TAMIANG (Waspada.id): Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Samudra Langsa menyerahkan bantuan peralatan/instalasi penyaringan /filter air bersih dalam rangka rehabilitasi pascabencana banjir di Kampong Pahlawan Kecamatan Manyak Payed Kabupaten Aceh Tamiang.
Ketua Tim PKM Meta Suriyani, S.H., M.H kepada wartawan, Minggu (12/04/2026) mengatakan, bencana yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya merusak rumah warga dan fasilitas publik. Sanitasi tidak berfungsi, sementara akses air bersih terputus total. Krisis air bersih pasca banjir pun menjadi permasalahan yang butuh perhatian untuk kesehatan masyarakat.
Lanjutnya, Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak banjir bandang terparah yang melanda Aceh pada akhir November 2025. Banyak kecamatan terdampak, sebagian besar sempat terisolir akibat jalan dan jembatan putus sehingga distribusi bantuan tertunda.
Meski pemerintah dan tim penyelamat sudah mulai membuka akses ke sejumlah kecamatan, kondisi tetap kritis. Masih ada ratusan rumah rusak berat, fasilitas publik dan infrastruktur dasar seperti jalan, sekolah, hingga layanan kesehatan hancur atau terganggu.
Di sisi lain, tambah Meta Suriyani, Kondisi ini juga dirasakan oleh masyarakat di Desa Pahlawan yang terletak di Kecamatan Manyak Payed Kabupaten Aceh Tamiang. Semua masyarakat tidak terkecuali terkena dampak banjir pada akhir November 2025 lalu sampai sekarang.
“Dari saat terjadinya bencana banjir sampai pasca pemulihan bencana banjir, krisis air bersih berdampak dalam kebutuhan aktifitas sehari-hari masyarakat dan menjadi permasalahan yang butuh perhatian untuk kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, air bersih merupakan kebutuhan pokok yang sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama untuk keperluan konsumsi, kebersihan, dan sanitasi. Ketersediaan air bersih yang aman dan layak menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Namun, pada daerah yang terkena banjir, akses terhadap air bersih sering kali mengalami gangguan akibat tercemarnya sumber air oleh lumpur, sampah, limbah, serta mikroorganisme berbahaya.
“Bencana banjir dapat menyebabkan kerusakan pada sarana dan prasarana air bersih, seperti sumur warga, jaringan pipa, dan fasilitas penampungan air. Air banjir yang menggenangi permukiman berpotensi mencemari sumber air tanah dan air permukaan sehingga tidak layak digunakan,” tambahnya.
Kondisi ini meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, penyakit kulit, dan infeksi saluran pencernaan, yang dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
“Keterbatasan air bersih pasca banjir juga berdampak pada aktivitas sehari-hari masyarakat, seperti memasak, mandi, mencuci, dan menjaga kebersihan lingkungan,” ungkap Meta Suriyani.

Oleh karena itu, diperlukan upaya penanganan air bersih yang cepat, tepat, dan berkelanjutan sebagai bagian dari penanggulangan dampak bencana banjir. Penanganan ini meliputi penyediaan air bersih darurat, pengolahan air sederhana agar layak digunakan, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Melihat urgensi itu, tim PKM Universitas Samudra yang terdiri dari Dosen berkolaborasi dengan Mahasiswa bergerak cepat dilapangan untuk melaksanakan program yang difokuskan pada kebutuhan mendasar : penyediaan alat penyaringan/filter air bersih.
Tim PKM dipimpin oleh Meta Suriyani, S.H., M.H., yang bersama mahasiswa turun langsung ke lokasi. Kemudian, para dosen menyusun perencanaan rehabilitasi dan berkoordinasi dengan pihak pemerintah desa setempat.
“Mahasiswa menjadi garda terdepan di lapangan mendistribusikan air bersih, hingga mendokumentasikan proses pemulihan,” urainya.
Bagi mahasiswa, ini bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan pengalaman nyata pengabdian sosial dalam situasi bencana. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika hadir di tengah kebutuhan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dilakukan secara bertahap.
Meta Suriyani kembali memaparkan, kegiatan yang dimulai pada 11 Februari 2026 dengan observasi lanjutan di lokasi terdampak, dilanjutkan 16 Februari 2026 untuk perencanaan teknis, dan pada 26 Februari 2026 dilakukan observasi penyelesaian program. Pendekatan partisipatif yang melibatkan dosen, mahasiswa, serta masyarakat memastikan program berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Menurutnya, Program PKM Berdampak Universitas Samudra bukan hanya membangun instalasi penyaringan/filter air bersih agar layak konsumsi. Kegiatan ini juga membangun kembali semangat, memulihkan kepercayaan diri masyarakat, dan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral hadir di tengah masyarakat saat dibutuhkan.
“Melalui kegiatan penanganan air bersih ini, diharapkan kebutuhan dasar masyarakat terdampak banjir dapat terpenuhi, risiko penyebaran penyakit dapat diminimalkan, serta kondisi kesehatan dan lingkungan masyarakat dapat segera pulih,” imbuh Meta Suriyani, S.H., M.H.(id74)










