Banjir yang melanda Pidie Jaya pada akhir 2025 menyisakan lumpur, kerusakan, dan kebutuhan mendesak akan pemulihan. Di tengah situasi itu, Abral, 32, justru melihat celah: kebutuhan akan perbaikan halaman rumah dan pembangunan sumur manual meningkat tajam.
Di sebuah sudut Gampong Manyang Cut, suara cetakan dan adukan semen menjadi penanda denyut baru ekonomi kecil. Abral, dengan tiga orang pekerja, memproduksi hingga 1.000 paving blok per hari. Setiap orang rata-rata mencetak sekitar 350 butir ritme kerja yang tak hanya mengejar target produksi, tetapi juga permintaan yang terus berdatangan.
“Setelah banjir, banyak yang butuh perbaikan. Halaman rusak, akses becek, sumur juga banyak yang perlu dibuat ulang,” kata Abral kepada Waspada.id, Sabtu (18/4).
Ia tak sekadar menjual produk. Dengan harga Rp1.800 per buah atau Rp95.000 per meter untuk pemasangan, usaha kecil ini menjadi bagian dari proses pemulihan warga. Hingga kini, pesanan yang telah masuk mencapai sekitar 200 meter, sebagian besar dari wilayah Pidie.

Namun, di balik peluang itu, ada keterbatasan. Produksi cincin sumur yang sangat dibutuhkan pascabanjir masih bergantung pada empat cetakan yang dimiliki Abral. Jika sebelumnya satu siklus produksi memakan waktu 10 hingga 12 hari, kini dipaksa dipercepat menjadi sekitar satu minggu.
“Kita kejar waktu, karena orang butuh cepat. Air harus segera tersedia,” ujarnya kepada Waspada.id.
Usaha ini bukan muncul tiba-tiba. Abral telah menekuni pekerjaan serupa selama bertahun-tahun, berpindah dari Trienggadeng ke Bandar Dua, sebelum akhirnya menetap di Manyang Cut. Pengalaman itulah yang kini menjadi modal penting untuk bertahan dan berkembang di tengah krisis.
Bagi Abral, banjir memang membawa kerugian. Namun di saat yang sama, ia membuka ruang bagi usaha kecil untuk tumbuh, bahkan menjadi solusi. Di antara genangan yang surut, ia membangun harapan satu paving blok, satu cincin sumur, dan satu langkah bangkit setiap harinya.
Nasruddin










