Breaking News
Memuat breaking news...

UISU-INTANI Perkuat Kolaborasi Agribisnis Berbasis Komunitas

Redaksi
Redaksi
Kamis, 24 September 2026 - 5.23 PM WIB
UISU-INTANI Perkuat Kolaborasi Agribisnis Berbasis Komunitas
Rektor UISU Prof. Dr. Safrida melakukan penandatanganan MoU dengan INTANI didampingi Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf UISU Ir. Indra Gunawan, MP di Auditorium Pusat Administrasi UISU Lantai 3, Rabu (23/9). Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id):Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) menggelar Kuliah Umum bertema “Transformasi Agribisnis Berbasis Komunitas: Strategi Menuju Kedaulatan Pangan Nasional” yang dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) antara UISU dengan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI).

Kegiatan berlangsung di Auditorium Pusat Administrasi UISU Lantai 3, Rabu (23/9) dengan menghadirkan Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) sebagai narasumber. Materi yang disampaikan mengangkat pentingnya transformasi sektor pertanian melalui agribisnis, kewirausahaan sosial, teknologi, investasi berdampak, serta pengembangan ekonomi hijau.

Turut hadir Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf UISU Ir. Indra Gunawan, MP beserta jajaran, Rektor UISU Prof. Dr. Safrida, SE., M.Si beserta jajaran, Dekan Fakultas Pertanian UISU Prof. Ir. Murni Rahayu, MP beserta jajaran, Dosen UISU dan mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi UISU untuk memperkuat kolaborasi dengan INTANI dalam pengembangan sektor pertanian dan agribisnis berbasis komunitas. Penandatanganan MoU dan MoA tersebut diharapkan menjadi landasan bagi terwujudnya kerja sama yang tidak hanya bersifat kelembagaan, tetapi juga dapat diimplementasikan melalui berbagai program yang memberikan manfaat bagi mahasiswa, sivitas akademika, petani, serta masyarakat secara luas.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf UISU Ir. Indra Gunawan, M.P., menyampaikan bahwa kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi dapat benar-benar membumi, terimplementasi, dan memberikan dampak kepada masyarakat.

Dalam pemaparannya, Guntur Subagja Mahardika menjelaskan bahwa sektor pertanian saat ini perlu dilihat dengan paradigma baru. Nilai pertanian tidak hanya berhenti pada proses produksi dan panen, tetapi dapat dikembangkan melalui pengolahan, penguatan merek, distribusi, pemanfaatan data, pengalaman, karbon, hingga investasi. Paradigma tersebut mengubah pola lama “tanah, tanam, panen, jual” menjadi sebuah rantai nilai yang lebih panjang dan memiliki potensi ekonomi yang lebih besar.

Gagasan tersebut diperkuat melalui konsep multi-value agriculture, yaitu bagaimana satu kawasan pertanian dapat menghasilkan berbagai sumber nilai yang saling terhubung, mulai dari pangan, pakan, serat, energi, kesehatan, kecantikan, pariwisata, ekonomi kreatif hingga karbon. Menurut materi yang disampaikan, petani perlu diposisikan sebagai bagian dari rantai nilai sehingga tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga memiliki peluang untuk memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil pertanian yang dikembangkan.

Guntur juga menyoroti besarnya peluang generasi muda dalam membangun masa depan berbasis pertanian. Generasi muda tidak harus kembali ke pertanian hanya sebagai petani, tetapi dapat membangun berbagai profesi dan bisnis seperti agripreneur, agricultural technologist, agri-marketer, content creator, investor, researcher, farm manager, sustainability entrepreneur, dan agro-tourism developer. Untuk mendukung peran tersebut, dibutuhkan lima kecerdasan utama, yakni production intelligence, business intelligence, market intelligence, technology intelligence, dan impact intelligence.

Rektor Universitas Islam Sumatera Utara Prof. Dr. Safrida, S.E., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa transformasi agribisnis merupakan agenda penting yang perlu menjadi perhatian seluruh sivitas akademika UISU. Menurutnya, isu pertanian dan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa Fakultas Pertanian, tetapi juga menjadi perhatian mahasiswa dan dosen dari berbagai bidang keilmuan karena pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Rektor menekankan bahwa transformasi pertanian harus disertai dengan pemanfaatan teknologi dan perubahan pola pikir. Petani tidak cukup hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi perlu mampu meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan dan pengembangan produk. Karena itu, kolaborasi dan penguatan komunitas menjadi penting agar petani dapat berkembang dari sekadar produsen menjadi pelaku usaha.

Lebih lanjut, Rektor UISU mendorong mahasiswa dan dosen untuk mengambil peran dalam proses transformasi tersebut dengan memberikan pengetahuan, wawasan, dan pengalaman kepada kelompok petani.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf UISU Ir. Indra Gunawan, M.P., menyampaikan bahwa kerja sama dengan INTANI juga memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan Wakaf Hijau UISU. Sebelumnya, UISU telah berinteraksi dengan Guntur dalam pengembangan gagasan Wakaf Hijau dan telah membangun prototipe kebun agroforestri yang diarahkan untuk dikembangkan menjadi kebun wakaf.

Melalui kerja sama tersebut, UISU juga membuka peluang pengembangan kebun percobaan agribisnis Wakaf Hijau, antara lain melalui pembangunan rumah kompos, sentra edukasi pertanian organik, serta pengembangan pupuk organik padat dan cair maupun pupuk hayati. Program ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus wadah pengembangan kewirausahaan mahasiswa, termasuk mahasiswa dari berbagai program studi dan fakultas.

Konsep tersebut sejalan dengan gagasan Green Waqf yang disampaikan Guntur. Dalam materi kuliah umum, Green Waqf dijelaskan sebagai inovasi instrumen keuangan sosial Islam yang memiliki potensi untuk mendukung pertanian berkelanjutan, pemulihan lingkungan, konservasi, dan kedaulatan pangan. Pengembangan aset wakaf diarahkan agar tetap produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Guntur juga memaparkan bahwa pengembangan ekosistem pertanian dapat melibatkan berbagai pihak, mulai dari kelompok tani, koperasi/KDMP, pesantren, BUMDes, UMKM, komunitas pemuda, perguruan tinggi, perusahaan hingga lembaga filantropi. Kolaborasi tersebut dapat membangun sebuah rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari lahan, produksi, pengolahan, merek, pasar, pendidikan, pariwisata, komunitas hingga investasi.

Dengan dilaksanakannya kuliah umum sekaligus penandatanganan MoU dan MoA antara UISU dan INTANI, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sektor pertanian. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, pendampingan masyarakat, pengembangan agribisnis, pertanian berkelanjutan, serta Wakaf Hijau UISU.

Melalui kolaborasi tersebut, UISU terus mendorong terwujudnya perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan berpengetahuan, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sinergi UISU dan INTANI diharapkan dapat melahirkan berbagai program berkelanjutan yang melibatkan mahasiswa, dosen, petani, komunitas, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem agribisnis berbasis komunitas sebagai bagian dari upaya mendukung kedaulatan pangan nasional. (Wsp.id)

-

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement