Teknologi

BMKG Bantah OMC Pemicu Cuaca Ekstrem

BMKG Bantah OMC Pemicu Cuaca Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pemerintah merupakan langkah mitigasi bencana berbasis sains dan bukan pemicu cuaca ekstrem atau ketidakstabilan atmosfer.
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id):Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pemerintah merupakan langkah mitigasi bencana berbasis sains dan bukan pemicu cuaca ekstrem atau ketidakstabilan atmosfer.

Penegasan itu disampaikan merespons narasi yang beredar di media sosial yang menyebut OMC berisiko memicu bencana baru, seperti membuat cuaca tidak stabil, membentuk cold pool, memindahkan hujan, hingga menimbulkan rasa aman palsu.

BMKG menjelaskan, cold pool atau kolam dingin adalah fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. Fenomena ini terjadi ketika air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, lalu membentuk massa udara dingin yang turun ke permukaan.

“Setiap hujan alami pun pasti membentuk cold pool. Mengaitkannya sebagai dampak berbahaya dari OMC merupakan kekeliruan sains,” tegas BMKG.

BMKG juga menekankan, teknik penyemaian awan (cloud seeding) dalam OMC tidak menciptakan awan baru, melainkan hanya memicu proses pada awan yang memang sudah terbentuk secara alami.
Secara energi, teknologi manusia saat ini juga belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar.

OMC hanya mempercepat proses alami pada awan jenuh, bukan membangun sistem pendingin atmosfer buatan.
Terkait tudingan bahwa OMC memindahkan hujan dan berpotensi menyebabkan banjir di wilayah lain, BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan.
Pertama, Jumping Process Method, yakni menyemai awan yang terdeteksi dari laut sebelum masuk daratan agar hujan jatuh di perairan.

Kedua, Competition Method, yaitu penyemaian dini pada awan yang tumbuh di atas daratan untuk mengganggu pertumbuhan awan agar tidak berkembang menjadi Cumulonimbus besar, sehingga intensitas hujan dapat dikurangi.

“Tujuannya bukan memindahkan hujan, melainkan meluruhkan intensitasnya agar tidak ekstrem,” jelas BMKG.

Namun demikian, BMKG mengakui bahwa banjir tidak semata ditentukan oleh curah hujan, tetapi juga oleh daya dukung lingkungan. Hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an disebut sebagai faktor utama berkurangnya daerah resapan.

Karena itu, BMKG menegaskan penataan lingkungan tetap menjadi kunci utama pengendalian banjir. Di sisi lain, upaya mitigasi seperti OMC tetap diperlukan secara paralel, mengingat potensi hujan ekstrem diproyeksikan meningkat akibat perubahan iklim.

“Tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah menciptakan cuaca buruk yang merugikan masyarakat. OMC adalah alat bantu pengelolaan risiko cuaca di tengah keterbatasan daya dukung lingkungan,” tegas BMKG.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Headlines

JAKARTA (Waspada.id): Gempabumi tektonik mengguncang wilayah Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (20/8/2025) malam. Guncangan terjadi pukul 19:54:55 WIB dengan parameter terbaru magnitudo M4,7. Episenter gempa berada di darat pada koordinat…

Sumut

SEIRAMPAH (Waspada): Masyarakat Kab. Serdangbedagai (Sergai) diminta mewaspadai cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Adapun cuaca ekstrem tersebut pada siang hari cuaca panas terik, menurut data BMKG suhu…

Tampak pasien rawat jalan yang mengunjungi Puskesmas Langsa Kota untuk memeriksakan penyakitnya yang didominasi penyakit demam, batuk dan flue, Senin (16/10). Waspada/Rapian.
Aceh

LANGSA (Waspada): Akibat cuaca ekstrem banyak warga yang terserang demam tinggi, batuk dan flu dalam beberapa minggu terakhir ini yang butuh perawatan secara maksimal dan kebanyakan dialami oleh anak-anak. Kepala…