Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Podium Terakhir: Pesan Perpisahan Herman Fithra untuk Generasi Unimal

Redaksi
Redaksi
Senin, 5 Oktober 2026 - 4.08 PM WIB
Dari Podium Terakhir: Pesan Perpisahan Herman Fithra untuk Generasi Unimal
Rektor Unimal Prof. Herman Fithra. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Auditorium Tgk. A. Wahab Dahlawy, Kampus Reuleut, Aceh Utara, pada Rabu, 30 September 2026, dipenuhi toga hitam, senyum bangga, dan pelukan haru. Namun, di balik gegap gempita Wisuda Angkatan ke-39 Universitas Malikussaleh (Unimal), ada satu momen yang membuat suasana berbeda: pidato terakhir Prof. Dr. Herman Fithra, ASEAN Eng., sebagai rektor.

Dengan mata berkaca-kaca, ia berdiri di podium yang selama delapan tahun menjadi saksi kepemimpinannya. Suaranya bergetar, namun tetap tegas, ketika ia mengucapkan kalimat yang seolah merangkum perjalanan panjangnya: “Amanah itu berat, maka hanya orang yang siap diuji layak memikulnya.”

Hari itu bukan sekadar perpisahan jabatan, melainkan perpisahan seorang anak kampus dengan rumah yang telah ia huni selama 24 tahun. Dari seorang dosen muda yang bergabung pada 28 Juli 2002 hingga dipercaya memimpin universitas, Herman tahu benar bahwa Unimal bukan sekadar tempat bekerja—ia adalah bagian dari hidupnya.

Air Mata, Amanah, dan Permohonan Maaf

Di hadapan 1.247 wisudawan, orang tua, senat, dan sivitas akademika, Herman menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan. Ia menundukkan kepala, menyebut nama keluarga, istri, dan anak-anaknya, lalu menegaskan bahwa keputusannya mundur adalah bagian dari pertimbangan yang lebih luas. “Mohon maaf kalau saya tidak bisa terus bersama-sama. Saya pikir ini yang terbaik untuk semua,” ucapnya lirih.

Namun, ia tidak ingin sorotan berhenti pada dirinya. Ia mengembalikan makna wisuda kepada para lulusan—tokoh utama hari itu. Bagi Herman, toga bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan tanda dimulainya perjalanan baru di dunia yang lebih luas, penuh tantangan, dan penuh ujian.

Jejak Perubahan Delapan Tahun

Sebelum menutup sambutannya, Herman menoleh ke belakang. Ia mengingat perubahan status Unimal menjadi Badan Layanan Umum (BLU), capaian akreditasi unggul, pertumbuhan program studi dari 37 menjadi lebih dari 60, serta lonjakan jumlah mahasiswa dari 15.000 menjadi 25.000.

Pembangunan fisik juga menjadi catatan: 17 gedung baru berdiri megah. Namun, Herman mengingatkan, “Menjaga dan merawatnya jauh lebih sulit dibandingkan membangun yang baru.”

JITUFK: Bekal Setelah Toga

Di titik inilah Herman memperkenalkan filosofi yang ia titipkan kepada para lulusan: JITUFK—Jujur, Inisiatif, Tanggung Jawab, Universal (berpikir luas), Fokus, dan Konsisten:

Jujur, terutama kepada diri sendiri; Inisiatif, jangan hanya menunggu perintah; Tanggung Jawab, berani mempertanggungjawabkan setiap keputusan; Universal, memahami perbedaan agama, suku, ras, dan latar belakang; Fokus, memiliki tujuan dan konsentrasi; Konsisten, menjalankan sesuatu secara terus-menerus meski perlahan.

Nilai-nilai itu, katanya, adalah bekal yang tidak tercantum dalam transkrip akademik, tetapi akan menentukan perjalanan hidup.

Menjadi Pintar Itu Pilihan, Menjadi Orang Baik Itu Kewajiban

Herman menutup pidatonya dengan kalimat yang menggema di ruang auditorium: “Menjadi pintar itu pilihan, tetapi menjadi orang baik itu kewajiban.”

Ia mengingatkan bahwa prestasi akademik tanpa etika hanyalah bintang yang redup. Ia menuturkan kisah pribadinya: pernah meraih IP 2,79 saat mahasiswa, namun kepercayaan, kerja keras, dan konsistensi membawanya menjadi profesor dan rektor.

Pesan untuk Alumni

Menjelang akhir, Herman menitipkan pesan agar para lulusan menjaga nama baik almamater. Ijazah bukan tanda akhir belajar, melainkan awal perjalanan baru. “Semoga adik-adik semua dapat memberikan inspirasi dan menjadi orang-orang yang mampu memimpin serta memberikan kontribusi bagi masyarakat,” katanya.

Dan, seperti doa yang ia bisikkan di podium terakhirnya, Herman mengingatkan bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan sampai pada perpisahan. Tetapi nilai, amanah, dan pesan kebaikan akan tetap hidup, jauh melampaui masa jabatan seorang rektor. (Maimun Asnawi, S.H.I., M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement