Breaking News
Memuat breaking news...

Air Mata Kualanamu dan Misi Penaklukan Diri 7 Santri DATAQU di Al-Azhar Mesir

Redaksi
Redaksi
Kamis, 8 Oktober 2026 - 9.24 PM WIB
Air Mata Kualanamu dan Misi Penaklukan Diri 7 Santri DATAQU di Al-Azhar Mesir
Pimpinan Dayah DATAQU Imam Syafi'i Lhokseumawe, Kamis (8/10/2026), foto bersama tujuh santri dan keluarga sebelum bertolak ke Al-Azhar, Mesir, dari Bandara Internasional Kualanamu. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

"Kairo disebut Al-Qahirah, sang Penakluk, bukan agar kita menaklukkan dunianya, melainkan agar kita belajar menundukkan ego dan menaklukkan diri sendiri terlebih dahulu." — Tgk. Abdul Halim, Lc., LL.M.

Suasana Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Kamis (8/10/2026), mendadak terasa magis. Di antara deru mesin pesawat dan hilir mudik calon penumpang, ada gelombang emosi yang membuncah.

Air mata kebahagiaan berbaur dengan untaian doa, mengiringi langkah tujuh santri dan santriwati terbaik Dayah Tahfidzul Qur’an (DATAQU) Imam Syafii Lhokseumawe yang bersiap terbang jauh ke negeri para ulama.

Bagi DATAQU, melepas ketujuh penghafal Al-Qur'an ini bukan sekadar mengantar mereka menyeberangi samudra menuju Universitas Al-Azhar, Kairo. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan besar untuk menaklukkan diri mereka sendiri.

Momen pelepasan itu dipimpin langsung oleh Pimpinan DATAQU, Tgk. Abdul Halim, Lc., LL.M., bersama Kepala SPM DATAQU, Ust. Mohd Yanis, Lc., M.A. Di gerbang keberangkatan, sebuah pesan mendalam dan sarat makna dititipkan kepada ketujuh musafir ilmu tersebut.

"Cairo atau Al-Qahirah, ibu kota Mesir, bukan hanya tempat belajar. Al-Qahirah artinya Penakluk atau Penunduk. Maka, sebelum menuntut ilmu di sana, kalian harus dapat menaklukkan diri kalian sendiri terlebih dahulu," ujar Tgk. Abdul Halim dengan nada bergetar, namun penuh penegasan.

Menguji Kesabaran di Negeri Seribu Menara

Menatap tanah Mesir berarti bersiap menghadapi realitas kehidupan yang serba baru dan menantang. Tgk. Abdul Halim mengingatkan bahwa di sana, ketujuh santri akan ditempa oleh berbagai ujian nyata, mulai dari cuaca ekstrem yang menusuk atau membakar kulit, kerasnya ritme kehidupan, hingga rasa rindu yang mendalam kepada kehangatan keluarga di tanah air.

Bahkan, ujian mental sudah menanti dalam hal-hal administratif yang kerap menguras emosi. "Bisa jadi kalian sudah lama mengantre, kemudian ketika sampai di depan petugas hanya dijawab: Bukrah (besok). Jangan marah. Jangan menyerah. Di situlah kalian sedang diajarkan hakikat kesabaran," kenangnya menceritakan realitas dinamika birokrasi di sana.

Bagi DATAQU, keberhasilan akademik tidak ada artinya tanpa kematangan spiritual. Kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mengendalikan diri justru menjadi kurikulum kehidupan yang paling utama. Karena itu, ketujuh santri ini diminta untuk membawa modal yang lebih besar daripada sekadar hafalan 30 juz di luar kepala.

"Jadikan Al-Qur’an di dada, berakhlak dan beradab dalam perilaku, sabar dalam menghadapi ujian, serta jaga nama baik orang tua dan DATAQU. Jadilah penghafal Al-Qur’an yang berilmu dan berakhlak," pesan Pimpinan DATAQU.

Keberanian Melepas untuk Tumbuh

Langkah nyata DATAQU dalam mendukung mimpi para santrinya tidak main-main. Keberangkatan ini disokong penuh oleh Program Asrama DATAQU di Mesir. Sebuah ikhtiar berkelanjutan dari lembaga untuk membentangkan karpet merah bagi para hafiz-hafizah agar bisa mengakses pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah.

Bagi para wali santri yang hadir di bandara, lambaian tangan terakhir di Kualanamu bukanlah sebuah kehilangan. Tangisan mereka adalah bentuk cinta tertinggi—sebuah keberanian besar untuk melepas buah hati agar tumbuh menjadi mandiri, berjuang, dan meneguk samudra ilmu sejauh mungkin dari rumah.

Kepala SPM Muallimin, Ustaz Yanis, mengamini hal tersebut. Ia menegaskan bahwa perjalanan dari Kualanamu menuju Kairo adalah sebuah metamorfosis. "Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi langkah baru dalam membentuk diri menjadi pribadi yang sabar, tekun, berakhlak, dan berilmu," tuturnya.

Kini, burung besi telah membawa ketujuh santri DATAQU terbang tinggi mengejar mimpi ke Kairo. Selamat berjuang, wahai para penjaga kalam-Nya. Taklukkan dirimu, kuatkan langkahmu, genggam erat Al-Qur’anmu, dan taklukkan dunia dengan ilmu. (Maimun Asnawi, S.H.I., M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement