TEBINGTINGGI (Waspada.id): Unjuk rasa (Unras) kembali digelar elemen masyarakat menyamakan diri Tebingtinggi Bergerak (TTB). Mereka mendatangi Balai Kota Tebingtinggi dan menuntut bertemu Wali Kota, Senin (2/2) dengan peserta sekira puluhan orang.
Kedatangan puluhan warga itu, disertai alat pengeras suara menggunakan kenderaan pick up serta membawa sejumlah spanduk kertas.
Sesampai di pintu gerbang DPRD mereka ditahan Satpol PP serta aparat kepolisian. Para pengunjuk rasa kemudian melakukan orasi berbagai masalah kota Tebingtinggi.
Beberapa di antara persoalan mengemuka yakni masalah pemilihan kepala lingkungan yang sarat kecurangan, beasiswa urusan daerah (BUD).

Dipersoalkan pula berbagai proyek akhir tahun yang dinilai bermasalah, yakni kolam renang berbiaya Rp3,3 miliar, pasar Inpres berbiaya Rp3, 7 miliar, Pujasera yang semula area manasik haji di halaman Masjid Agung serta masalah pedagang yang enggan menempati pasar meski telah direnovasi.
Selanjutnya atas negosiasi pihak Polres, pengunjuk rasa dari TTB diajak masuk ke halaman Balai Kota. Mereka orasi menunggu kehadiran Sekdako Erwin Suheri yang lagi mengikuti rapat dengan DPRD Sumut.
Saat diterima Sekdako didampingi Kadis DP3M mereka mempertanyakan sejumlah masalah yang mereka bawa.
Terkait pemilihan Kepling jubir pengunjuk rasa meminta agar berbagai kecurangan yang terjadi segera dapat perhatian dan diselesaikan. Menurut pendemo, Pemko terkesan tidak peduli berbagai pelanggaran yang ada.

Misalnya masa jabatan Kepling yang masih ada tapi diberhentikan atau proses pemilihan yang cacat dan curang tapi tetap dilantik. Mengemuka juga masalah BUD yang dituding pendemo menguntungkan anak pejabat.
Sekdako dalam pertemuan itu menjawab tuntutan warga dengan bahasa normatif yang tidak memuaskan pendemo.
“Coba buat DIM (daftar inventarisasi masalah) nanti kita lihat bagaimana,” kilah Erwin yang menimbulkan reaksi tak puas.
Wali Kota Tebingtinggi dikabarkan berada di Jakarta mengikuti Rakornas.
Hingga berita ini dikirim, dialog masih terjadi antara Sekdako dan jubir pendemo. (Lik)












