AS Perluas Sanksi Ekonomi ke Iran, Perusahaan Indonesia Ikut Terdampak

WASHINGTON (Waspada.id): Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memperluas sanksi ekonomi terhadap Iran. Kali ini, Washington menyasar sejumlah perusahaan di sektor otomotif, perkeretaapian, manufaktur hingga logam.
Kebijakan terbaru tersebut tidak hanya berdampak pada perusahaan Iran. Salah satu perusahaan mitra dagang Iran asal Indonesia, Golden Motorcycle Company Indonesia, turut masuk dalam daftar entitas yang dikenai sanksi AS.
Departemen Keuangan AS menyebut sektor otomotif dan perkeretaapian Iran menjadi sasaran penting karena memiliki peran besar dalam menopang pendapatan serta kapasitas logistik negara tersebut.
“Karena sektor kereta api dan otomotif mewakili beberapa sumber pendapatan dan kapasitas logistik terbesar yang tersisa dari rezim, tindakan hari ini menyerang langsung arteri kritis yang diandalkan Iran untuk mempertahankan ekonominya dan menghindari sanksi," kata Departemen Keuangan AS dalam sebuah pernyataan, Kamis (1/10/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Perusahaan Otomotif Terbesar Iran Masuk Daftar Sanksi
Dalam paket sanksi terbaru, AS memasukkan SAIPA dan Iran Khodro Company (IKCO), dua produsen mobil terbesar Iran.
Kedua perusahaan tersebut tidak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga mengekspor kendaraan ke sejumlah mitra dagang di kawasan regional.
Secara keseluruhan, terdapat tujuh perusahaan otomotif Iran yang terdampak sanksi terbaru Washington.
Niroo Motor, yang disebut sebagai produsen sepeda motor terbesar di Iran, juga termasuk dalam daftar tersebut.
Sanksi AS turut menyasar jaringan mitra internasional yang berkaitan dengan industri otomotif Iran. Salah satunya adalah Golden Motorcycle Company Indonesia.
Selain perusahaan Indonesia tersebut, Washington juga menargetkan sejumlah perusahaan suku cadang otomotif yang berbasis di Uni Emirat Arab, Turki, dan Hong Kong.
Perusahaan Kereta Api dan Industri Berat Ikut Disasar
Sektor perkeretaapian Iran juga menjadi sasaran dalam kebijakan terbaru AS.
Beberapa perusahaan yang terkena sanksi antara lain Perusahaan Kereta Api Republik Islam Iran (RAI) milik negara, Raja Passenger Trains Company, serta perusahaan pengangkutan barang swasta Sherkat-E Rah Ahan-E Khamle-O-Naghle.
Washington juga memperluas sanksi ke sektor industri berat Iran, termasuk perusahaan baja dan produsen alat berat.
Salah satu yang masuk daftar adalah Perusahaan Produksi Alat Berat (HEPCO). Departemen Keuangan AS menggambarkan HEPCO sebagai salah satu produsen mesin pertambangan dan konstruksi jalan terbesar di Timur Tengah.
Anak perusahaan HEPCO yang berbasis di Shanghai juga turut dikenai sanksi.
Selain itu, sejumlah perusahaan yang berbasis di Uni Emirat Arab dan Jerman juga menjadi sasaran karena dituduh membantu perusahaan baja Iran.
AS Sebelumnya Embargo Maskapai Iran
Sanksi terbaru tersebut menambah panjang tekanan ekonomi Washington terhadap Iran.
Sebelumnya, AS telah memberlakukan embargo terhadap maskapai penerbangan Iran yang mulai berlaku pada 23 September 2026.
Kebijakan tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 21 September 2026. Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent menyatakan bahwa maskapai Iran akan menghadapi pembatasan secara global.
“Pada tanggal 23 September, semua maskapai penerbangan Iran akan ditutup di seluruh dunia," kata Bessent ketika diwawancara stasiun televisi CNBC.
Bessent juga memperingatkan pusat internasional yang masih memberikan layanan kepada pesawat Iran. Menurutnya, pihak yang tetap memberikan dukungan dapat menghadapi konsekuensi terhadap akses ke sistem perbankan Amerika.
"Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh memberi mereka bahan bakar, Anda tidak boleh memberi mereka layanan pendaratan, Anda tidak boleh menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan tersingkir dari sistem dolar," ucapnya.
AS Bidik Perantara Keuangan Iran
Tekanan Washington tidak hanya diarahkan kepada perusahaan yang beroperasi langsung di Iran. AS juga mengincar entitas pihak ketiga yang dinilai membantu transaksi dan aktivitas ekonomi Iran.
Bessent mengatakan pemerintah AS telah mengidentifikasi sejumlah perantara keuangan yang disebut memfasilitasi transaksi Iran.
“Kami telah melihat para penyokong di seluruh dunia. Kami tahu siapa mereka. Mereka tahu siapa mereka, dan kami menghentikannya,” ujarnya.
Bessent mengakui kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan tekanan terhadap perekonomian Iran ketika kedua negara masih terlibat konflik.
Namun, ia belum memastikan berapa lama AS akan mempertahankan kebijakan pengisolasian terhadap maskapai penerbangan Iran.
Sektor penerbangan Iran sendiri telah lama menghadapi sanksi internasional. Pembatasan tersebut berdampak terhadap kemampuan Iran memperoleh pesawat, suku cadang, serta layanan pemeliharaan.
Dengan masuknya perusahaan mitra dari berbagai negara ke dalam daftar sanksi terbaru, kebijakan Washington menunjukkan bahwa dampak pembatasan terhadap Iran juga dapat menjalar ke jaringan perdagangan dan perusahaan internasional yang memiliki hubungan bisnis dengan negara tersebut. (Rep)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda