Breaking News
Memuat breaking news...

Prestasi Timnas Indonesia di Asian Games 1986 (Dominasi Anak-anak Medan di Timnas)

Redaksi
Redaksi
Minggu, 27 September 2026 - 2.15 PM WIB
Prestasi Timnas Indonesia di Asian Games 1986 (Dominasi Anak-anak Medan di Timnas)
Timnas Indonesia di Asian Games 1986, Berdiri Ki-Ka: Berti Tutuarima,Jaya Hartono,Ponirin Meka,Elly Idris,Adolf Kabo dan Zulkarnaen Lubis, Jongkok Ki-Ka: Marzuki Nyakmad,Ricky Yakob,Sumardi,Abdul Rahman Gurning dan Robby Maruanaya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Indra Efendi Rangkuti


Sejak pertama kali berpartisipasi di Asian Games 1951, Timnas Indonesia terus berpartisipasi mengikuti cabang sepakbola di Asian Games 1954, 1958, 1962, 1966, dan 1970. Namun, kemudian Indonesia absen di Asian Games 1974, 1978, dan 1982. Setelah absen di Asian Games 1974, 1978, dan 1982, Timnas Indonesia kembali tampil di Asian Games 1986 yang berlangsung di Seoul.


Sepanjang penyelenggaraan Asian Games, prestasi terbaik Indonesia adalah meraih Medali Perunggu pada Asian Games 1958 yang berlangsung di Tokyo. Waktu itu, skuad Indonesia yang dilatih Antun "Toni" Pogačnik menaklukkan India 4-1 dalam perebutan Medali Perunggu. Saat itu, tiga legenda PSMS Medan, yaitu M. Rasijd, Saari, dan Bakir Goordy, menjadi bagian dari skuad Timnas dan menjadi pilihan utama.

Pada Asian Games 1986 ini belum ada pembatasan umur para pemain yang membela Timnas. Pada Asian Games 1986 ini, PSSI menunjuk tokoh sepakbola nasional asal Sumut, A. Wahab Abdi Simatupang, sebagai Manajer Tim. Sebagai pelatih ditunjuk Bertje Matulapelwa, dibantu Sarman Panggabean dan Sutan Harhara sebagai asisten pelatih.

Pelatih Bertje Matulapelwa bersama asisten pelatih Sarman Panggabean mengawasi latihan Timnas Asian Games 1986



Jika pada Pra Piala Dunia 1986 Timnas didominasi oleh bintang-bintang dari kompetisi Galatama, maka Timnas Asian Games 1986 ini diisi oleh perpaduan bintang-bintang terbaik dari kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI dan kompetisi Galatama. Setelah melewati proses seleksi, terpilih 19 pemain yang dibawa, yaitu: Ponirin Meka (Persijatim), I Gusti Putu Yasa (Persebaya), Asmawi Jambak (Arseto), Berti Tutuarima (Persija), Abdul Rahman Gurning (PSMS), Marzuki Nyakmad (Persija), Robby Maruanaya (Pelita Jaya), Sutrisno (PSMS), Jaya Hartono (Niac Mitra), Robby Darwis (Persib), Sumardi (PSMS), Patar Tambunan (Persija), Yonas Sawor (Perseman), Zulkarnaen Lubis (KTB), Adityo Darmadi (Persija), Elly Idris (Pelita Jaya), Ricky Yakob (Arseto), Adolf Kabo (Perseman), dan Saut Lumbantobing (KTB).

Warna Medan dan Sumut cukup kental dalam Timnas ini karena 10 pemain dalam Timnas ini adalah anak-anak Medan dan Sumut. Selain Abdul Rahman Gurning, Sutrisno, dan Sumardi yang membela panji PSMS Medan, Timnas juga diperkuat oleh bintang-bintang yang dibesarkan oleh PSMS Medan, yaitu: Ponirin Meka, Marzuki Nyakmad, Patar Tambunan, Jaya Hartono, Ricky Yakob, dan Zulkarnaen Lubis. Warna Sumut juga kian terasa karena Saut Lumbantobing adalah kelahiran Sorkam, Tapanuli Tengah, dan mengawali karier sebagai pesepakbola di Sumut sebelum melanglang buana ke luar Sumut bergabung dengan Persija Jakarta dan Kramayudha Tiga Berlian (KTB) Palembang.

Warna Sumut kian kental karena Manajer Timnas A. Wahab Abdi Simatupang adalah mantan Ketua Umum PSMS dan mantan Ketua Komda PSSI Sumut, serta asisten pelatih Sarman Panggabean adalah legenda PSMS dan Timnas era 60-an dan 70-an.

Indonesia sendiri tergabung di Grup B bersama Arab Saudi, Qatar, dan Malaysia. Indonesia mengawali laga pertama melawan Qatar pada 21 September 1986 di Gwangju Stadium. Pada pertandingan yang berlangsung keras ini, Qatar unggul terlebih dahulu lewat gol yang dicetak oleh Khalid Salman Al-Muhannadi pada menit ke-29. Indonesia sendiri baru bisa membalas pada menit ke-68 lewat gol yang dicetak Adolf Kabo dan bertahan hingga pertandingan usai.

Pada pertandingan ini Timnas mendapat cobaan berat karena center back Abdul Rahman Gurning mengalami cedera setelah berbenturan dengan pemain Qatar dan harus diganti oleh Robby Darwis. Akhirnya, Abdul Rahman Gurning harus absen hingga Asian Games 1986 berakhir. Walau begitu, Robby Darwis juga tampil cukup baik berduet dengan Marzuki Nyakmad di jantung pertahanan Timnas.

Pada pertandingan kedua yang berlangsung 25 September 1986, Timnas Indonesia berhadapan dengan Arab Saudi. Pada laga ini Timnas harus menelan pil pahit karena ditaklukkan Arab Saudi 0-2. Kedua gol Arab Saudi dicetak oleh bintangnya, yaitu Majed Ahmed Abdullah, pada menit ke-84 dan 87.

Kekalahan ini membuat Indonesia harus menang pada laga terakhir melawan Malaysia pada 27 September 1986 jika ingin lolos ke babak perempat final. Dan akhirnya, Indonesia berhasil menaklukkan Malaysia 1-0 pada laga penentuan tersebut lewat gol yang dicetak oleh Adolf Kabo. Indonesia lolos sebagai runner-up Grup B bersama sang jawara grup, Arab Saudi.

Pada laga perempat final yang berlangsung 1 Oktober 1986 di Olympic Stadium Seoul, Indonesia berhadapan dengan juara Grup A, Uni Emirat Arab (UAE). Pertandingan berlangsung ketat dan diwarnai jual beli serangan di antara kedua tim. Setelah imbang 0-0 di babak pertama, Indonesia unggul terlebih dahulu lewat gol yang dicetak oleh Ricky Yakob pada menit ke-48. Tersentak lewat gol ini, UAE kemudian membombardir lini pertahanan Indonesia. Akhirnya, pada menit ke-78 UAE mencetak gol balasan lewat bintangnya, Khalil Ghanim Mubarak. Skor imbang 1-1 bertahan hingga babak normal berakhir.

Pertandingan dilanjutkan lewat babak perpanjangan waktu. UAE unggul terlebih dahulu lewat gol yang dicetak Fahad Khamees Mubarak pada menit ke-96. Tertinggal 1-2 membuat anak-anak asuh Bertje Matulapelwa ini berusaha menyerang dengan gencar. Akhirnya, Indonesia berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-104 setelah pemain UAE, Salem Abdullah Awadh Saeed, mencetak gol bunuh diri. Skor 2-2 ini bertahan hingga babak perpanjangan waktu ini usai.

Dua Bintang Timnas di Asian Games 1986 Ponirin Meka dan Adolf Kabo



Pertandingan dilanjutkan lewat drama adu penalti. Dalam babak adu penalti ini, kiper Timnas Ponirin Meka memperlihatkan aksi gemilangnya seperti ketika membawa PSMS Medan juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 dan 1985 lewat adu penalti. Ponirin Meka dengan gemilang berhasil menggagalkan dua eksekutor UAE, yaitu Salem Abdullah Awadh Saeed dan Adnan Khamis Mohammed Obaid Al-Talyani Al Suwaidi, dan hanya tiga eksekutor UAE yang sukses.

Indonesia sendiri hanya Robby Darwis yang gagal. Empat eksekutor lainnya, yaitu Sumardi, Ricky Yakob, Sutrisno, dan Adolf Kabo, sukses menjalankan tugasnya dengan baik dan membuat Indonesia unggul 4-3 dalam drama adu penalti ini sekaligus memastikan Indonesia lolos ke semifinal.

Pada laga semifinal yang berlangsung 3 Oktober 1986, Indonesia berhadapan dengan tuan rumah Korea Selatan (Korsel) di Olympic Stadium Seoul. Korsel yang diperkuat oleh bintang-bintang yang membawa Korsel berlaga di Piala Dunia 1986 di Meksiko beberapa bulan sebelumnya lebih diunggulkan daripada Indonesia yang disingkirkannya di PPD 1986. Indonesia sendiri termotivasi untuk membalas kekalahan atas Korsel di PPD 1986.

Namun, ternyata Korsel yang tampil di hadapan publiknya sendiri terlalu tangguh untuk ditaklukkan oleh Indonesia. Indonesia takluk 0-4 atas Korsel lewat gol yang dicetak oleh Cho Kwang-rae, Choi Soon-ho (2 gol), dan Lee Tae-ho. Indonesia pun harus mengubur mimpinya untuk lolos ke final dan hanya menjalani perebutan Medali Perunggu melawan Kuwait. Kuwait sendiri di laga semifinal takluk dari Arab Saudi melalui drama adu penalti.

Pemain Korea Selatan, Lee Tae-ho merayakan gol bersama Kim Joo-sung (kiri), dan Cho Kwang-rae, sementara Sutrisno, Robby Darwis, Robby Maruanaya, Zulkarnaen Lubis dari Indonesia tampak kecewa atas gol tersebut.Timnas Indonesia kalah 0-4 dari Korsel di Semifinal Asian Games 1986



Pada laga perebutan Medali Perunggu yang berlangsung pada 4 Oktober 1986 di Olympic Stadium Seoul ini, Timnas tampil timpang akibat kondisi fisik yang terkuras pada laga perempat final dan semifinal, ditambah beberapa pemain mengalami cedera. Bahkan, kiper Ponirin Meka terpaksa diganti pada pertengahan pertandingan oleh I Gusti Putu Yasa akibat cedera. Kuwait yang diperkuat oleh beberapa bintang yang membawa Kuwait lolos ke Piala Dunia 1982 tampil dominan dalam laga ini dan membuat pertahanan Indonesia porak-poranda. Akhirnya, dalam laga ini Kuwait berhasil meraih Medali Perunggu setelah menaklukkan Indonesia 5-0 lewat gol-gol yang dicetak Jamal Yaqoub Al-Qabendi, Abdul Aziz Alhajeri (2 gol), Naem Saad Mubarak Faraj, dan Salah Al Hasawi.

Prestasi Timnas Indonesia di Asian Games 1986 ini gagal menyamai prestasi Timnas Indonesia di Asian Games 1958 di Tokyo yang sukses meraih Medali Perunggu. Walau begitu, prestasi Timnas di Asian Games 1986 ini menyamai prestasi Indonesia di Asian Games 1954 di Manila yang juga sukses lolos ke semifinal. Pada Asian Games 1954 ini Indonesia gagal meraih Medali Perunggu setelah dalam laga perebutan Medali Perunggu takluk dari Burma (Myanmar).

Kesedihan Ricky Yakob dan Ponirin Meka seusai kekalahan Indonesia atas Kuwait di perebutan Medali Perunggu Asian Games 1986



Setelah Asian Games 1986 ini, Timnas Indonesia absen mengikuti Asian Games pada 1990, 1994, 1998, dan 2002. Indonesia kembali berlaga di Asian Games 2006 yang berlangsung di Doha, Qatar. Tapi sayang, di Asian Games 2006 ini langkah Timnas Indonesia terhenti di babak I.

Indonesia kembali absen pada Asian Games 2010 yang berlangsung di Guangzhou, China. Pada Asian Games 2014 di Incheon, Korsel, dan 2018 yang berlangsung di Indonesia, Indonesia kembali berpartisipasi dan sukses lolos hingga 16 besar.

Pada Asian Games 2022 yang digelar tahun 2023 di Hangzhou, China, Timnas Indonesia kembali turut berpartisipasi. Namun sayang, langkah Timnas kembali terhenti di babak 16 besar.

Untuk Asian Games 2026 ini, Timnas Indonesia tidak berpartisipasi karena gagal lolos dari kualifikasi.

AFC dan Olympic Council of Asia (OCA) menetapkan aturan baru bahwa peserta sepakbola Asian Games 2026 ditentukan berdasarkan negara yang tampil di putaran final Piala Asia U-23 2026. Aturan tersebut berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, ketika negara yang ingin berpartisipasi bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti cabang sepakbola Asian Games.

Aturan tersebut berdampak langsung kepada Indonesia yang gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2026. Timnas Indonesia U-23 gagal melewati kualifikasi Piala Asia U-23 2026.


Pada kualifikasi Piala Asia U-23 2026, Indonesia tergabung di Grup J bersama Korea Selatan, Laos, dan Makau. Garuda Muda pada akhirnya mengoleksi 4 poin dari tiga pertandingan. Indonesia bermain imbang 0-0 melawan Laos, menang 5-0 atas Makau, kemudian kalah 0-1 dari Korea Selatan.

Hasil tersebut membuat Indonesia finish sebagai runner-up Grup J di bawah Korea Selatan yang mengoleksi 9 poin. Status runner-up sebenarnya belum otomatis menutup peluang Indonesia. Sebab, selain 11 juara grup, tersedia tiket untuk empat runner-up terbaik ke putaran final Piala Asia U-23 2026.

Namun, Indonesia tidak masuk empat runner-up terbaik. Empat runner-up yang lolos adalah China, Uzbekistan, Lebanon, dan Uni Emirat Arab. Karena gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2026, Indonesia pun tidak mendapatkan tempat di sepakbola putra Asian Games 2026 sesuai aturan peserta yang berlaku.

Semoga sepakbola Indonesia kembali tampil di Asian Games 2030. WASPADA.id

Penulis adalah pemerhati olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement