BATUBARA (Waspada): Politik SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), adalah praktik politik yang tidak etis dan dapat membahayakan kesatuan sosial dan stabilitas masyarakat Batubara.
Sekretaris PC Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Batubara Alvian Khomeini M.Si, mengatakan itu menanggapi isu-isu kesukuan akhir-akhir ini di Medsos maupun di kalangan masyarakat menjelang Pilkada Batubara 2024, Jumat (13/9).
Menurutnya isu SARA strategi memanipulasi atau memanfaatkan perbedaan-perbedaan identitas seperti suku, agama, ras, atau kelompok sosial tertentu untuk tujuan politik atau pemilihan.” Jika hal ini masih dipakai, tentu dapat mengancam kesatuan sosial, memicu konflik, dan merusak proses demokrasi pada Pilkada Batubara nanti,” tukasnya.
Tokoh muda ini mengatakan sebagai generasi milenial mengimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi politik dan jangan sampai membuat perpecahan.
“Di sini saya yakin, selaku pemuda milenial tentu bisa menyikapi pola kuno ini, alhasil kita yang hidup berdampingan dari berbagai etnis berpotensi terpecah belah jika kita tidak bijak dalam menyikapi ini,” ujarnya.
Kampanye politik yang berlandaskan pada ide, program, dan visi politik lebih elegan, dari pada mengandalkan isu-isu SARA.
Ia mengajak menghindari politik SARA dan identitas ini, agar bisa mempertahankan kesatuan sosial, meningkatkan toleransi dan keragaman serta memelihara demokrasi yang baik.
Wakil Ketua PC TIDAR Ready Ahmad, berharap Bawaslu dan penegak hukum, untuk bersama-sama menjaga Pilkada Batubara 2024 yang damai dan sejuk.
Jalannya demokrasi ini sampai masa kampanye nanti bersama mengawasi dan jika ada mencoba memecah belah kesatuan segera di tindak sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku (a 18)












