiap minggunya, setelah sebelumnya dipegang oleh pihak Perdagangan.
“Mereka (Dinas Lingkungan Hidup) seharusnya sudah mengangkutnya. Sampah tersebut bukan hanya sampah pedagang, tapi sudah bercampur dengan sampah yang dibuang warga,” ujar Arfan, Kamis (12/3).
Hingga berita ini diturunkan, tumpukan sampah di Jalan Keliling Kotanopan masih menjadi beban bagi para pedagang dan masyarakat yang melintas. (id100)











