Breaking News
Memuat breaking news...

Bendung Blang Kumot Jebol, 300 Hektare Terancam

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 26 September 2026 - 11.27 AM WIB
Bendung Blang Kumot Jebol, 300 Hektare Terancam
Warga mengamati derasnya arus air di kawasan Bendung Blang Kumot, Kecamatan Sakti, Pidie, setelah bendung jebol akibat hujan deras, Jumat (25/9/2026) malam. Foto diambil Sabtu (26/9). Waspada.id/Muhammad Riza
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PIDIE (Waspada.id): Bendung Blang Kumot di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, jebol pada bagian mercu setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut, Jumat (25/9/2026) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Hujan deras menyebabkan debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Tiro meningkat dan arus mengalir deras hingga mengakibatkan bagian mercu bendung mengalami kerusakan.

Akibat kejadian tersebut, sekitar 300 hektare lahan pertanian terancam terdampak, terutama areal pertanian masyarakat di kawasan Blang Kumot Tunong dan Blang Kumot Baroh Lam Ujong, Kecamatan Sakti.

Camat Sakti, Abdul Jafar, S.Pd., M.Pd., membenarkan jebolnya Bendung Blang Kumot tersebut.

“Benar, bendung jebol akibat hujan deras yang terjadi tadi malam,” kata Abdul Jafar, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, pihak kecamatan masih melakukan pemantauan di lapangan untuk melihat kondisi bendung sekaligus mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat kerusakan tersebut.

“Pihak kami masih melakukan pemantauan di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Said Arifin, warga Kecamatan Tiro/Truseb, Kabupaten Pidie, mengatakan peningkatan debit air sungai terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

“Bendung Blang Kumot jebol mercu akibat banjir tadi malam sekitar pukul 23.30 WIB,” kata Said.

Ia menyebutkan, dampak kerusakan bendung dikhawatirkan mengganggu aktivitas pertanian masyarakat. Sekitar 300 hektare lahan pertanian terancam terdampak akibat kerusakan infrastruktur pengairan tersebut.

Kerusakan Bendung Blang Kumot menjadi perhatian karena bendung tersebut berkaitan dengan sistem pengairan lahan pertanian masyarakat. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu aktivitas tanam petani.

Hingga Sabtu (26/9/2026), kondisi dan tingkat kerusakan bendung masih dalam pemantauan di lapangan. Besaran dampak terhadap lahan pertanian juga masih menunggu pendataan lebih lanjut dari pihak terkait. (Id69)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement