Breaking News
Memuat breaking news...

Kemenag-Save the Children Perkuat Pendidikan Ramah Anak di Madrasah dan Pesantren, Sasar Wilayah 3T

Redaksi
Redaksi
Senin, 21 September 2026 - 4.09 PM WIB
Kemenag-Save the Children Perkuat Pendidikan Ramah Anak di Madrasah dan Pesantren, Sasar Wilayah 3T
Kemenag dan Save The Childen berfoto bersama usai penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Agama dan Yayasan Save the Children Indonesia di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA(Waspada.id): Kementerian Agama menggandeng Save the Children Indonesia untuk memperkuat ekosistem pendidikan di madrasah, pesantren, dan satuan pendidikan keagamaan agar lebih aman, inklusif, berkarakter, sekaligus peduli terhadap lingkungan.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Agama dan Yayasan Save the Children Indonesia di Jakarta, Senin (21/9/2026). Penandatanganan dilakukan oleh Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin dan CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar.

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sambutan yang disampaikan melalui video menegaskan pendidikan tidak boleh berhenti pada pengembangan kemampuan akademik. Menurut dia, proses pendidikan juga harus membentuk karakter, akhlak, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.

“Pendidikan bukan hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” kata Nasaruddin.

Kemenag terus mendorong madrasah dan pesantren menjadi ruang belajar yang aman dan inklusif. Nilai toleransi, kepedulian terhadap sesama, dan kecintaan terhadap alam, kata dia, perlu hadir dalam keseharian peserta didik. Arah tersebut sejalan dengan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta dan pendekatan ekoteologi yang dikembangkan Kemenag.

Nasaruddin berharap kesepahaman dengan Save the Children tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diwujudkan melalui program yang memberikan manfaat langsung bagi anak.

“Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan harus diarahkan untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan berkembang secara optimal,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin yang membuka kegiatan secara langsung menambahkan, Kemenag juga memasukkan isu perubahan iklim dan kelestarian alam dalam agenda pendidikan keagamaan melalui pendekatan ekoteologi.

CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung pemenuhan hak anak, terutama hak memperoleh pendidikan yang aman dan berkualitas.

“Komitmen kami adalah mengawal ekosistem pemenuhan hak anak, terutama hak atas pendidikan,” ujar Dessy.

Dessy mengatakan berbagai praktik yang telah dikembangkan Save the Children akan diselaraskan dengan prioritas Kemenag, antara lain Kurikulum Berbasis Cinta, ekoteologi, serta pengembangan madrasah dan pesantren yang memperhatikan keselamatan dan hak peserta didik.

Salah satu program yang menjadi bagian dari kolaborasi adalah KREASI yang dijalankan di delapan kabupaten pada empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara.

Senior Director Advocacy, Campaign & Governance Save the Children Indonesia Tata Sudrajat mengatakan KREASI diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi pada jenjang SD, MI, PAUD, dan RA.

Program tersebut juga mencakup pelatihan berjenjang bagi guru dan kepala sekolah, mulai dari tingkat nasional hingga pendampingan langsung di satuan pendidikan. Para kepala sekolah juga didorong saling berbagi pengalaman untuk memperkuat dukungan terhadap kemampuan membaca, berhitung, dan pembelajaran peserta didik.

“Yang kami dorong bukan hanya peningkatan kapasitas guru, tetapi juga bagaimana praktik baik di sekolah dapat menjadi bagian dari kebijakan dan direplikasi di wilayah lain,” kata Tata.

Tata menambahkan, Save the Children bersama Kemenag turut menyusun panduan terkait literasi dan numerasi serta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Di tingkat daerah, kolaborasi juga diarahkan untuk mendorong kebijakan yang mencegah perundungan dan memperkuat mekanisme perlindungan peserta didik.

Sementara itu, Chief of Party Program KREASI Save the Children Indonesia Alifah Sri Lestari mengatakan program perlindungan anak dan kesetaraan gender telah diterapkan di sejumlah madrasah di Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Program yang saat ini berjalan di 20 madrasah tersebut ditargetkan berkembang menjadi 40 madrasah. Pengalaman dari pelaksanaan program akan didorong menjadi praktik yang dapat diterapkan lebih luas oleh pemerintah dan satuan pendidikan.

Selain perlindungan anak, kolaborasi juga menyentuh isu kebencanaan dan perubahan iklim. Save the Children mengembangkan modul Sekochi atau Sekolah Cerdas Iklim untuk mendorong keterlibatan peserta didik dalam memahami persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Di lingkungan pesantren, penguatan kesiapsiagaan dilakukan melalui penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pendekatan tersebut diarahkan untuk memastikan aspek keselamatan menjadi bagian dari tata kelola satuan pendidikan.

Melalui rangkaian program tersebut, Kemenag dan Save the Children menempatkan peningkatan mutu pembelajaran, pemenuhan hak anak, keselamatan peserta didik, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian yang saling terkait dalam pengembangan pendidikan keagamaan.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement