Breaking News
Memuat breaking news...

Legit Buah di Atas Tanah Air Mata: Kisah Langkahan Merajut Mahkota Juara dari Puing Piasan Pase

Redaksi
Redaksi
Senin, 5 Oktober 2026 - 2.24 PM WIB
Legit Buah di Atas Tanah Air Mata: Kisah Langkahan Merajut Mahkota Juara dari Puing Piasan Pase
Camat Langkahan T. Reza Ichwan., Senin (5/10/2026 menerima piala dan piagam Juara 1 Stan Terbaik pada Peringatan Milad 800 Tahun Aceh Utara dan Samudera Pasai dari  Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, didampingi istri. Waspada.id/ Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

"Kami tidak datang ke panggung abad Samudera Pasai untuk dikasihani. Kami datang membawa bukti nyata dari sisa tenaga yang tersisa. Juara ini bukan sekadar piala pameran, melainkan perayaan atas martabat sebuah bangsa yang bangkit dari bencana lewat manisnya buah perjuangan." — Camat Langkahan T. Reza Ichwan, S.STP., M.AP.

Riuh rendah tabuhan Rapai Pase bergemuruh di Lapangan Landing, Kecamatan Lhoksukon, pada malam penutupan Milad 800 Tahun Aceh Utara dan Samudera Pasai, 13 September lalu. Di bawah pendar lampu pameran Piasan Pase, ribuan pasang mata tertuju pada sebuah pengumuman besar: Kecamatan Langkahan dinobatkan sebagai Juara 1 Stan Terbaik, mengalahkan puluhan stan instansi dan kecamatan lain di seluruh bumi Sultan Malikussaleh.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar piala pameran pembangunan biasa. Namun, bagi mereka yang tahu apa yang terjadi di hulu Sungai Jambo Aye, trofi ini adalah sebuah air mata yang menjelma menjadi tepuk tangan. Ini adalah kisah tentang sisa-sisa tenaga yang menolak menyerah pada takdir bencana.

“Juara ini berhasil kami raih berkat dukungan seluruh geusyiek (kepala desa) dan seluruh elemen masyarakat Langkahan. Ini adalah kemenangan bersama,” kata Camat Langkahan usai menerima piala dan piagam penghargaan dari Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, di Lapangan Upacara Landing, Lhoksukon, Senin (5/10/2026) pagi.

Menolak Sembunyi di Balik Trauma

Belum genap setahun berlalu sejak bencana hidrometeorologi ekstrem mencabik-cabik Langkahan. Kala itu, air bah setinggi lebih dari empat meter menenggelamkan asa mereka. Di Gampong Tanjong Jawa dan Geudumbak, ratusan rumah dilaporkan hanyut diterjang material kayu gelondongan. Langkahan lumpuh, meninggalkan luka mendalam dengan catatan 42 warga meninggal dunia serta 1.216 jiwa mengalami luka-luka.

Bencana tersebut memaksa 12.824 warga Langkahan meninggalkan tanah kelahiran mereka dan bertahan di 35 titik tenda pengungsian darurat karena rumah yang hilang total. Jumlah ini menjadi pilar terbesar dari total 33.261 jiwa pengungsi di seluruh Kabupaten Aceh Utara.

Namun, alih-alih datang ke pameran akbar delapan abad Aceh Utara dengan wajah memelas meminta santunan, masyarakat Langkahan memilih berdiri tegak.

Di dalam anjungan mereka, sebuah konsep berani dihadirkan. Mereka sengaja menyandingkan galeri foto dokumentasi banjir bandang yang memilukan dengan tumpukan hasil bumi yang hijau merona. Seolah ingin berbisik kepada setiap pengunjung: “Ini adalah bencana yang merenggut nyawa dan rumah kami, namun lihatlah apa yang berhasil kami rawat dari tanah yang sama.”

Berkah Lumpur dan Durian Rp1,5 Juta per Hari

Siapa sangka, air bah yang menenggelamkan perkebunan mereka justru membawa blessing in disguise—berkah tersembunyi. Endapan lumpur aluvial yang tertinggal pascabanjir rupanya menyuburkan kembali unsur hara tanah Langkahan.

Hasilnya terpampang nyata di meja-meja pajangan stan. Jeruk nipis yang segar, jengkol, petai, hingga jeruk bali berukuran raksasa dipamerkan. Namun, yang menjadi primadona mutlak dan magnet utama ribuan pengunjung setiap harinya adalah varietas buah premium kebanggaan mereka: Durian Bawor dan Durian Montong.

Setiap sore, aroma harum durian Langkahan menyeruak, memicu antrean panjang warga yang penasaran. Hasilnya pun fantastis, rata-rata omzet penjualan buah di stan ini menembus angka Rp1,5 juta per hari. Bagi para petani penyintas banjir yang membawa buah ini langsung dari kebun mereka dengan sisa modal seadanya, uang tersebut bukan sekadar angka transaksi komersial. Uang itu adalah modal menyambung hidup, membeli bibit baru, dan membangun kembali dinding-dinding rumah yang sempat hanyut.

Solidaritas yang Menjelma Menjadi Juara

Ribuan pengunjung yang memadati stan Langkahan setiap harinya menciptakan sebuah fenomena sosial yang mengharukan. Kehadiran masyarakat dari kecamatan lain bukan lagi sekadar urusan transaksi jual-beli buah. Ada dorongan solidaritas kemanusiaan kolektif. Membeli durian Langkahan adalah cara paling bermartabat bagi masyarakat Aceh Utara untuk bahu-membahu memulihkan perekonomian saudaranya yang tertimpa musibah.

Tim juri Milad 800 Tahun Aceh Utara pun tak ragu menunjuk Langkahan sebagai yang terbaik. Mereka menang secara mutlak karena berhasil memadukan storytelling (narasi perjuangan) yang jujur dengan dampak ekonomi riil UMKM di lapangan.

Kecamatan Langkahan telah berhasil mengubah stigma. Mereka yang sebelumnya menyandang status sebagai “wilayah terdampak bencana paling parah”, kini pulang membawa piala kehormatan tertinggi sebagai “wilayah agraris paling tangguh dan berdaya” di Kabupaten Aceh Utara. Kebangkitan mereka memang lahir dari sisa tenaga yang tersisa, namun dari sisa tenaga itulah harum legit durian Langkahan membuktikan bahwa tanah mereka—dan mentalitas manusianya—tetap subur dan tak goyah oleh badai.

“Kami tidak pernah menyangka, Langkahan terpilih sebagai penerima juara I dalam pameran ini. Padahal stan kami tampil seadanya, tapi ternyata berhasil menarik perhatian semua pihak,” demikian ungkapan orang nomor satu di Kecamatan Langkahan ini. (Maimun Asnawi, S.H.I., M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement