Gelar FUSION 2026, Sekolah Pascasarjana UT Perkuat Jejaring Riset dan Inovasi

TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Universitas Terbuka (UT) melalui Sekolah Pascasarjana UT memperkuat kolaborasi riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta 32 perguruan tinggi untuk mendorong hasil penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi inovasi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian.
Penguatan jejaring tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam The 3rd International Conference on Forum for University Scholars in Interdisciplinary Opportunities and Networking (FUSION) 2026 yang digelar Sekolah Pascasarjana UT di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Rabu (7/10/2026).
Konferensi yang berlangsung secara hibrid itu mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi industri, dan mahasiswa dari Indonesia maupun mancanegara. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan lintas disiplin sekaligus membuka peluang kolaborasi riset antar-institusi.
Direktur Sekolah Pascasarjana UT Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. mengatakan penguatan kerja sama menjadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas riset sekaligus memberikan kontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional.
“Untuk meraih kesuksesan di bidang riset pada masa depan, kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” kata Ojat.
FUSION 2026 melibatkan 32 institusi pendidikan tinggi sebagai co-host. Jejaring tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan konferensi, tetapi berkembang menjadi kerja sama konkret dalam pengembangan penelitian. Melalui FUSION 2026, UT mendorong agar jejaring yang terbentuk tidak berhenti pada konferensi, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi riset dan inovasi yang memberikan manfaat bagi pendidikan, dunia industri, masyarakat, serta pembangunan nasional.
“Kita memiliki kepentingan untuk mengembangkan riset institusi dengan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak,” ujarnya.
Ojat menyebut BRIN sebagai salah satu mitra strategis karena memiliki mandat pemerintah dalam pelaksanaan riset dan inovasi nasional.
“BRIN mendapatkan mandat yang sangat penting dari pemerintah untuk melaksanakan kegiatan riset dan inovasi,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara BRIN, UT, dan perguruan tinggi lainnya, termasuk jejaring internasional, dapat memperkuat ekosistem penelitian nasional.
“Mudah-mudahan dengan adanya kerja sama antara BRIN, UT, dan perguruan tinggi lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional, pengembangan riset ke depan akan semakin baik dan intensif,” tutur Ojat.
Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. menegaskan penguatan riset harus diarahkan pada hasil yang memberikan manfaat luas.
Menurut Ali, Sekolah Pascasarjana memiliki posisi penting karena menjadi ruang berkumpulnya akademisi, pakar, dan peneliti yang dapat dikolaborasikan dengan lembaga riset nasional.
“Kami yakin bahwa Sekolah Pascasarjana merupakan tempat berkumpulnya para scholars, pakar, dan periset,” ujar Ali. Ali didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Rahmat Budiman, S.S, M.Hum, Ph.D.
Karena itu, Ali melihat peluang kerja sama dengan BRIN sebagai momentum untuk membawa UT, khususnya Sekolah Pascasarjana, memainkan peran yang lebih strategis dalam pengembangan riset.
Ia menekankan UT tidak ingin berhenti pada peran sebagai teaching university. Penelitian yang dikembangkan harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Ini bukan hanya sekadar seminar, tetapi pembuktian bahwa UT tidak hanya peduli pada teaching university dan research, tetapi juga pada research yang berdampak,” katanya.
Ali mengatakan UT memiliki jejaring yang luas, baik di dalam maupun luar negeri. Modal tersebut, ditambah pengalaman Ojat Darojat di tingkat nasional dan internasional, dinilai dapat mempercepat penguatan peran UT dalam ekosistem riset.
“Kita ingin melakukan akselerasi,” tegasnya.
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Prof. Edy Giri Rachman Putra, Ph.D. mengatakan kemampuan menghasilkan inovasi menjadi salah satu penopang utama negara maju.
Indonesia, menurut Edy, memiliki modal besar berupa kekuatan ekonomi, sumber daya manusia, dan kekayaan alam. Seluruh potensi itu perlu disinergikan agar mampu mendorong transformasi menuju negara maju.
“Kita melihat bahwa suatu negara maju pasti didukung oleh hasil inovasinya. Itu sudah menjadi hukum alam,” ujar Edy.
Menurut dia, BRIN memiliki peran untuk memastikan aktivitas penelitian menghasilkan manfaat yang lebih konkret.
“Riset tersebut harus bisa bertransformasi menjadi invensi, kemudian invensi menjadi sebuah inovasi,” katanya.
Edy menegaskan penelitian tidak boleh berhenti pada produksi pengetahuan di lingkungan akademik.
“Riset tidak boleh berhenti hanya sebagai knowledge, tetapi harus bertransformasi menjadi pemanfaatan yang memberikan impact atau dampak besar terhadap perekonomian,” ujarnya.
Karena itu, kolaborasi lintas lembaga menjadi keharusan. BRIN, kata Edy, membutuhkan perguruan tinggi karena kampus memiliki sumber daya manusia yang besar untuk mengembangkan riset dan inovasi.
“Hal ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus saling terkoneksi dan terintegrasi,” katanya.
“BRIN juga harus berkolaborasi, terutama dengan perguruan tinggi, karena talent pool ada di sana,” lanjut Edy.
Ia mengatakan pemerintah juga tengah mendorong manajemen talenta nasional khusus di bidang riset dan inovasi. Targetnya bukan hanya menghasilkan peneliti dan dosen, tetapi sumber daya manusia yang mampu memperkuat sektor industri.
“Tujuannya bukan hanya mencetak periset atau dosen, tetapi juga menyiapkan talenta yang dapat bekerja di industri,” ujarnya.
Menurut Edy, industri Indonesia membutuhkan kemampuan research and development (R&D) yang lebih kuat. Industri tidak boleh hanya bergantung pada aktivitas perdagangan dan impor teknologi.
“Kita harus menguasai teknologi dan memanfaatkan sumber daya alam sehingga tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu melakukan substitusi impor,” katanya.
Ia berharap kemampuan tersebut pada akhirnya membuat Indonesia lebih mandiri dalam menguasai teknologi dan mengolah sumber daya yang dimiliki.
FUSION Jadi Ruang Kolaborasi
Ketua Panitia FUSION 2026 Dr. Faizul Mubarok, M.M. mengatakan konferensi tersebut dirancang bukan sekadar sebagai forum akademik, melainkan ruang untuk mempertemukan gagasan, jejaring, dan peluang kerja sama lintas bidang.
Kehadiran akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai institusi menjadi bagian penting dari upaya memperluas jejaring tersebut. Dia juga menyebutkan ada sedikitnya 230-an makalah yang dibahas bersama dalam berbagai sidang, yang menandakan tingginya antusiasme para peserta.
Menurut Faizul, semangat FUSION 2026 sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi menghadapi perubahan global yang semakin cepat, terutama perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Forum ini juga memberi ruang bagi para akademisi untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus membangun koneksi dengan peneliti dari institusi lain.
Dengan dukungan puluhan perguruan tinggi sebagai co-host, Faizul melihat FUSION sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kolaborasi yang lebih luas.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting ketika riset dituntut menghasilkan keluaran yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah, maupun dunia industri.(id11)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda