P.SIDIMPUAN (Waspada.id) : Mahasiswa Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan edukasi warga Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) memanfaatkan baju bekas tidak layak pakai dan kayu yang dibawa banjir beberapa waktu lalu menjadi produk (barang) bernilai ekonomi.
Putri Riyanti sebagai Koordinator mahasiswa Aufa Royhan yang memberikan edukasi kepada warga terdampak bencana itu melalui Program Mahasiswa Berdampak, Rabu (11/3/2026) mengatakan, kegiatan pengabdian ini bertujuan untung mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pasca terjadinya bencana banjir.
Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 2 sampai 27 Februari 2026, ucapnya melibatkan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Vokasional Desain Fashion (HimaDef), Himpunan Mahasiswa Kewirausahaan (HimaKer) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat (HimaKem) Universitas Aufa Royhan.
Dalam memberikan edukasi dan pelatihan kepada warga terdampak bencana tersebut, mereka dibimbing dan didampingi Tim Dosen Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan yang terdiri dari Khairunnisa Butar-Butar, S.Pd, M.Ds, Nurlaila, S.Pd, MM dan Yulia Pratiwi Siregar, S.Pd, M.Pd.

Upaya pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana, ujar Putri, dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Program Mahasiswa Berdampak yang berfokus pada pemulihan sektor ekonomi Masyarakat melalui pengolahan pakaian donasi tidak layak pakai serta kayu gelondongan menjadi produk baru yang layak pakai dan memiliki nilai jual.
Dalam menjalankan kegiatan Program Mahasiswa Berdampak ini, Tim Universitas Aufa Royhan yang dilepas secara resmi oleh Rektor Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan juga melibatkan masyarakat setempat, khususnya kelompok PKK Setia dan Naposo Nauli Bulung (NNB).
“Kegiatan tersebut berfokus pada pengolahan barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna dan menjadi permasalahan baru bagi desa menjadi produk kreatif yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pasca bencana khususnya di Desa Batuhula,” tuturnya.
Koordinator mahasiswa mengungkapkan, banyak pakaian donasi yang datang setelah bencana tidak lagi layak digunakan secara langsung. Namun melalui proses kreativitas dan keterampilan menjahit, pakaian-pakaian tersebut dapat diolah kembali menjadi berbagai produk baru seperti tas, dompet (pouch), tote bag hingga perlengkapan rumah tangga.
Selain itu, kayu gelondongan yang sebelumnya tidak termanfaatkan diolah menjadi kerajinan tangan dan produk dekoratif yang memiliki nilai estetika serta nilai jual seperti rak serbaguna, kursi lipat dan lampu hias.
“Program ini tidak hanya membantu masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia, tetapi juga memberikan keterampilan baru yang dapat menjadi peluang usaha bagi warga desa,” ujar Putri Riyanti.
Selama kegiatan berlangsung, lanjut Putri, mahasiswa memberikan pelatihan mulai dari proses pemilahan bahan, teknik desain sederhana, proses produksi, hingga strategi pengemasan, pemasaran hingga penentuan harga jual produk.
Masyarakat juga diperkenalkan dengan konsep ekonomi kreatif serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku produk bernilai.

Kepala Desa Batuhula, M. Alinapia Nst, menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap program ini dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk membangun kembali kemandirian ekonomi setelah bencana yang melanda wilayah tersebut.
“Melalui kegiatan mahasiswa ini, masyarakat memperoleh pengetahuan baru tentang bagaimana memanfaatkan barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi produk yang bernilai ekonomi, sehingga menjadi langkah baru bagi Masyarakat terutama pada usaha pemulihan ekonomi” katanya.
Program Mahasiswa Berdampak ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didukung pendanaannya oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program ini dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam memberikan solusi nyata terhadap berbagai permasalahan sosial di masyarakat.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Batu Hula tidak hanya mampu bangkit dari dampak bencana, tetapi juga dapat mengembangkan usaha kreatif berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
“Produk-produk hasil olahan tersebut diharapkan nantinya dapat dipasarkan secara lebih luas sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat serta memperkuat ketahanan ekonomi desa,” tutupnya.(id46).













