BLANGPIDIE (Waspada.id): Nada keras dilontarkan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin. Dalam video yang kini beredar luas di kalangan kepala SMA/sederajat se-Aceh, termasuk ditemukan di Aceh Barat Daya (Abdya) dan Aceh Selatan, ia mengeluarkan ultimatum tegas kepada seluruh Cabang Dinas Pendidikan di kabupaten/kota, agar segera menghentikan pola kerja pasif dan turun langsung ke lapangan.
Pernyataan tersebut bukan sekadar imbauan, melainkan peringatan keras yang mencerminkan kekecewaan serius terhadap kinerja pengawasan pendidikan di Aceh yang dinilai stagnan. “Bapak-bapak dan ibu-ibu, tolonglah, edaran yang dibuat Dinas Pendidikan Aceh itu ditindaklanjuti,” tegas Murthalamuddin.
Ia menyoroti langsung kebiasaan sebagian aparatur yang hanya mengandalkan laporan tanpa melakukan pengecekan faktual ke sekolah. Menurutnya, praktik tersebut membuat berbagai persoalan di lapangan tak tersentuh.
“Kunjungi sekolah, perhatikan lingkungan, proses belajar mengajar (PBM), mobiler, dan ruang kelasnya. Jangan hanya duduk di kantor,” sentilnya tajam.
Murthalamuddin mengungkapkan, dirinya telah melakukan kunjungan ke sejumlah daerah di Aceh, baik sebelum maupun sesudah Lebaran. Namun, hasil yang ditemukan justru memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan dan tidak mengalami perubahan. “Saya sudah turun langsung. Bisa dipastikan sampai hari ini tidak ada yang berubah,” ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi jajaran cabang dinas, yang selama ini memegang peran strategis dalam pengawasan sekolah. Ia menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan signifikan, maka langkah tegas akan diambil tanpa kompromi.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah melibatkan wartawan untuk ikut melakukan pengawasan langsung di lapangan—sebuah langkah yang jarang dilakukan dan dinilai akan membuka fakta secara lebih transparan. “Saya kenal banyak wartawan di berbagai daerah, bahkan mereka anak didik saya. Mereka bisa ikut melakukan pengawasan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Murthalamuddin juga menyinggung soal merosotnya kewibawaan aparatur di mata kepala sekolah. Ia mengingatkan bahwa jabatan bukan sekadar simbol, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan integritas. “Hargailah profesi Anda, jangan sampai dianggap tidak punya kewibawaan. Bekerjalah supaya Anda dihargai,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengeluarkan instruksi menyeluruh kepada seluruh Cabang Dinas Pendidikan di Aceh tanpa pengecualian, untuk segera bergerak dan menunjukkan kinerja nyata. “Mulai hari ini, jalankan tugas masing-masing. Ayo kita berkinerja,” pungkasnya.
Video tersebut kini menjadi perhatian serius di kalangan tenaga pendidik di seluruh Aceh. Banyak pihak menilai, ultimatum ini menandai batas kesabaran pimpinan, sekaligus sinyal kuat akan adanya evaluasi dan penindakan besar-besaran jika kondisi di lapangan tetap tidak berubah.
Jika peringatan ini kembali diabaikan, bukan tidak mungkin langkah tegas berikutnya akan membuka satu persatu persoalan laten, di dunia pendidikan Aceh ke ruang publik.(id82)










