Breaking News
Memuat breaking news...

Negeri Berkembang, Janda di Abdya Bertahan di Rumah Plastik

Redaksi
Redaksi
Kamis, 16 April 2026 - 3.56 AM WIB
Negeri Berkembang, Janda di Abdya Bertahan di Rumah Plastik
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

BLANGPIDIE (Waspada.id): Di tengah narasi pembangunan yang terus digaungkan, realitas getir masih menyelimuti sudut-sudut negeri. Di Desa Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), seorang ibu tunggal, Munarwati, 36, bersama dua anaknya, menjalani hidup dalam keterbatasan ekstrem, tinggal di sebuah gubuk dengan dinding plastik dan papan lapuk.

Potret ini bukan sekadar kisah lokal, melainkan cermin buram persoalan kemiskinan yang belum sepenuhnya terurai di Indonesia. Pada saat pembangunan fisik terus dipacu, masih ada warga yang harus bertaruh dengan hujan, angin dan dinginnya malam, demi sekadar bertahan hidup.

Pantauan di lokasi memperlihatkan kondisi rumah yang jauh dari standar kelayakan. Atap rumbia yang rapuh kerap bocor saat hujan turun, sementara dinding rumah, sebagian besar hanya dilapisi plastik bekas dan terpal. Struktur bangunan yang renta , membuat keselamatan penghuninya berada dalam ancaman setiap waktu.

Kepala Desa Lhok Pawoh, Amiruddin Rabu (15/4) tak menampik kondisi memilukan tersebut. Ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran desa, menjadi kendala utama dalam merealisasikan pembangunan rumah layak huni bagi warganya.

“Ini kondisi yang sangat memprihatinkan. Kami di desa terus berupaya membantu semampunya, tetapi untuk membangun rumah yang layak, tentu membutuhkan dukungan lebih besar, baik dari pemerintah daerah maupun para dermawan,” ujarnya.

Selama ini, bantuan yang ada hanya bersifat swadaya dari masyarakat sekitar, sekadar memperbaiki bagian yang rusak agar tetap bisa ditempati. Namun, upaya itu jauh dari cukup, untuk mengangkat kualitas hidup keluarga kecil tersebut.

Sejak ditinggal suami, Munarwati harus memikul beban hidup seorang diri. Dengan pekerjaan serabutan, ia berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus merawat kedua anaknya yang masih kecil di tengah kondisi hunian yang tak manusiawi.

Fakta ini menjadi pengingat keras bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas hidup yang nyata dan mendesak untuk ditangani. Harapan kini tertuju pada kehadiran negara melalui instansi terkait, seperti Dinas Sosial dan Baitul Mal, agar segera turun tangan memberikan solusi konkret.

Di balik gemuruh pembangunan, kisah Munarwati menjadi alarm: masih ada rakyat yang belum benar-benar merasakan arti keadilan sosial. (Id82)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement