Aceh

Terkait Menu MBG Berbelatung, DPRK Aceh Selatan: Kejadian Fatal Bahayakan Kesehatan Siswa

Terkait Menu MBG Berbelatung, DPRK Aceh Selatan: Kejadian Fatal Bahayakan Kesehatan Siswa
Anggota DPRK Aceh Selatan, Dedi Saputra ST.
Kecil Besar
14px

TAPAKTUAN (Waspada.id) : Penyajian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bercampur ulat belatung (Larva warna putih) ke siswa SD dan SMP di Kecamatan Sawang, Kamis (16/4) lalu menuai kecaman dan kritikan tajam berbagai lapisan masyarakat.

Program Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan untuk perbaikan gizi anak-anak sekolah dan ibu hamil itu, dikhawatirkan justru akan berdampak buruk bagi kesehatan mereka.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan Dedi Saputra, ST menyatakan, kejadian penyaluran menu MBG bercampur belatung seperti temuan kasus di SDN Panton Luas dan SMPN 3 Sawang, merupakan persoalan fatal yang membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa peserta didik.

“Insiden ini tak bisa dianggap hal sepele atau dipandang sebelah mata, sebab dampaknya dikhawatirkan bisa membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa anak-anak sekolah,” kata Dedi kepada Waspada.id di Tapaktuan, Sabtu (18/4).

Menurut legislator Partai Nasdem itu, kejadian ini seharusnya tidak terjadi mengingat masing-masing SPPG sudah ada ahli gizi dan juknis yang mengatur tentang pelaksanaan menu MBG di seluruh Indonesia.

“Ini fatal sekali kejadiannya, makanan bisa berbelatung, padahal kan sudah diatur juknis nya, bahwa setiap makanan harus steril dan higenis,” tegas Dedi Saputra.

Karena itu, Wakil Ketua Komisi III DPRK Aceh Selatan itu meminta pihak terkait agar melakukan pemeriksaan secara komprehensif terhadap kelayakan SPPG di Kecamatan Sawang yang menyediakan makanan MBG di SMPN 3 Sawang tersebut.

“Kita minta pihak terkait agar menurunkan tim teknis melakukan pemeriksaan komprehensif ke SPPG tersebut, agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” ujar Dedi Saputra.

Dedi menambahkan, pihaknya juga berharap kepada SPPG lainnya yang ada di Kabupaten Aceh Selatan agar dapat menjadikan kasus ini sebagai pengalaman berharga sehingga persoalan penyajian menu MBG bercampur ulat belatung tersebut tidak terjadi atau menimpa siswa di sekolah lain di seluruh pelosok Aceh Selatan. Diharapkan dapat memberikan makanan yang benar-benar layak di makan oleh siswa.

“Kadang-kadang menu makanan yang disediakan oleh SPPG asal jadi dan banyak yang tidak dimakan oleh anak-anak sekolah. Akibat ulah beberapa SPPG yang berbuat demikian, berimbas kepada SPPG lainnya yang sudah baik dan memenuhi standar,” pungkas Dedi Saputra. (id85)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE