ACEH TAMIANG (Waspada.id): Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Samudra (Unsam) turun langsung melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) membangun sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk pemompaan air bersih dan penerangan di Meunasah Tuha, Tualang Cut, Aceh Tamiang.
Salah satu ketua tim, Dr. Teuku Azuar Rizal, S.T., M.T., kepada wartawan, Jumat (17/04/2026), menjelaskan pascabanjir yang melanda Aceh Tamiang, warga Desa Ie Bintah sempat kesulitan mendapatkan air bersih dan listrik. Aktivitas sehari-hari terganggu, warga harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan air, dengan kondisi yang belum tentu layak digunakan.
Kondisi tersebut, lanjutnya, mendorong tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Samudra (UNSAM) turun langsung melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan membangun sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk pemompaan air bersih dan penerangan.
Program ini tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi membangun sistem yang bisa digunakan dan dirawat oleh masyarakat. Instalasi meliputi panel surya, solar charge controller, baterai, inverter, instalasi kelistrikan, hingga sistem pompa air dan distribusi.
Dijelaskan Dr. Ir. Nasruddin S.T., M.T., IPM. ASEAN. Eng bahwa pendekatan yang digunakan berbasis pemberdayaan. “Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima, tetapi paham cara kerja sistem ini dan mampu mengelolanya sendiri,” ujarnya.
Selanjutnya, pengerjaan sistem dilakukan secara terstruktur oleh tim yakni Prof. Dr. Ir. Hamdani, M.T., IPM., ASEAN Eng menangani pengembangan panel surya, Dr. Ir. Nasruddin, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng bertanggung jawab pada sistem baterai dan inverter, Amalia Harmin, S.T., M.T. mengatur sistem kontrol melalui solar charge controller, sementara Dr. Fazri, S.T., M.T mengerjakan instalasi perkabelan agar distribusi listrik berjalan aman dan efisien.
“Seluruh komponen tersebut terintegrasi untuk menggerakkan pompa air bersih dan menyediakan penerangan di lingkungan masjid dan permukiman warga,” sebutnya.

Sementara salah satu warga Desa Ie Bintah, Tengku Hasan menambahkan, sebelumnya kami harus ambil air sampai sekitar 300 meter dari lokasi, itu pun airnya keruh.
Sementara Rektor Universitas Samudra, Prof. Dr. Ir. Hamdani, M.T., IPM., ASEAN Eng menegaskan bahwa kehadiran perguruan tinggi harus memberi dampak langsung.
“Perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat, terutama saat bencana. Solusi yang kami bangun harus bisa langsung dirasakan manfaatnya,” katanya.
Kini, setelah sistem berfungsi, warga mulai merasakan perubahan nyata. Air bersih sudah dapat diakses langsung di sekitar masjid tanpa harus berjalan jauh, dan penerangan mulai tersedia pada malam hari.
“Sekarang air sudah dekat, tidak perlu jalan jauh lagi. Lampu juga sudah ada, jadi lebih aman malam hari,” kata warga lainnya.
Program ini dilaksanakan bersama masyarakat dan pengurus Masjid Salman Alfarisy, mulai dari perencanaan, pemasangan, hingga sosialisasi penggunaan dan perawatan sistem. Keterlibatan warga menjadi bagian penting agar teknologi ini dapat terus digunakan secara mandiri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pengabdian kepada masyarakat Universitas Samudra. Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Universitas Samudra melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) atas dukungan hibah PKM yang telah diberikan.
“Melalui program ini, Unsam tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membantu masyarakat bangkit dengan solusi yang dapat mereka kelola sendiri di masa depan,” imbuhnya. (Id74)










