Breaking News
Memuat breaking news...

BBM E20 Mulai 2027, Pemerintah Bidik E50 untuk Tekan Impor Bensin

Redaksi
Redaksi
Kamis, 8 Oktober 2026 - 8.32 AM WIB
BBM E20 Mulai 2027, Pemerintah Bidik E50 untuk Tekan Impor Bensin
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah menyiapkan perubahan besar pada komposisi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin. Mulai 2027–2028, pemerintah menargetkan penerapan campuran bioetanol 20% atau E20 secara mandatori sebelum secara bertahap meningkatkan penggunaannya menuju E50.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Bahlil mengatakan, pemanfaatan bioetanol dalam bensin akan mengikuti pendekatan yang sebelumnya diterapkan pada biodiesel. Program B50 yang menggunakan minyak sawit sebagai campuran solar dinilai telah menjadi salah satu upaya untuk menekan kebutuhan impor solar CN48.

Kini, pendekatan serupa akan diterapkan pada bensin dengan memanfaatkan potensi bahan baku bioetanol di dalam negeri.

"Kita akan mendorong untuk etanol. Etanol ini arahan Bapak Presiden, di tahun 2027-2028 kita akan bikin mandatory sebesar 20%, dan ke depan kita akan bikin E50," kata Bahlil di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

"Kalau E50 ini mampu kita lakukan, maka impor bensin kita akan bisa kita tekan seminimal mungkin untuk kemudian kita menuju kepada kemandirian energi agar semuanya bisa dari kita," sambungnya.

E20 Jadi Langkah Awal Menuju E50

Bahlil menilai penerapan E20 hingga E50 bukan sekadar perubahan komposisi BBM. Kebijakan tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri dengan mengoptimalkan sumber daya domestik.

Bahan baku bioetanol dapat berasal dari sejumlah komoditas yang tersedia di Indonesia, seperti singkong, jagung dan tebu.

Menurut Bahlil, strategi tersebut akan berjalan bersamaan dengan pengembangan energi berbasis nabati serta optimalisasi produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional.

Bahlil Pernah Dikritik soal E20

Rencana penggunaan etanol sebagai campuran bensin ternyata bukan tanpa tantangan. Bahlil mengaku pernah mendapat kritik ketika pertama kali menyampaikan gagasan mengenai E10 dan E20.

Namun, ia mengatakan Indonesia tidak perlu ragu belajar dari negara-negara yang lebih dahulu mengembangkan bahan bakar berbasis etanol.

"Saya pernah melontarkan E20, E10, pernah diolok-olok waktu itu oleh beberapa pakar dan beberapa teman-teman. Saya katakan kenapa harus kita malu untuk belajar pada Brazil dan Amerika? Brazil itu sudah melakukan E100 di beberapa negara bagian. Amerika juga sudah melakukan E100 di beberapa bagian. China, India, itu sudah mandatory 20%," jelasnya.

Bahlil menilai pengembangan bioetanol juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi daerah karena melibatkan komoditas pertanian dan menciptakan permintaan terhadap bahan baku domestik.

"Kita memanfaatkan nabati kita dengan potensi yang ada di darat, yang kemudian itu mampu melakukan penetrasi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal untuk menciptakan lapangan pekerjaan," ungkapnya.

"Ini kira-kira strategi yang akan kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita. Jadi eksplorasi kita lakukan, kemudian kita mengoptimalkan sumur yang sudah ada, sambil kita akan mendorong untuk di B50 tetap kita pertahankan dan bisa mencapai dengan untuk bensin E20 sampai E50," sambung Bahlil.

Danantara Siapkan Investasi Bioetanol

Rencana pengembangan bioetanol juga mulai masuk dalam radar investasi Danantara. Lembaga pengelola investasi tersebut sebelumnya menyebut sektor bioetanol sebagai salah satu peluang investasi untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan bioetanol menjadi salah satu opsi yang dapat dikembangkan.

"Sebenarnya tadi kita berdiskusi mengenai peran Danantara berkaitan dengan investasi yang kita lakukan. Salah satunya dalam rangka mewujudkan ketahanan energi," ucap Dony dikutip Sabtu (3/10/2026).

Menurut Dony, pengembangan bioetanol akan dilakukan secara bertahap. Pemerintah tidak langsung mengejar tingkat campuran tertinggi, tetapi memulai dari E20.

E20 Dimulai dari Tebu

Dony mengatakan, pengembangan bioetanol juga mengambil pelajaran dari penerapan biodiesel B50 yang menggunakan minyak sawit dan ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.

Untuk bensin, pemerintah kini mulai mengarahkan strategi serupa melalui pemanfaatan etanol sebagai campuran bahan bakar.

"Nah, untuk bensin ini kan beberapa negara sudah menerapkannya, bahkan ada yang sudah E50. Kita juga, dalam rangka menjadikan negara berswasembada energi, mulai memikirkan langkah awal dari E20 terlebih dahulu," tuturnya.

Menurut Dony, salah satu sumber utama bahan baku etanol adalah molase atau produk samping pengolahan tebu. Karena itu, pengembangan E20 juga akan berjalan beriringan dengan penguatan industri dan budidaya tebu nasional.

"Bahan baku etanol ini terutama berasal dari molase atau tebu. Karena itu, ke depannya pemerintah akan menggencarkan proses penanaman tebu yang kita harapkan menjadi bagian dari transisi energi nasional," sambung Dony. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement