Masuknya program Masamo (Masak Bersama Master Chef) ke Pidie membawa narasi besar tentang peningkatan kapasitas juru masak SPPG, penguatan mutu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus dorongan bagi ekonomi kreatif daerah.
Kehadiran Menteri Ekonomi Kreatif (Menkraf), Teuku Riefky Harsya di Pidie Selasa (24/2/2026), seolah menegaskan bahwa sentuhan kreatif diyakini mampu memperkuat program nasional di daerah.
Di SPPG Lampeudeu Baroh, pelatihan digelar dengan melibatkan sekitar 50 peserta yang terdiri dari juru masak dan pengelola dapur.
Chef dihadirkan, tepuk tangan terdengar, optimisme ditampilkan. Secara seremoni, acara berjalan sukses. Secara visual, pesan perubahan tersampaikan. Dalam sambutannya, Teuku Riefky Harsya menegaskan Masamo bukan sekadar demo masak.
Pemerintah, katanya, ingin memastikan standar pengolahan makanan meningkat, higienitas terjaga, rasa tetap baik, sekaligus membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal masuk ke rantai pasok MBG.
Pendekatan kreatif dinilai penting agar program nasional mampu beradaptasi dengan potensi daerah. Namun di sinilah misteri mulai muncul.Di tingkat akar rumput, suara warga menghadirkan realitas yang tidak sepenuhnya selaras dengan narasi.
Usman, 46,seorang wali murid di Sigli, mengaku anaknya kerap tidak menghabiskan makanan dari dapur MBG. “Lauknya itu-itu saja. Telur lagi, roti lagi, susu botol merek yang kami pun kurang kenal. Harusnya disesuaikan dengan makanan daerah,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan informasi bahwa sebagian bahan baku dibelanjakan ke Medan, Sumatra Utara. “Kalau belanjanya ke luar daerah, terus di mana dampaknya untuk ekonomi Pidie? Padahal kita daerah laut, banyak ikan tuna yang kaya omega-3,” katanya.
Pidie bukan daerah miskin sumber pangan. Wilayah pesisir dan pegunungannya menyimpan potensi besar, ikan segar, hasil kebun, komoditas lokal yang bisa menjadi menu bergizi sekaligus menggerakkan ekonomi setempat.

Jika menu tetap monoton dan tidak berbasis potensi lokal, maka wajar bila publik bertanya, di mana letak kreativitas yang dijanjikan? Di mana efek ekonomi yang digembar-gemborkan?
Wakil Bupati Pidie, Alzaizi Umar, dalam pidato Bupati yang dibacakannya, menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah. Ia berharap MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak, tetapi juga menggerakkan petani dan nelayan lokal. Harapan itu jelas dan masuk akal. Namun harapan membutuhkan sistem yang konkret, bukan sekadar komitmen lisan.
MBG adalah program besar dengan anggaran besar dan tanggung jawab besar. Ia menuntut presisi nutrisi, stabilitas pasokan, transparansi pengadaan, serta pengawasan ketat. Jika rantai belanja justru mengalir keluar daerah, jika menu tidak mencerminkan karakter lokal, maka klaim efek berganda ekonomi akan sulit dibuktikan.
Masamo boleh masuk ke Pidie dengan panggung yang meriah. Tetapi dampaknya tidak boleh tetap misteri. Ukurannya sederhana: apakah anak-anak makan dengan lahap, apakah gizinya benar-benar terpenuhi, dan apakah nelayan serta petani lokal ikut merasakan denyut program ini.
Sebab pada akhirnya, publik tidak menilai dari sorotan kamera, melainkan dari isi piring. Anak-anak tidak makan retorika. Mereka makan kebijakan. Dan kebijakan yang kuat bukan yang paling ramai dipromosikan, melainkan yang paling nyata dirasakan.
Muhammad Riza











