800 Hektare Terancam, Pemkab Pidie Siapkan Langkah Darurat

PIDIE (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Pidie bergerak menangani Bendungan Lhok Adan Tiro di Kecamatan Sakti yang roboh pascabanjir 26 November 2026. Kerusakan bendungan menyebabkan aliran air menuju sawah terputus dan mengancam lebih dari 800 hektare lahan pertanian di 13 gampong.
Kondisi bendungan tersebut ditinjau langsung Apriadi, S.Sos., Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setdakab Pidie sekaligus Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pidie, bersama Kepala Dinas Pertanian Pidie Hasbalah, SP, Senin (28/9).
Dalam peninjauan tersebut, Apriadi didampingi Keujruen Blang, Mukim Murong Cot serta penyuluh pertanian Kecamatan Sakti. Rombongan melihat langsung kondisi bendungan dan aliran air yang terdampak akibat kerusakan tersebut.
Apriadi mengatakan, kondisi riil di lapangan menunjukkan kerusakan bendungan membuat air dari Krueng Tiro tidak lagi dapat dialirkan secara normal menuju saluran irigasi dan areal persawahan masyarakat.
“Kondisi riilnya langsung kita lihat di lapangan. Akibat bendungan roboh, air sungai tidak bisa lagi dialirkan ke sawah-sawah masyarakat,” kata Apriadi.
Menurutnya, kerusakan tersebut harus segera ditangani karena menyangkut kebutuhan pengairan lahan pertanian masyarakat di 13 gampong.
Jika tidak segera dilakukan penanganan, kondisi itu berpotensi menyebabkan kekeringan dan mengganggu musim tanam petani.
“Kalau tidak segera ditangani, dampaknya bisa terjadi kekeringan dan masyarakat terancam gagal tanam,” ujarnya.
Sebagai langkah sementara, Pemerintah Kabupaten Pidie menyiapkan penanganan pada bagian bendungan yang roboh menggunakan batu yang dipasang dalam kawat bronjong.
Penanganan tersebut dilakukan untuk memperkuat bagian yang rusak sekaligus membantu mengarahkan kembali aliran air agar dapat masuk ke saluran irigasi menuju areal persawahan masyarakat.
“Untuk sementara akan ditutup dengan pembangunan bronjong kawat berisi batu. Air akan dialihkan kembali ke saluran menuju irigasi. Ini langkah sementara agar masyarakat petani dapat kembali mengolah sawahnya,” jelas Apriadi.
Ia mengatakan, langkah tersebut merupakan upaya cepat pemerintah agar kebutuhan air bagi lahan pertanian masyarakat tetap dapat dipenuhi sembari menunggu penanganan lebih lanjut terhadap Bendungan Lhok Adan Tiro.
Apriadi menegaskan, kehadiran dirinya bersama jajaran terkait di lokasi merupakan bentuk langkah nyata Pemerintah Kabupaten Pidie dalam merespons persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kedatangan kami bersama rombongan dari Sigli ke lokasi irigasi yang jebol ini merupakan bentuk langkah nyata dan keseriusan Bupati Pidie dalam memperhatikan masyarakat, khususnya para petani,” katanya.
Penanganan Bendungan Lhok Adan Tiro kini menjadi perhatian penting karena menyangkut keberlangsungan pengairan sawah masyarakat di 13 gampong dengan luas lebih dari 800 hektare.
Di tengah ancaman kekeringan, pemerintah menyiapkan langkah darurat agar aliran air kembali mengalir dan petani tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan musim tanam.
Bendungan boleh roboh diterjang banjir, tetapi ikhtiar untuk menyelamatkan sawah tidak boleh ikut terhenti. (id69)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda