BANDA ACEH (Waspada.id): PT Solusi Bangun Andalas berhasil mengolah hingga 60 ton sampah kelapa per bulan di kawasan pesisir Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar melalui program Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera).
Program berbasis ekonomi sirkular yang dijalankan bersama dengan komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil) ini, mengantar perusahaan meraih penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
PROPER atau Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Penghargaan yang dianugerahkan kepada PT Solusi Bangun Andalas, menandakan kinerja pengelolaan lingkungan yang dijalankan oleh Perusahaan telah melampaui kepatuhan (beyond compliance), termasuk efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pemberdayaan masyarakat.

Direktur PT Solusi Bangun Andalas, Edi Sarwono, menggaris bawahi bahwa capaian ini merupakan hasil sinergi antara inovasi operasi dan pemberdayaan komunitas.
“PROPER Hijau ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan energi dan penurunan emisi di pabrik, hingga bagaimana kami tumbuh bersama masyarakat. Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata,” ujar Edi Sarwono.
Sebelum program Sakeladera dijalankan, sampah kelapa di wilayah pesisir sebagian besar dibakar atau dibiarkan membusuk, yang berkontribusi terhadap emisi karbon hingga 34,8 ton CO₂ per bulan. Di sisi lain, peternak setempat menghadapi tingginya biaya pakan yang mencapai Rp.48 juta per bulan akibat ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
Melalui program Sakeladera, sampah kelapa diolah menjadi cocopeat (serbuk halus dari sabut kelapa) sebagai alternatif campuran pakan ternak. Inovasi ini mampu menekan biaya pakan hingga 60 persen atau sekitar Rp.28,2 juta per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Produk cocopeat juga telah lulus uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kandungan kalsium dan protein.
Dalam implementasinya, Solusi Bangun Andalas memberikan dukungan berupa pendampingan secara berkelanjutan, penyediaan sarana produksi, serta penguatan kelembagaan masyarakat, sehingga mampu membangun ekosistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan.

Operasional program ini pun telah menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan dengan rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5. Artinya, setiap Rp.1 investasi, menghasilkan Rp.2,5 manfaat bagi masyarakat.
Kini, timbulan sampah kelapa telah mengalami penurunan menjadi 20–24 ton per bulan.
Muhammad Ikhsan, salah satu warga penerima manfaat program, menyampaikan bahwa perubahan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. “Sekarang sampah kelapa tidak lagi dibuang percuma. Kami bisa mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat, bahkan membantu menekan biaya produksi pakan ternak. Terima kasih Solusi Bangun Andalas,” ujarnya, beberapa waktu yang lalu.
Selain program pemberdayaan masyarakat, capaian PROPER Hijau ini juga didukung oleh berbagai inovasi lingkungan di area operasi perusahaan. Salah satunya adalah penggunaan burner rendah emisi yang berhasil menurunkan emisi hingga 88.931 ton CO₂ ekuivalen sepanjang tahun 2025.
Program ini menggunakan teknologi burner generasi kedua yang memungkinkan pembakaran lebih optimal, serta pemanfaatan bahan bakar alternatif (alternative fuel/AF) khususnya liquid AF dari limbah seperti oli bekas hingga mencapai 100 persen, yang berpotensi menurunkan penggunaan batu bara pada burner hingga 40 persen.

Perusahaan juga terus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan proses produksi melalui optimalisasi penggunaan energi listrik, pengendalian emisi gas, peningkatan efisiensi bahan bakar dan pelumas, serta inovasi seperti daur ulang karet bekas menjadi komponen filter udara dan pemanfaatan air buangan AC sebagai air domestik untuk kebutuhan MCK.
Keberhasilan Solusi Bangun Andalas dalam mengintegrasikan inovasi sosial melalui program Sakeladera dan eco-inovasi di area operasional menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dicapai melalui pendekatan menyeluruh.
Transformasi limbah menjadi sumber ekonomi, yang didukung oleh efisiensi energi dan penurunan emisi di tingkat industri, tidak hanya menjawab tantangan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (id67)










