Aceh

Kakao Dan Kehidupan: Forum Konservasi Leuser Dampingi Petani Aceh Utara

Kakao Dan Kehidupan: Forum Konservasi Leuser Dampingi Petani Aceh Utara
Para ketua kelompok tani kakao di Aceh Utara dan berbagai unsur undangan lainnya antusias mengikuti kegiatan sosialisasi Gerakan Kakao Aceh Bangkit di Aula Setdakab Aceh Utara.Waspada.id/Maimun Asnawi
Kecil Besar
14px

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

PENGGALAN syair lagu dengan judul “Kolam Susu” yang dipopulerkan oleh grup musik Koes Plus yang dirilis pada tahun 1970 masih sangat kontekstual dengan kondisi kesuburan tanah Indonesia hingga saat ini. Kekayaan Sumber Daya Alam yang tersimpan di perut bumi Ibu Pertiwi tidak terhitung jumlahnya, hingga ada yang berpendapat, nantinya, salah satu negara dengan kekayaan mineral yang melimpah itu Indonesia.

Pertanyaannya, apakah tanah yang subur akan menjadi jaminan untuk keberhasilan pertanian. Jawabannya adalah, tanah yang subur memang menjadi modal dasar penting bagi keberhasilan pertanian, tetapi ia bukanlah jaminan mutlak. Kesuburan tanah ibarat fondasi rumah: kuat, tetapi jika tidak dirawat dan dimanfaatkan dengan baik, hasilnya tetap bisa mengecewakan.

Mengapa demikian, tanah subur bisa kehilangan kualitas jika tidak ada rotasi tanaman, pemupukan organik, atau pengendalian erosi. Kemudian, tanaman yang tumbuh subur akan diserang oleh berbagai hama, maka petani harus dibekali dengan ilmu pengetahuan tentang pertanian sesuai dengan jenis tanaman yang dibudidayakan, termasuk tentang pemanfaatan teknologi, ini juga menjadi penentu produktivitas.

Kemudian, tanah subur yang ditanami terus-menerus tanpa perawatan bisa mengalami degradasi, misalnya menjadi keras atau kehilangan unsur hara. Selanjutnya, ada beberapa penyebab petani mengalami gagal panen yaitu jika lahan subur tersebut dilanda banjir atau mengalami kekeringan akibat cuaca ekstrem.

“Tanah subur itu potensi, bukan jaminan. Keberhasilan petani sangat ditentukan dari kombinasi antara kualitas lahan, pengetahuan, pembinaan, dan perawatan berkelanjutan. Hal ini juga terjadi di Aceh Utara. Aceh Utara memiliki kualitas lahan yang cukup subur. Namun di balik itu terdapat banyak tantangan seperti kurang akses teknologi, dan minimnya pedampingan, sering membuat hasil panen tidak maksimal,” sebut Recoveri Kakao Projeck Leader Forum Konservasi Leuser, Faisal, kepada Waspada.id, Kamis (9/4) usai kegiatan Sosialisasi Program Pedampingan Petani dengan tema ‘Gerakan Kakao Aceh Bangkit’ di Aula Setdakab Aceh Utara.

Untuk itulah, kata Faisal, pihaknya menginisiasi kegiatan Sosialisasi Program Pedampingan Petani “Gerakan Kakao Aceh Bangkit”. Teman ini, sebut Faisal sejalan dengan moto Aceh Utara Bangkit. Untuk mengisi kegiatan ini, kata Faisal, selain dirinya, juga dihadirkan dua pemateri lainnya itu perwakilan dari Dinas Perkebunan Aceh dan satu lainnya dari perusahaan pembeli kakao dari GCB.

Sumber pendaaan kegiatan ini, sebut Faisal, berasal dari mitra petani yaitu para perusahaan yang membeli kakao sepeti GCB, MARS dan beberapa perusahaan lainnya. Mereka mendukung agar nantinya mereka sebagai perusahaan komoditi mendapatkan kakao berkualitas tinggi dan program kakao dapat terus berjalan dengan baik.

“GCB dan MARS adalah perusahan omditi yang membeli biji kakao yang sudah jadi. Nantinya, biji kakao tersebut didistribusikan untuk seluruh dunia. Sedangkan HBRM adalah perusahaan komoditi yang membeli biji kakao di daerah yaitu kabupaten/kota yang masih setengah jadi. HBRM inilah yang menjual biji kakao ke GCB dan MARS,” kata Faisal memberitahukan.

Tujuan Kegiatan

Kegiatan pedampingan yang akan dilaksanakan oleh FKL adalah untuk mendidik para petani kakao yang ada di Aceh Utara agar dapat menghasilkan kakao berkualitas tinggi dengan pola budidaya, agar petani mampu merawat kebun dengan baik dengan menggunakan klon-klon unggul. Kemudian, dengan adanya pedampingan, petani paham tentang sistem multi klon, karena ini adalah salah satu pola agar petani mampu meningkatkan jumlah produksi.

“Tanda adanya penerapan multi klon, tanpa adanya klon-klon unggul jumlah produksi tidak akan meningkat dan hasil produksi dan kualitas biji kakao. Inilah tujuan kegiatan pedampingan yang akan kita lakukan yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan tentang pola penanaman kakao. Kami selalu siap untuk menstransfer ilmu kepada seluruh petani kakao yang ada di Aceh Utara dan di berbagai kabupaten/kota lainnya.”

Sekolah Lapang

Nantinya, setelah petani kakao bersedia menjalin kerjasama dengan FKL, sebut Faisal, pihaknya akan mengajak para petani kakao untuk belajar di akademi kakao yang telah dibangun pihaknya di Bireum Bayeun, Kota Langsa. Selain itu, FKL juga akan membuka sekolah lapang di kebun-kebun petani. Di mana, setiap kelompok yang jumlahnya sekitar 25 petani akan diajari cara menamam dan merawat kakao dengan baik di sekolah lapang tersebut.

Perkembangan Kakao Aceh Semakin Menurun

Kepada Waspada.id, Faisal kembali bercerita panjang lebar, kata Faisal, kehadiran pihaknya di tengah-tengah petani bagian daripada tindak lanjut melihat perkembangan kakao Aceh yang semakin menurun. Dulu, kata Faisal, pada tahun 2010 sampai 2017, kakao Aceh berada pada peringkat ke tiga di Indonesia, dan sekarang bertengger di pososi nomor 7.

“Jadi dalam hal ini kami berperan untuk menaikkan kembali tingkat produksi kakao Aceh dengan melakukan pedampingan dan transfer ilmu kepada petani dengan pemanfaatan teknologi terbaru. Hal ini akan berhasil jika dilakukan bersama-sama yaitu mulai dari pemerintah, perusahaan komoditi, dan LSMseperti kami dari FKL. Semua harus bahu membahu untuk menngerakkan kembali Kakao Aceh Bangkit,” sebut Faisal.

Perusahaan Komoditi Wajib Membiayai Kegaiatan Pendampingan

Selama ini, sebut Faisal lagi, pihak perusahaan komoditi seperti GCB, MARS dan HBRM hanya membeli ndan membeli biji kakao dari petani tanpa mau terlibat untuk mendapingi para petani agar jumlah produksi meningkat dan biji kakao berkualitas tinggi. Atas dasar inilah FKL hadir untuk menarik pihak perusahaan komoditi untuk terlibat langsung.

“Selama ini mereka hanya tahu membeli dan membeli tetapi tidak pernah mau mengeluarkan biaya untuk melaksanakan pelatihan-pelatihan. Inilah peran FKL yaitu mengajak perusahan komoditi untuk melatih petani kakao. Kegiatan ini lahir bekat inisiatif FKL. Insya Allah, beberapa tahun ke depan, perusahana mkomoditi akan membeli biji kakao berkualitas tinggi dengan jumlah produksi yang melimpah dari Aceh,” sebut Failsa, seraya mengatakan, tanpa adanya pedampingan dan tanpa adanya transfer ilmu kepada para petani, keinginan tersbeut mustahil untuk dicapai.

Target Pelatihan Untuk 6000 Petani Hingga tahun 2030

Target awal untuk Aceh Utara, FKL akan mendidik 600 petani. Data yang sudah masuk baru sekitar 300 petani. Untuk itu, tim dari FKL setelah kegiatan ini dilaksanakan akan melaukan pendataan petani kakao Aceh Utara. “Target FKL, 6000 petani kakao di Aceh Utara sudah harus mendapatkan ilmu pengetahuan pada tahun 2030. Program ini kita laksanakan secara berkelanjutan.

Mereka yang bergabung dengan FKL, kata Faisal, petani akan mendapatkan klon-klon unggul, mendapatkan ilmu pengetahuan teknik budidaya yang baik. Ke depan, petani Ttdak harus membeli klon unggul dari Sulawesi, karena nantinya, FKL akan membangun kebun sendiri seperti yang sudah dilakukan di akademi yang ada di Bireum Bayeun Langsa.

Melahirkan Petani Kakao Mandiri

Nantinya, FKL bersama degan para ahli akan memberikan biji kakao untuk melakukan pembibitan sendiri, selain dilaksanakan di sekolah-sekolah lapang juga lokasinya akan diperluas hingga per kecamatan untuk membangun kebun belajar sebagai kebun percontohan dan nantinya dilokasi itu petani dapat mengambil contoh pola penanaman kakao yang baik.

“Tujuan ini FKL hadir untuk menciptakan petani kakao mandiri. Setelah itu, pada saat dilakukan rehab kebun, petani sudah ada sumber-sumber yang bisa diambil di kebun contoh baik yang ada di kecamatan maupun di sekolah lapang di areal kebun petani sendiri.”

Aceh Utara Penghasil Kakao Terbanyak Setelah Aceh Tenggara

Menjawab Waspada.id, Faisal menyebutkan, Aceh Utara merupakan kabupaten dengan jumlah produksi kakao terbanyak setelah Kabupaten Aceh Tenggara. Hanya saja, permsalahan yang dihadapi oleh petani kakao do Aceh Utara, petani kakao yang ada di kabupaten ini miskin sentuhan pedampingan sehingga produksi kakao tidak pernah dapat menyaingi Aceh Tenggara.

“Nyaris tidak ada pembinaan, petani tidak paham cara mengatasi hama penyakit. Kemudian, petani di Aceh Utara masih menggunakan klon-klon hibrid, bukan klon unggul. Ini realita yang FKL temukan di lapangan,” katanya.

Masa Depan Petani Kakao Cukup Cerah

Faisal mengajak para petani kakao yang ada di seluruh Provinsi Aceh, terutama yang ada di Kabupaten Aceh Utara untuk terus konsisten menggeluti jenis usaha pertanian kakao dan diminta untuk totalitas dalam menggeluti jenis usaha ini. Tentunya, semua risiko pada dialmi oleh setiap dunia usaha, tak terkecuali di jenis usaha pertanian kakao.

Bukan hanya tentang pemahaman pola tanam, cara mengatasi hama penyakit, risiko naik turunnya harga biji kakao pun rentan dialami oleh petani. Dan hal ini merupakan hal biasa yang dilami oleh setiap jenis usaha. Setiap usaha diyakini tidak akan berhasil jika usaha tersebut diteknuni secara setengah hati, misalnya, ketika jenis jenis pertanian kelapa sawit mahal, maka petani ramai-ramai menebang pohon kakao dan menanami kelapa sawit. Ini hasilnya tidak akan pernah didapat oleh petani.

“Naik turun harga itu hal biasa. Buktinya, harga biji kakao pernah melesat hingga Rp.200 ribu per kg pada tahun 2025. Namun keindahan harga ini tidak dapat dinikmati oleh semua petani kakao, karena sebagian dari mereka telah beralih ke jenis tanaman lainnya. Makanya saya ajak untuk konsisten. Dulu pada tahun 2005-2010, harga kakao pernah meluncur ke harga Rp.20 ribu per kg. Namun setelah itu dan hingga saat ini, harga kakao setabl berkisar antara Rp.40 ribu, Rp.50 ribu hingga Rp.60 ribu. Untuk itu petani kakao jangan resah,” pinta Faisal.

FKL Dapat Dukungan Dari Bupati Aceh Utara

Untuk saat ini, kata Faisal, masa depan petani kakao di Aceh Utara akan kembali bersinar terang. Pasalnya, Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil telah mengizinkan FKL dan siap memberikan dukungan penuh untuk peningkatan produksi kakao di wilayah kekuasaanya. Orang nomor satu di Aceh Utara ini juga mengakui, pada periode sebelumnya, minim sentuhan kepada para petani kakao.

Untuk saat ini, sebut Faisal, Ayahwa, sebutan akrab untuk Bupati Aceh Utara, telah menyatakan akan memberikan dukungan penuh. Bahkan dia juga telah menyediakan lahan belajar untuk petani kakao dan siap membantu fasilitas dengan berbagai kebijakan yang dibutuhkan.

“Tanggapan Bupati Aceh Utara luar biasa. Program Kakao Aceh Bangkit, katanya sejalan dengan moto Aceh Utara Bangkit. Kami dipersilahkan untuk masuk ke Aceh Utara dan menyambut baik program ini. Ini adalah kesempatan untuk membumikan kakao dan menghidupkan petani di Aceh Utara. Dengan begitu, modal utama yang digambarkan tanah kita bak sekeping tanah dari surga tidak tersia-siakan oleh minimnya ilmu pengetahuan,” ucap Faisal mengakhiri wawancara dengan Waspada.id.

Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE