Breaking News
Memuat breaking news...

Buka IGIC 2026, Menag Dorong Imam Perkuat Dialog dan Redam Ketegangan

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 26 September 2026 - 12.54 PM WIB
Buka IGIC 2026, Menag Dorong Imam Perkuat Dialog dan Redam Ketegangan
Menag Nasaruddin Umar bersama sejumlah perwakilan delegasi negara-negara di dunia dalam sesi jumpa media pembukaan IGIC 2026 di Bidakara, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).(waspada.id/dian)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA(Waspada.id): Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kedekatan imam dengan masyarakat menempatkan pemimpin keagamaan pada posisi strategis untuk membangun dialog, meredam ketegangan, dan memperkuat harmoni di tengah berbagai konflik dan tantangan global.

Menurut Menag, intensitas perjumpaan imam dengan umat membuat pesan-pesan perdamaian dapat disampaikan secara lebih dekat dan langsung. Karena itu, peran imam perlu diperluas, tidak hanya dalam kepemimpinan ritual, tetapi juga dalam merespons persoalan sosial, kemanusiaan, dan perdamaian.

“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point,” ujar Menag saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Menag mengatakan, imam memiliki intensitas komunikasi yang tinggi dengan masyarakat. Mereka bertemu dengan umat secara rutin melalui berbagai aktivitas keagamaan, sehingga memiliki kedekatan yang dapat menjadi modal penting untuk membangun kesadaran sekaligus menyampaikan pesan-pesan perdamaian.

“Peranan imam sangat penting, sebab imam inilah yang paling intensif berkomunikasi dengan umat. Kurang lebih lima kali sehari semalam para imam berjumpa dengan umat, bahkan melampaui seringnya pemerintah atau pimpinan-pimpinan ormas yang lain berjumpa dengan umat,” kata Menag.

Menurutnya, kedekatan tersebut membuat imam memiliki ruang yang kuat untuk membangun komunikasi di tengah masyarakat. Pesan keagamaan yang disampaikan imam, kata Menag, juga dapat menjadi sarana untuk mempertemukan berbagai pihak ketika pendekatan formal menghadapi keterbatasan.

“Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Imam berusaha untuk menawarkan satu solusi lain, mari kita melakukan pendekatan lain. Bagaimana kita mendekati antar para pihak dengan menggunakan bahasa moral, menggunakan bahasa kemanusiaan,” ujarnya.

Kemanusiaan sebagai Titik Temu

Menag mengatakan pendekatan berbasis kemanusiaan dapat menjadi pintu masuk untuk mempertemukan masyarakat yang memiliki latar belakang agama, etnis, maupun kebangsaan berbeda. Menurutnya, rasa kemanusiaan merupakan titik temu yang dimiliki setiap manusia.

“We believe humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apapun, etnik manapun juga. Semua punya rasa kemanusiaan,” tegasnya.

Karena itu, Menag mendorong para imam menggunakan bahasa agama untuk menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat, khususnya dalam merespons konflik regional dan internasional.

“Mari kita sentuh persoalan konflik regional internasional ini dengan menggunakan bahasa kemanusiaan. Mudah-mudahan bahasa agama ini bisa meredam konflik, bisa meredam ketegangan, dan kehadiran imam untuk membahasakan hal ini sangat strategis dan sangat penting,” sambungnya.

Menag juga mengaitkan peran imam dengan persoalan lingkungan. Ia mendorong bahasa agama digunakan untuk membangun kesadaran masyarakat agar menjaga alam dan mencegah eksploitasi sumber daya yang melampaui batas.

“Mari kita juga menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan warga masyarakat, warga manusia untuk mencegah terjadinya kerusakan alam yang sedemikian dahsyat ini. Mari kita menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan para pengelola hutan, para pengelola laut, dan para pengelola alam semesta yang lain untuk tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas,” katanya.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari pembahasan ekoteologi dalam IGIC 2026. Menag memandang masjid dapat dikembangkan sebagai ruang perjumpaan yang tidak hanya menjalankan fungsi keagamaan, tetapi juga menjadi tempat membicarakan persoalan kemanusiaan, perdamaian, dan lingkungan.

Perluas Diplomasi Keagamaan

Menag juga menyampaikan rencana memperluas semangat IGIC melalui pertemuan dengan para pemimpin rumah ibadah dari agama lain. Forum lintas agama tersebut akan diarahkan untuk membicarakan persoalan kemanusiaan yang menjadi perhatian bersama.

“Insyaallah kelanjutan daripada International Grand Imam Conference ini, kami juga akan menggagas pertemuan dengan pimpinan-pimpinan rumah-rumah ibadah lain non-muslim, pimpinan-pimpinan Katolik, gereja, rumah-rumah ibadah yang lain. Mari kita undang duduk bersama, karena tema sentral kita semua umat beragama adalah sama,” ungkap Menag.

Ia menambahkan, kerja sama lintas agama diperlukan untuk memperkuat persaudaraan kemanusiaan. Menag memperkenalkan gagasan ukhuwah makhluqiyah, yakni persaudaraan sebagai sesama makhluk.

“Bahkan ada satu ukhuwah selain ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah. Ada satu konsep ukhuwah yang lain mungkin perlu kita kembangkan, ukhuwah makhluqiyah. Persaudaraan kita sebagai sesama makhluk,” jelasnya.

49 Delegasi dari 39 Negara

IGIC 2026 mempertemukan para pemimpin keagamaan dari berbagai negara untuk membahas kontribusi kepemimpinan agama terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian global.

Ketua Panitia IGIC 2026 M Sabilul Alif menyampaikan, hingga pembukaan kegiatan, terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara. Para delegasi terdiri atas Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia.

“Hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia,” jelasnya.

Kehadiran para pemimpin agama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pertukaran gagasan dan pengalaman lintas negara mengenai peran keagamaan dalam merespons tantangan global.

IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September 2026. Konferensi imam besar berskala dunia kali pertama ini mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”. Para peserta membahas peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan, perdamaian global, serta potensi ekonomi kemasjidan.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement