Breaking News
Memuat breaking news...

Rumah yang Terhenti, Harapan yang Tak Pernah Padam: "Di Bale Manee, Doa Keluarga Menanti Jawaban atas Hunian yang Belum Selesai”

Redaksi
Redaksi
Senin, 21 September 2026 - 12.46 PM WIB
Rumah yang Terhenti, Harapan yang Tak Pernah Padam: "Di Bale Manee, Doa Keluarga Menanti Jawaban atas Hunian yang Belum Selesai”
Sekretariat Baitul Mal Aceh Utara, Samsul Bahri, S.E., bersama Komisioner Kariman, S.E., Camat Banda Baro M. Nurkhazi, S.IP., serta Geuchik Gampong Blang Pala, singgah di rumah sederhana milik M. Ali. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

“Di balik dinding yang belum selesai, ada doa yang tak pernah berhenti: doa seorang ayah agar anak-anaknya kelak tidur dalam rumah yang layak, bukan sekadar berteduh di bawah langit yang tak menentu.”



Di sebuah dusun kecil bernama Bale Manee, Gampong Blang Pala, jejak langkah rombongan Baitul Mal Aceh Utara menyusuri jalan tanah yang basah oleh embun pagi. Kamis itu, 17 September 2026, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Utara, Samsul Bahri, S.E., bersama Komisioner Kariman, S.E., Camat Banda Baro M. Nurkhazi, S.IP., serta Geuchik Gampong Blang Pala, singgah di rumah sederhana milik M. Ali.

Rumah itu berdiri dengan dinding yang belum sempurna, seakan menunggu sentuhan tangan yang tak kunjung datang. Di balik pintu kayu yang rapuh, keluarga M. Ali menyimpan harapan akan hunian layak yang pernah dijanjikan. Tahun 2025, Perkim Aceh telah memulai pembangunan rumah baru untuk mereka. Namun, bencana hidrometeorologi merenggut kelanjutan mimpi itu, meninggalkan pondasi yang terhenti di tengah jalan.

Kunjungan hari itu bukan sekadar formalitas. Samsul Bahri menatap rumah yang belum selesai dengan mata penuh tanggung jawab. Ia meminta kepada Camat dan Geuchik agar membantu mencari kejelasan dari Perkim Aceh: apakah pembangunan ini akan dilanjutkan, atau harus ada surat resmi yang membuka jalan bagi Baitul Mal untuk mengambil langkah.

“Kami ingin memastikan terlebih dahulu status pembangunan rumah ini. Jika memang tidak dilanjutkan, tentu harus ada keterangan resmi sebagai dasar bagi kami,” ucapnya, tegas namun penuh empati.



Tak hanya membawa pertanyaan, rombongan juga membawa sebungkus kepedulian. Sembako sederhana diserahkan kepada keluarga M. Ali, sebagai tanda bahwa di tengah ketidakpastian, ada tangan yang ingin meringankan beban.

“Semoga bantuan ini dapat bermanfaat,” ujar Samsul, dengan senyum yang mencoba menyalakan harapan.

Di dusun itu, harapan bukan sekadar kata. Ia tumbuh dari koordinasi antara pemerintah gampong, kecamatan, Perkim Aceh, dan Baitul Mal. Semua pihak diharapkan segera memberi kejelasan, agar rumah yang terhenti bisa kembali berdiri, menjadi tempat teduh bagi keluarga M. Ali.

Dan di Bale Manee, di antara dinding yang belum selesai, doa-doa keluarga itu terus bergema: agar hunian layak bukan lagi janji yang tertunda, melainkan kenyataan yang hadir, menegakkan martabat, dan mengembalikan arti sebuah rumah. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement