TAPAKTUAN (Waspada.id) : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan di Kabupaten Aceh Selaran. Kali ini, menu makanan yang disajikan di beberapa sekolah di Kecamatan Sawang diduga mengandung belatung.
Temuan tersebut terjadi di SDN 1 Panton Luas dan SMP Negeri 3 Sawang, pada Kamis, 16 April 2026.
Kepala SMP Negeri 3 Sawang, Alzikri Ramatilah saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebutkan, belatung (larva warna putih) ditemukan dalam beberapa komponen makanan, mulai dari nasi, ayam hingga tempe.

“Betul, menu kemarin, berulat. Anak-anak sempat memakan, tapi setelah tahu ada belatung mereka tidak makan lagi,” kata Alzikri kepada Waspada.id Jumat, (17/4/2026).
Ia menyayangkan kejadian tersebut, mengingat program MBG seharusnya menjadi upaya peningkatan gizi bagi siswa, bukan justru menimbulkan kekhawatiran.
“Harapan saya ke depan MBG ini harus baik, jangan seperti ini lagi. Apalagi sampai keracunan,” ujarnya.
Belatung tersebut ditemukan dalam omprengan yang dibagikan kepada siswa.Temuan ini sontak mengubah suasana makan siang menjadi momen yang menegangkan. Anak-anak yang semula bersiap menyantap hidangan, mendadak diliputi rasa takut dan jijik.
Kepala SMPN 3 Sawang, Al Zikri Rahmatillah, saat diwawancarai Jumat (17/4/2026), membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut kondisi makanan yang tidak layak itu ditemukan hampir di setiap ompreng yang dibagikan kepada siswa.

“Peristiwa itu terjadi saat jam makan berlangsung. Ketika siswa membuka ompreng, ditemukan belatung pada lauk. Hampir merata di banyak paket yang diterima siswa. Kami langsung meminta agar makanan tersebut tidak dikonsumsi,” ujarnya.
Menurutnya, pihak sekolah segera mengambil langkah cepat dengan menghentikan konsumsi makanan dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti.
Salah seorang siswa yang enggan disebutkan namanya mengaku langsung kehilangan selera makan saat membuka kotak makanannya.
“Awalnya saya mau makan, tapi pas dibuka ada belatung kecil bergerak-gerak di lauk. Saya langsung takut, jijik, dan tidak berani menyentuhnya,” tuturnya lirih.
Tidak sedikit siswa lain yang bereaksi lebih emosional. Beberapa di antaranya bahkan menangis dan menjauhkan ompreng dari hadapan mereka. Gerakan belatung yang tampak jelas di antara makanan meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak-anak.
“Anak-anak itu masih kecil, melihat makanan seperti itu tentu sangat membekas. Mereka jadi takut makan lagi,” kata salah seorang wali murid.
Kekhawatiran orang tua pun mengemuka. Mereka menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan persoalan serius yang berpotensi mengancam kesehatan anak.
“Ini bukan hal sepele. Anak kami bisa sakit. Program yang seharusnya meningkatkan gizi malah berpotensi membahayakan. Kami minta ada evaluasi menyeluruh,” ujar seorang orang tua siswa dengan nada tegas.
Program MBG di wilayah ini diketahui dikelola oleh SPPG Yayasan B C, Kecamatan Sawang, dengan total penerima mencapai 3.899 porsi per hari. Penerima manfaat mencakup siswa dari tingkat PAUD hingga SMA, serta kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Menu yang disajikan pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, ayam bakar sambal, tempe goreng, selada timun, dan pisang. Secara komposisi, menu tersebut telah memenuhi unsur gizi dasar. Namun, temuan belatung menimbulkan pertanyaan serius terkait standar kebersihan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
Dalam perspektif regulasi, penyediaan makanan bagi publik wajib memenuhi standar keamanan pangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga menegaskan bahwa makanan harus aman, layak konsumsi, dan bebas dari kontaminasi biologis, termasuk larva.
Dari sisi perlindungan anak, kondisi ini juga berpotensi bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang mewajibkan negara dan seluruh pihak menjamin hak anak atas kesehatan dan kelangsungan hidup.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola, SPPG Yayasan B C, belum memberikan keterangan resmi. Pihak SDN 1 Panton Luas juga belum menyampaikan klarifikasi kepada publik.
Minimnya respons ini memicu desakan dari berbagai pihak agar dilakukan investigasi menyeluruh. Satgas MBG Kabupaten Aceh Selatan dan Koordinator Wilayah (Korwil) diminta segera turun tangan.
“Jangan diam. Ini menyangkut ribuan penerima manfaat. Harus ada audit kualitas makanan, mulai dari dapur hingga distribusi,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.
Ia menyebutkan kasus ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program gizi tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, tetapi juga dari kualitas dan keamanan makanan.
“Tanpa pengawasan ketat, tujuan mulia program berisiko berubah menjadi ancaman bagi kesehatan generasi muda,” tutupnya.
Insiden ini menambah daftar persoalan dalam pelaksanaan program MBG di Aceh Selatan. Sebelumnya, kasus dugaan keracunan massal juga sempat terjadi dan telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), setelah puluhan siswa mengalami gejala mual, muntah, dan sakit perut.
Sementara itu, perwakilan atau penanggung jawab (Korwil/PIC) Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Aceh Selatan, Yona Violiska, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp memilih bungkam hingga berita ini dikirim ke redaksi.
Hingga saat ini, wartawan di Tapaktuan masih berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait lainnya untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. (id85)










