BERINGIN (Waspada.id): Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Karang Anyar, kecamatan Beringin, terus bejalan optimal.
Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) Karang Anyar, melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk balita, serta ibu hamil.
“Anggaran per porsi yang ditetapkan pemerintah tergantung kategori penerima manfaat,” kata Kepala SPPG Karang Anyar, Jona Nainggolan kepada Waspada.id, Senin (26/1/26).
Dijelaskan Jona Nainggolan, untuk balita dan siswa SD kelas 1 sampai kelas 3, dialokasikan sebesar Rp8.000 per porsi, siswa SD kelas 4 hingga SMP, SMA, SMK, serta ibu hamil mendapatkan alokasi Rp10.000 per porsi. Sisanya dialokasikan untuk insentif fasilitas sebesar Rp2.000, dan biaya operasional Rp3.000 per porsi.

“Secara keseluruhan, SPPG Karang Anyar yang berlokasi di Dusun I Timur, melayani sebanyak 3.020 siswa dari 19 sekolah, baik negeri maupun swasta yang tersebar di wilayah Desa Karang Anyar, dan Desa Beringin,” paparnya.
Sedangkan jenjang pendidikan, tambahnya, terdiri dari empat taman kanak-kanak (TK), tujuh sekolah dasar (SD), lima sekolah menengah pertama (SMP) dua sekolah menengah kejuruan (SMK), dan satu sekolah menengah atas (SMA).
Selain peserta didik, program MBG pihaknya juga menjangkau sekitar 200 balita, dan ibu hamil yang berada di Desa Karang Anyar dan Beringin.
Dalam hal penyediaan bahan makanan, Jona menegaskan bahwa kualitas dan keamanan pangan menjadi prioritas utama. Setiap bahan pangan yang masuk diawasi secara ketat oleh tim yang dibentuk khusus bersama tenaga ahli gizi.
“Saya bersama tenaga ahli gizi secara berkala mengecek, kelayakan bahan makanan. Jika ditemukan bahan yang tidak memenuhi standar, kualitas dan keamanan pangan, langsung kami kembalikan kepada vendor,” tegasnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, sekaligus meningkatkan perekonomian lokal, SPPG Karang Anyar bekerja sama dengan warga sekitar dalam penyediaan bahan makanan utama. Seperti sayuran segar, tahu, dan tempe.
“Untuk kebutuhan bahan baku, kami mengutamakan pembelian dari warga lokal. Namun, jika kebutuhan tidak terpenuhi dari sumber lokal, barulah kami melakukan pembelian ke pasar tradisional atau pasar modern di sekitar,” papar Jona.
Ia menambahkan, dalam operasional sehari-hari, SPPG Karang Anyar, melibatkan 47 relawan, serta tiga tenaga dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Dari jumlah relawan tersebut, sembilan orang bertugas sebagai tim dapur, yang bertanggung jawab memasak makanan, sesuai standar gizi yang telah ditetapkan. Relawan lainnya berperan sebagai sopir kendaraan distribusi, petugas pencuci peralatan makan (ompreng), petugas pemotong bahan makanan, serta tim distribusi ke setiap titik tujuan.
“Bahkan, sebagai upaya menjamin keamanan pangan, seluruh relawan yang terlibat dibagian produksi dan distribusi makanan, diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala satu bulan sekali,” sebutnya.
Jona menambahkan, sistem distribusi makanan MBG dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB. Pola menu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemudahan penyimpanan. Pada hari Senin hingga Jumat, disajikan menu basah yang dimasak langsung setiap pagi. Seperti nasi, sayur, serta lauk berprotein hewani, maupun nabati. Sementara pada hari Sabtu, SPPG menyediakan menu kering yang lebih praktis, dan mudah dibawa, seperti roti tawar atau gandum, telur rebus, susu bubuk atau cair, serta buah segar, seperti pisang atau apel. (id.28/Sopian)










